Abu Merapi Selimuti Candi borobudur
Erupsi Gunung Merapi yang ditandai keluarnya awan panas dan hujan abu dengan skala tinggi Selasa, (26/10) kemarin mulai menimbulkan masalah. Salah satunya, abu vukanik menutup hampir seluruh bagian dinding Candi Borobudur. Kondisi ini memaksa pengelola menutup sementara kunjungan wisatawan ke atas candi.
Kepala Unit PT Taman Wisata Candi Borobudur, Pujo Suwarno mengatakan saat ini pihaknya sedang melakukan pembersihan seluruh bagian candi yang terutup abu vulkanik setebal 3-4 milimeter. Direncanakan pembersihan memakan waktu selama tiga sampai lima hari ke depan. "Sementara kita tutup kunjungan ke atas candi. Jadi wisatawan hanya bisa menikmati dari pelataran," kata Pujo, kemarin.
Menurutnya, proses pembersihan harus secepat mungkin dilakukan. Mengingat, abu vulkanik yang memiliki kadar asam tinggi berpotensi merusak dinding candi. "Sebelum hujan turun, dan membawa debu meresap ke pori-pori batu sebaiknya segera kita bersihkan," papar Pujo.
Untuk itu, dia mengatakan pihaknya membutuhkan vakum pembersih yang mampu menampung debu dalam skala besar. Jika perlu, jumlah tenaga akan ditambah dari semula yang hanya 50 orang. "Sekarang kita sedang meminta bantuan ke pusat semoga bisa segera terealisasi," harap Pujo.
"Apalagi, sejauh ini, para pekerja hanya mengandalkan alat seadanya seperti sapu lidi dan kuas. Kalau seperti ini tentu butuh waktu yang lebih lama," kata dia. Apakah, hal ini berdampak pada jumlah kunjungan wisatawan ? Pujo belum bisa memastikannya. "Data kunjungan hari ini baru bisa diketahui esok. Tapi semoga saja, tidak berpengaruh terelalu besar," kata dia.
Terpisah, Nur Chasanah, 23, wisatawan asal Boyolali yang kemarin berkunjung ke Candi Borobudur mengaku tidak mempermasalahkan penutupan candi. Toh, katanya, dia bisa menikmati pemandangan dari lantai bawah. "Sebenarnya mau sih naik ke atas candi. Tapi kalau kondisinya seperti ini juga sepertinya tidak memungkinkan," terang perempuan yang dating bersama dengan kedua rekannya ini.
Selain itu, dampak abu vulkanik yang mencapi radius hingga 50 km dari puncak merapi juga mulai mengganggu aktifitas warga. Beberapa jalur utama yang sejak Selasa malam diguyur hujan abu menimbulkan efek debu yang menggangu pandangan. Bahkan, di kawasan Kota Mungkid jarak pandang sempat menipis hingga 10 meter.
"Debu yang mengering, terbawa terbang angin dan ditambah dari kendaraaan bermotor membuat udara tertutup semua. Saya kuatir ," kata Masrukin, 29, warga perumahan Azalia, Mertoyudan Magelang. Untuk menuju lokasi kerjanya, dia mengaku harus berhati-hati dan memperlambat laju kendaraannya. Pasalnya, di beberapa ruas jalan jarak pandang cukup minim. "Biasa saya tempuh setengah jam jadi hampir satu jam."
Debu vulkanik tersebut juga berbahaya bagi kesehatan. Pasalnya, meurut Plt Direktur RSUD Muntilan Sasaongko, debu yang masuk ke saluran nafas berpotensi menimbulkan Infeksi saluran pernafasan. "Debu ini berpotensi menimbulkan iritasi saluran napas, otot saluran menyempit dan sesak nafas mendadak," kata dia.
Untuk itu, dia berharap supaya warga di Kabupaten Magelang menggunakan standar keamanan berupa masker saat keluar rumah. "Atau jika tidak ada kepentingan mending jangan keluar rumah," himbau Sasongko.
Kepala Unit PT Taman Wisata Candi Borobudur, Pujo Suwarno mengatakan saat ini pihaknya sedang melakukan pembersihan seluruh bagian candi yang terutup abu vulkanik setebal 3-4 milimeter. Direncanakan pembersihan memakan waktu selama tiga sampai lima hari ke depan. "Sementara kita tutup kunjungan ke atas candi. Jadi wisatawan hanya bisa menikmati dari pelataran," kata Pujo, kemarin.
Menurutnya, proses pembersihan harus secepat mungkin dilakukan. Mengingat, abu vulkanik yang memiliki kadar asam tinggi berpotensi merusak dinding candi. "Sebelum hujan turun, dan membawa debu meresap ke pori-pori batu sebaiknya segera kita bersihkan," papar Pujo.
Untuk itu, dia mengatakan pihaknya membutuhkan vakum pembersih yang mampu menampung debu dalam skala besar. Jika perlu, jumlah tenaga akan ditambah dari semula yang hanya 50 orang. "Sekarang kita sedang meminta bantuan ke pusat semoga bisa segera terealisasi," harap Pujo.
"Apalagi, sejauh ini, para pekerja hanya mengandalkan alat seadanya seperti sapu lidi dan kuas. Kalau seperti ini tentu butuh waktu yang lebih lama," kata dia. Apakah, hal ini berdampak pada jumlah kunjungan wisatawan ? Pujo belum bisa memastikannya. "Data kunjungan hari ini baru bisa diketahui esok. Tapi semoga saja, tidak berpengaruh terelalu besar," kata dia.
Terpisah, Nur Chasanah, 23, wisatawan asal Boyolali yang kemarin berkunjung ke Candi Borobudur mengaku tidak mempermasalahkan penutupan candi. Toh, katanya, dia bisa menikmati pemandangan dari lantai bawah. "Sebenarnya mau sih naik ke atas candi. Tapi kalau kondisinya seperti ini juga sepertinya tidak memungkinkan," terang perempuan yang dating bersama dengan kedua rekannya ini.
Selain itu, dampak abu vulkanik yang mencapi radius hingga 50 km dari puncak merapi juga mulai mengganggu aktifitas warga. Beberapa jalur utama yang sejak Selasa malam diguyur hujan abu menimbulkan efek debu yang menggangu pandangan. Bahkan, di kawasan Kota Mungkid jarak pandang sempat menipis hingga 10 meter.
"Debu yang mengering, terbawa terbang angin dan ditambah dari kendaraaan bermotor membuat udara tertutup semua. Saya kuatir ," kata Masrukin, 29, warga perumahan Azalia, Mertoyudan Magelang. Untuk menuju lokasi kerjanya, dia mengaku harus berhati-hati dan memperlambat laju kendaraannya. Pasalnya, di beberapa ruas jalan jarak pandang cukup minim. "Biasa saya tempuh setengah jam jadi hampir satu jam."
Debu vulkanik tersebut juga berbahaya bagi kesehatan. Pasalnya, meurut Plt Direktur RSUD Muntilan Sasaongko, debu yang masuk ke saluran nafas berpotensi menimbulkan Infeksi saluran pernafasan. "Debu ini berpotensi menimbulkan iritasi saluran napas, otot saluran menyempit dan sesak nafas mendadak," kata dia.
Untuk itu, dia berharap supaya warga di Kabupaten Magelang menggunakan standar keamanan berupa masker saat keluar rumah. "Atau jika tidak ada kepentingan mending jangan keluar rumah," himbau Sasongko.
0 komentar:
Post a Comment