Mbah Maridjan Diduga Meninggal

pagi ini posisi Mbah Maridjan juru kunci gunung Merapi belum ditemukan. Padahal rumah kediaman Mbah Maridjan di Kinah Rejo yang berjarak hanya 2 kilometer dari puncak sudah hancur luluh lantak diterjang awan panas wedhus gembel Selasa malam.

Bahkan di depan rumah Mbah Maridjan itu ditemukan 4 jenazah yang satu diantaranya adalan relawan PMI Sleman bernama Tutus Priyono. Di lain tempat tak jauh dari lokasi itu juga ditemukan 10 jenazah dalam kondisi mengenaskan terkena sapuan awan panas. Keempatbelas jenazah itu kini masih disemayamkan di RS Sardjito Yogyakarta.

Di mana Mbah Maridjan (83) sang juru kunci yang terkenal itu berada? Padahal kabar semula beredar Mbah Maridjan meninggal bersama seorang wartawan Vivanews bernama Yuniawan Wahyu Nugroho.

Kemudian muncul kabar Mbah Maridjan ditemukan masih hidup dalam kondisi lemah. Saat terjadi sapuan awan panas itu, Mbah Maridjan sedang shalat di masjid yang berjarak 100 meter dari rumahnya.

Masjidnya rusak dan rumahnya Mbah Maridjan rusak parah. Wakapolda DIY, Kombes Tjiptono baru memastikan identitas korban wartawan Vivanews yang meninggal. Sedangkan keberadaan Mbah Maridjan, belum diketahui.

Rabu (27/10/2010) pagi ini pencarian dan evakuasi korban akan dilanjutkan setelah tadi malam dihentikan karena cuaca buruk dan hujan abu sangat tebal sehingga menyulitkan.

Kunto, salah satu anggota tim evakuasi, kepada Tribunnews.com, mengatakan, kondisi Mbah Maridjan dan keluarga terlihat lemas. "Mbah Maridjan selamat. Dia sedang shalat di masjid saat ditemukan," kata Kunto, Selasa (26/10/2010) malam.

Saat ditemukan, tim evakuasi yang berjumlah 60 personel, terdiri dari unsur TNI, Polri, warga, berusaha membawa Mbah Maridjan dan keluarganya turun ke lokasi yang aman. Namun, Mbah Maridjan dan keluarganya menolak turun dan memilih untuk tetap tinggal di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, yang hanya berjarak 2 kilometer dari puncak Merapi.

"Mereka (Mbah Maridjan) ngotot tinggal di masjid dekat rumahnya," kata Kunto.

Dilaporkan, saat itu sejumlah personel tim evakuasi masih mendampingi Mbah Maridjan dan keluarganya di masjid dekat rumah Mbah Maridjan yang kini habis terbakar awan panas. Masjid berkeramik warna coklat muda itu turut rusak oleh sapuan awan panas wedhus gembel.

Padahal Selasa pukul 17.58 yaitu beberapa menit sebelum awan panas mencapai desa Kina Rejdo, Mbah Maridjan masih berkelakar dengan khas.

Dia hanya menyebut Merapi batuk batuk seperti biasa. Dia juga tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi dan menampik untuk menjawab pertanyaan terkait hal itu. Mbah Maridjan mengibaratkan seperti orang hubungan suami istri yang tentu saja harus ditutupi. Begitu juga gunung Merapi saat ini ditutupi awan dan kabut.

Merapi hanya batuk saja seperti tahun 2006. Mbah Maridjan keukeuh untuk tinggal di Kinah Redjo dan tidak mau diajak turun gunung. Dia rendah diri dan tidak menyombongkan diri walau orang sering menganggapnya sebagai orang yang linuwih.

0 komentar:

Post a Comment