413 Orang Tewas Akibat Tsunami
Pusat layanan informasi gempa Mentawai dan tsunami mencatat korban tewas akibat gempa 7,2 skala richter dan tsunami yang melanda Pulau Pagai, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat mencapai 413 orang dan warga yang dilaporkan hilang 298 orang.
Berdasarkan data hingga pukul 3 sore tadi, tercatat jumlah korban luka berat sebanyak 207 orang dan luka ringan 142 orang. Selain itu, jumlah rumah warga yang rusak berat dan yang hilang diseret tsunami sebanyak 517 unit dan yang rusak ringan 204 orang.
Korban luka-luka dirawat di RS darurat di Puskesmas Sikakap dan Gereja GPKM Sikakap. Gempa 7,2 SR diikuti tsunami melanda Kabupaten Kepulauan Mentawai Senin lalu. Gempa juga dirasakan kuat di sejumlah daerah di Sumatra Barat.
Di tempat terpisah, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta melaporkan aktivitas Merapi meningkat yang terindikasi dari luncuran awan panas pada hari ini mencapai delapan kali yang terjadi hingga pukul 19.34 WIB.
Kepala BPPTK Subandriyo mengatakan erupsi pada Selasa lalu yang ditandai dengan awan panas bersifat direct blast tersebut adalah fase awal untuk membuka sumbat di puncak gunung, sehingga kemungkinan terulangnya kejadian erupsi atau letusan gunung api pertama cukup kecil.
Dia memperkirakan awan panas masih akan terjadi setiap hari dan kemungkinan akan berlangsung cukup lama.
"Apabila sumbat di puncak sudah terbuka, maka magma akan keluar dan membentuk kubah lava baru. Namun, sekarang, kami belum bisa memantau kondisi puncak," jelasnya.
Dia menuturkan salah satu hal yang cukup dikhawatirkan apabila pembentukan kubah lava tersebut terjadi dengan laju yang cepat yaitu 100.000 hingga 200.000 meter kubik per hari, yang berpotensi longsor apabila berada dalam posisi yang tidak stabil dan jarak luncur bisa mencapai 6 kilometer-7 kilometer.
Hingga pukul 6 sore tadi, telah terjadi 285 kali guguran, 181 gempa multiphase, 58 kali gempa vulkanik dan tujuh kali awan panas. Adapun, pada Kamis lalu terjadi 222 kali guguran, 123 kali gempa multiphase, 34 kali gempa vulkanik, dua kali gempa tektonik dan tiga kali awan panas.
Kondisi pengungsi
Pantauan dari Sleman menunjukkan pengungsi letusan Gunung Merapi mulai terserang diare dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
"Serangan diare dan infeksi saluran pernapasan atas terhadap para pengungsi ini terjadi hampir di semua barak pengungsian," kata Sri Hastuti Barata, salah satu dokter di Pos Kesehatan Barak Desa Purwobinangun.
Pantauan di barak Desa Umbulharjo, Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan dan Desa Purwobinangun Kecamatan Pakem, selain terkena serangan kedua penyakit itu, pengungsi juga terserang maag dan gatal-gatal.
Sri Hastuti mengatakan diare dan ISPA merupakan penyakit menular, sehingga tidak menutup kemungkinan jumlah penderita penyakit itu semakin bertambah banyak, kalau tidak ada perilaku bersih dari pengungsi.
"Pengungsi yang sudah terserang penyakit diare dan ISPA ini terus kami data, karena petugasnya selalu berganti-ganti maka belum angka pastinya belum diketahui. Yang jelas setiap hari ada pengungsi yang datang ke pos kesehatan karena diare dan ISPA," katanya.
0 komentar:
Post a Comment