Diduga 10 Wartawan Tewas Terjebak Wedhus Gembel
Sosok Mbah Maridjan biar bagaimana pun tetap menjadi magnet dalam setiap peristiwa di seputar Merapi. Namun karena ingin terus berada di sekitar Mbah Maridjan pula, 10 wartawan diduga tewas.
Seperti dilaporkan Setya Krisna Sumargo, wartawan Tribunnews.com, grup Surya, di lokasi pengungsian Pakem, meski diliputi ketegangan karena aktivitas Merapi yang meningkat jelas terekam dari sana, rumah Mbah Maridjan tetap dipenuhi wartawan. Mereka ingin merekam aktivitas Mbah Maridjan di rumahnya di Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, pada detik-detik terakhir sebelum Merapi meletus.
Di antara para wartawan itu terdapat Bramasto Adhy, pewarta foto Tribunnews.com yang beberapa hari terakhir berada di kaki Merapi. “Selasa siang sampai sore, dia (Bramasto) masih bisa dikontak. Tapi begitu hujan abu kontak mulai putus-putus, tidak jelas. Sekarang sama sekali tidak bisa dikontak,” kata Krisna, Selasa (26/10) malam.
Informasi terakhir menyebutkan, Bramasto sudah turun ke tempat yang aman di sekitar Kinahrejo bersamaan dengan bunyi sirene tanda letusan. Namun, karena hingga kini belum bisa dihubungi, diduga karena baterai ponselnya habis, tetap saja masih mengkhawatirkan.
Yang juga tidak terdengar kabarnya adalah wartawan VIVAnews.com Yuniawan Nugroho yang diduga terjebak di lokasi dekat rumah Mbah Maridjan. Menurut Agus, asisten Mbah Maridjan, Yuniawan sempat turun ke tempat yang aman, bersama keluarga Mbah Maridjan dan Tutur, aktivis PMI Bantul. “Begitu sirene tanda letusan berbunyi, sempat turun bersama saya, kemudian naik lagi ke atas,” kata Agus.
Kata Agus, mereka naik lagi untuk memaksa Mbah Maridjan turun mengungsi ke tempat aman. Posisi terakhir Mbah Maridjan diketahui berada di masjid yang terletak di sebelah rumahnya. Juru kunci Merapi ini menolak ikut evakuasi dan memilih tirakatan di masjid. Yuniawan akhirnya ditemukan tewas bersama 14 orang lainnya di sekitar rumah Mbah Maridjan, lima jam setelah letusan pertama pukul 17.02 WIB.
Menurut kabar, ketika rombongan keluarga Mbah Maridjan dievakuasi, masih ada 10 wartawan tinggal bersama juru kunci itu. Bila benar-benar tidak turun kemudian, maka besar kemungkinan mereka ikut tewas terpanggang. Meski begitu, hingga semalam, selain VIVAnews.com, belum ada klaim dari perusahaan media lain soal keberadaan wartawannya di rumah yang hangus itu.
Sementara itu, pengungsian besar-besaran juga dilakukan dari sisi timur, yaitu di Klaten dan Boyolali, serta di barat, Magelang. Warga di Desa Sangup, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, panik setelah mendengar ledakan Gunung Merapi yang menyemburkan awan panas, Selasa malam.
Setiyono tokoh masyarakat desa setempat mengatakan, setelah mendengarkan ledakan keras dari puncak Merapi, warga panik kemudian mengungsi di gedung sekolah dasar dan Balai Desa Sumur yang terletak di bawahnya.
Menurut dia, Desa Sangup jaraknya sekitar 10 kilometer dari puncak, tetapi dekat sungai Kali Gandul yang merupakan anak sungai Kali Woro yang rawan erupsi. Pada tahun 2006, kata dia, lahar panas meluncur hingga ke Kali Gandul yang sangat dekat dengan permukiman warga Desa Sungup. Oleh karena itu, kata dia, warga khawatir lahar panas akan kembali mengalir hingga ke Kali Gandul seperti peristiwa tahun 2006.
Selain, warga di Dukuh Sanggar, Beling, Ringin, Sukorejo, Desa Sangup dan Dukuh Banyusri Desa Jemowo diungsikan ke rumah bayan Ngatimo di Dukuh Gendulan maupun Balai Desa Sumur. Jumlah pengungsi Desa Jemowo sekitar 300 jiwa, di Desa Sumur 400 jiwa, dan Desa Karangnyar 200 jiwa,” katanya.
Sementara itu dari Magelang dilaporkan, hingga Selasa pukul 21.15 WIB, sedikitnya 30 warga dilarikan ke RSUD Magelang untuk menjalani perawatan akibat sesak napas. Puluhan pasien membanjiri RSUD Magelang yang berada di Kecamatan Muntilan itu sesaat setelah terjadi hujan debu akibat letusan gunung Merapi. “Saat ini ada 30 orang yang dirawat di sini dengan keluhan sesak napas akibat menghirup debu,” kata Direktur RSUD Magelang dr Sasongko.
Hingga semalam, dilaporkan dua korban tewas setelah letusan Merapi kemarin. Ilham Azaki (3 bulan) meninggal beberapa saat setelah hujan abu yang cukup lebat melanda Dusun Gejangan, Desa Ngargosuko, Kecamatan Srumbung, Magelang, Jawa Tengah. Dokter menduga, anak pasangan Rukilah dan Sriyanto meninggal akibat gangguan pada fungsi pernapasan.
Korban tewas lain adalah, seorang bocah berusia dua tahun yang berasal dari Kaliadem Cangkringan Sleman. Korban mengalami luka bakar akibat sergapan awan panas, karena terlambat dievakuasi.
Terhalang awan panas
Anggo tim penolong dari Korem 072/Pamungkas, Letkol Beni Nugroho di Posko Utama Penanggulangan Bencana Alam Gunung Merapi di Pakem, Kabupaten Sleman. Ia mengatakan upaya evakuasi oleh tim penolong baru bisa mencapai wilayah paling tinggi yaitu di kawasan pintu gerbang objek wisata Kaliurang atau 10 kilometer dari puncak Gunung Merapi, sehingga untuk KRB III belum dapat ditembus oleh petugas tim penolong.
“Saat ini kami tengah mengupayakan lampu penerangan maupun lampu sorot karena listrik PLN di kawasan tersebut padam sehingga kondisinya gelap gulita,” katanya. Menurut dia kemungkinan upaya evakuasi terhadap korban lainnya yang ada di KRB III akan dilakukan jika hujan abu vulkanik mereda.
Seperti dilaporkan Setya Krisna Sumargo, wartawan Tribunnews.com, grup Surya, di lokasi pengungsian Pakem, meski diliputi ketegangan karena aktivitas Merapi yang meningkat jelas terekam dari sana, rumah Mbah Maridjan tetap dipenuhi wartawan. Mereka ingin merekam aktivitas Mbah Maridjan di rumahnya di Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, pada detik-detik terakhir sebelum Merapi meletus.
Di antara para wartawan itu terdapat Bramasto Adhy, pewarta foto Tribunnews.com yang beberapa hari terakhir berada di kaki Merapi. “Selasa siang sampai sore, dia (Bramasto) masih bisa dikontak. Tapi begitu hujan abu kontak mulai putus-putus, tidak jelas. Sekarang sama sekali tidak bisa dikontak,” kata Krisna, Selasa (26/10) malam.
Informasi terakhir menyebutkan, Bramasto sudah turun ke tempat yang aman di sekitar Kinahrejo bersamaan dengan bunyi sirene tanda letusan. Namun, karena hingga kini belum bisa dihubungi, diduga karena baterai ponselnya habis, tetap saja masih mengkhawatirkan.
Yang juga tidak terdengar kabarnya adalah wartawan VIVAnews.com Yuniawan Nugroho yang diduga terjebak di lokasi dekat rumah Mbah Maridjan. Menurut Agus, asisten Mbah Maridjan, Yuniawan sempat turun ke tempat yang aman, bersama keluarga Mbah Maridjan dan Tutur, aktivis PMI Bantul. “Begitu sirene tanda letusan berbunyi, sempat turun bersama saya, kemudian naik lagi ke atas,” kata Agus.
Kata Agus, mereka naik lagi untuk memaksa Mbah Maridjan turun mengungsi ke tempat aman. Posisi terakhir Mbah Maridjan diketahui berada di masjid yang terletak di sebelah rumahnya. Juru kunci Merapi ini menolak ikut evakuasi dan memilih tirakatan di masjid. Yuniawan akhirnya ditemukan tewas bersama 14 orang lainnya di sekitar rumah Mbah Maridjan, lima jam setelah letusan pertama pukul 17.02 WIB.
Menurut kabar, ketika rombongan keluarga Mbah Maridjan dievakuasi, masih ada 10 wartawan tinggal bersama juru kunci itu. Bila benar-benar tidak turun kemudian, maka besar kemungkinan mereka ikut tewas terpanggang. Meski begitu, hingga semalam, selain VIVAnews.com, belum ada klaim dari perusahaan media lain soal keberadaan wartawannya di rumah yang hangus itu.
Sementara itu, pengungsian besar-besaran juga dilakukan dari sisi timur, yaitu di Klaten dan Boyolali, serta di barat, Magelang. Warga di Desa Sangup, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, panik setelah mendengar ledakan Gunung Merapi yang menyemburkan awan panas, Selasa malam.
Setiyono tokoh masyarakat desa setempat mengatakan, setelah mendengarkan ledakan keras dari puncak Merapi, warga panik kemudian mengungsi di gedung sekolah dasar dan Balai Desa Sumur yang terletak di bawahnya.
Menurut dia, Desa Sangup jaraknya sekitar 10 kilometer dari puncak, tetapi dekat sungai Kali Gandul yang merupakan anak sungai Kali Woro yang rawan erupsi. Pada tahun 2006, kata dia, lahar panas meluncur hingga ke Kali Gandul yang sangat dekat dengan permukiman warga Desa Sungup. Oleh karena itu, kata dia, warga khawatir lahar panas akan kembali mengalir hingga ke Kali Gandul seperti peristiwa tahun 2006.
Selain, warga di Dukuh Sanggar, Beling, Ringin, Sukorejo, Desa Sangup dan Dukuh Banyusri Desa Jemowo diungsikan ke rumah bayan Ngatimo di Dukuh Gendulan maupun Balai Desa Sumur. Jumlah pengungsi Desa Jemowo sekitar 300 jiwa, di Desa Sumur 400 jiwa, dan Desa Karangnyar 200 jiwa,” katanya.
Sementara itu dari Magelang dilaporkan, hingga Selasa pukul 21.15 WIB, sedikitnya 30 warga dilarikan ke RSUD Magelang untuk menjalani perawatan akibat sesak napas. Puluhan pasien membanjiri RSUD Magelang yang berada di Kecamatan Muntilan itu sesaat setelah terjadi hujan debu akibat letusan gunung Merapi. “Saat ini ada 30 orang yang dirawat di sini dengan keluhan sesak napas akibat menghirup debu,” kata Direktur RSUD Magelang dr Sasongko.
Hingga semalam, dilaporkan dua korban tewas setelah letusan Merapi kemarin. Ilham Azaki (3 bulan) meninggal beberapa saat setelah hujan abu yang cukup lebat melanda Dusun Gejangan, Desa Ngargosuko, Kecamatan Srumbung, Magelang, Jawa Tengah. Dokter menduga, anak pasangan Rukilah dan Sriyanto meninggal akibat gangguan pada fungsi pernapasan.
Korban tewas lain adalah, seorang bocah berusia dua tahun yang berasal dari Kaliadem Cangkringan Sleman. Korban mengalami luka bakar akibat sergapan awan panas, karena terlambat dievakuasi.
Terhalang awan panas
Anggo tim penolong dari Korem 072/Pamungkas, Letkol Beni Nugroho di Posko Utama Penanggulangan Bencana Alam Gunung Merapi di Pakem, Kabupaten Sleman. Ia mengatakan upaya evakuasi oleh tim penolong baru bisa mencapai wilayah paling tinggi yaitu di kawasan pintu gerbang objek wisata Kaliurang atau 10 kilometer dari puncak Gunung Merapi, sehingga untuk KRB III belum dapat ditembus oleh petugas tim penolong.
“Saat ini kami tengah mengupayakan lampu penerangan maupun lampu sorot karena listrik PLN di kawasan tersebut padam sehingga kondisinya gelap gulita,” katanya. Menurut dia kemungkinan upaya evakuasi terhadap korban lainnya yang ada di KRB III akan dilakukan jika hujan abu vulkanik mereda.
0 komentar:
Post a Comment