Juru Kunci Merapi Itu Meninggal Dengan Bersujud
Juru Kunci Gunung Merapi asal dukuh Kinahrejo, Sleman Mbah Marijan Meninggal. Ia ditemukan Tim Sar dalam keadaan sudah meninggal di kamarnya sendirian. Ada yang menyebut almarhum dalam posisi bersujud. Namun sejauh ini belum ada konfirmasi dari saksi tim sar yang menemukannya pertama kali.
Tim sar juga menemukan 9 jenasah lainnya di rumah dan tidak jauh dari rumah Mbah Marijan. Belum diketahui akan dimakamkan dimana almarhum Mbah Marijan, namun untuk sementara jenasahnya berada di RS Dr Sarjito bersama jenasah korban lainnya.
Kondisi desa dimana Mbah Marijan tinggal sudah tidak berbentuk, hanya menyisakan gambaran kedahsyatan wedhus gembel atau awan panas yang menghanguskan seluruh benda yang dilaluinya disertai taburan debu vulkanik yang cukup tebal.
Kepala Humas dan Hukum RS Dr Sardjito Yogyakarta Heru Trisna Nugraha, Rabu, mengatakan, saat ini jenazah lelaki mirip Mbah Maridjan tersebut masih berada di Bagian Kedokteran Forensik RS Dr Sardjito, Yogyalarta.
"Jenazah tersebut dibawa oleh anggota Tim SAR dan masuk ke RS Dr Sardjito sekitar pukul 06.15 WIB. Informasi yang kami peroleh dari petugas SAR yang mengantar saat ditemukan Mbah Maridjan dalam kondisi memakai baju batik dan kain sarung.
Sebelumnya, kabar mengenai Mbah Maridjan simpang siur. Sempat diberitakan, juru kunci Merapi itu ditemukan selamat dalam kondisi lemas. Saat terjadi sapuan awan panas itu, Mbah Maridjan sedang shalat di masjid yang berjarak 100 meter dari rumahnya. Tapi, dia menolak untuk dievakuasi dan tetap ingin berada di masjid.
Jumlah korban tewas di sekitar kediaman Mbah Maridjan akibat letusan gunung teraktif di Indonesia hingga Rabu pagi tercatat16 orang.
Anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Komandan Angkatan Laut Kolonel Pramono mengatakan tim ini saat menuju rumah Mbah Maridjan untuk melakukan evakuasi menemukan sebanyak 12 mayat, belum termasuk mayat yang ditemukan di rumah Mbah Maridjan sebanyak empat orang.
Ia mengatakan tim yang beranggotakan 38 orang ini melakukan evakuasi bersama dengan tim lain namun hanya timnya yang berhasil mencapai puncak karena menggunakan truk meskipun harus menghadapi halangan pohon tumbang di jalan menuju rumah Mbah Maridjan.
Tim sar juga menemukan 9 jenasah lainnya di rumah dan tidak jauh dari rumah Mbah Marijan. Belum diketahui akan dimakamkan dimana almarhum Mbah Marijan, namun untuk sementara jenasahnya berada di RS Dr Sarjito bersama jenasah korban lainnya.
Kondisi desa dimana Mbah Marijan tinggal sudah tidak berbentuk, hanya menyisakan gambaran kedahsyatan wedhus gembel atau awan panas yang menghanguskan seluruh benda yang dilaluinya disertai taburan debu vulkanik yang cukup tebal.
Kepala Humas dan Hukum RS Dr Sardjito Yogyakarta Heru Trisna Nugraha, Rabu, mengatakan, saat ini jenazah lelaki mirip Mbah Maridjan tersebut masih berada di Bagian Kedokteran Forensik RS Dr Sardjito, Yogyalarta.
"Jenazah tersebut dibawa oleh anggota Tim SAR dan masuk ke RS Dr Sardjito sekitar pukul 06.15 WIB. Informasi yang kami peroleh dari petugas SAR yang mengantar saat ditemukan Mbah Maridjan dalam kondisi memakai baju batik dan kain sarung.
Sebelumnya, kabar mengenai Mbah Maridjan simpang siur. Sempat diberitakan, juru kunci Merapi itu ditemukan selamat dalam kondisi lemas. Saat terjadi sapuan awan panas itu, Mbah Maridjan sedang shalat di masjid yang berjarak 100 meter dari rumahnya. Tapi, dia menolak untuk dievakuasi dan tetap ingin berada di masjid.
Jumlah korban tewas di sekitar kediaman Mbah Maridjan akibat letusan gunung teraktif di Indonesia hingga Rabu pagi tercatat16 orang.
Anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Komandan Angkatan Laut Kolonel Pramono mengatakan tim ini saat menuju rumah Mbah Maridjan untuk melakukan evakuasi menemukan sebanyak 12 mayat, belum termasuk mayat yang ditemukan di rumah Mbah Maridjan sebanyak empat orang.
Ia mengatakan tim yang beranggotakan 38 orang ini melakukan evakuasi bersama dengan tim lain namun hanya timnya yang berhasil mencapai puncak karena menggunakan truk meskipun harus menghadapi halangan pohon tumbang di jalan menuju rumah Mbah Maridjan.
0 komentar:
Post a Comment