Ramalan 2011, Hati-hati Bencana Masih Mengancam.

Yang namanya ramalan kadang bisa benar kdang juga bisa salah 100%. Namanya juga tebakan. Kalo ada seseorang yang mampu meramal dengan tepat tentang kejadian masa depan, itu hanya kebetulan belaka.

Jika ada seseorang yang mengaku-aku mampu menerka kejadian masa depan tentu saja dia sedang membual. Ada banyak ramalan di muka bumi ini, ada yang ngalor dan ada pula yang ngidul. banyak yang salah dan ada pula yang kebetulan betul. Seperti copasan tentang ramalan masa depan yang saya copas dari blog teman. Tapi inget, tidak perlu dimasukkan kehati, buat nambah pengetahuan saja.
Kiai Cupu Panjala yang berbentuk tiga buah guci ukuran kepalan tangan manusia dewasa meliputi Semar Kinandu, Palang Kinantang dan yang paling kecil Kentiwiri. Ketiga cupu dimasukkan ke dalam kotak kayu, dan kemudian dibungkus dengan kain kafan.
Cupu yang dibuka setahun sekali pada musim tanam itu, konon dipercaya sejumlah pihak berisi ramalan kejadian alam, baik pertanian, kriminalitas, hukum, politik, maupun peristiwa alam, termasuk musibah dan bencana. Berbagai goresan atau noda yang tertempel pada kain kafan, dipercaya menjadi ramalan kejadian tahun mendatang.
Meskipun semuanya hanya noda pada kain kafan yang membentuk gambar, tetapi karena selalu jadi menyataan, maka tidak mengherankan pembukaan Kyai Cupu Panjolo selalu dibanjiri pengunjung, sejak sore hingga pagi hari, bukan hanya warga biasa tetapi pejabat, selain ingin melihat keadaan keadaan tahun mendatang sekaligus ngalap berkah.
Konon jamuan makan itu sebagai wujud ”berkah” dari orang-orang yang terkabul permintaannya. Jadi, soal makan dan minum tidak masalah, karena cukup banyak orang yang ”selamatan” setelah doanya terkabul.
”Kaleresan wedal menika ingkang kabul pinyuwune wonten 89 tiyang (Kebetulan hari ini yang terkabul permintaannya ada 89 orang),” kata Dwijo Sumarto. ”Lha dhaharan niku wau saking tiyang-tiyang meniko (Lha makanan itu semua dari orang-orang itu),” tambahnya.
Pembukaan kain kafan pembungkus dilaksanakan di rumah ahli waris Kiai Cupu Panjala, Dwijo Sumarto Dusun Mendak Desa Girisekar Kecamatan Panggang, disaksikan ribuan peziarah yang datang dari berbagai wilayah DIY, Jateng, Jatim bahkan DKI dan Jabar.
Dengan dipimpin abdi keraton Jogja, ratusan kain kafan pembungkus cupu, satu persatu dibuka dan hasil temuan yang ada dalam kain kafan, diumumkan pada peziarah melalui pengeras suara.
di tahun 2006 ditemukan adanya kain yang sangat kotor, menandakan bencana alam atau berbagai musibah tampaknya tidak terelakkan lagi. Hal ini dengan. Lokasi bencana diperkirakan bagian timur, karena pada kain itu ditemukan tanah merah di sisi timur termasuk titik‑titik hitam. hal ini terbukti dengan terjadinya Gempa Bantul yg menewaskan ribuan orang.
Pecinta spiritual Sabda Langit, mengatakan dengan melihat gambaran yang ada di lembaran kain pembungkus Cupu Kiai Panjala, pada 2011 mendatang akan banyak bencana dan kejutan di Tanah Air.
"Melihat beberapa gambaran yang ada, dan banyak yang saling bertolak belakang. Saya yakin 2011 mendatang akan banyak kejutan terjadi. Inisedikit berbeda dibandingkan dengan kondisi yang ada saat ini," katanya.
Sabda enggan menyebutkan secara rinci mengenai gambaran yang ada dengan kondisi Gunung Merapi yang saat ini sedang mengalami peningkatan. Namun dia tidak menampik hubungan guratan yang ada dengan kemungkinan yang akan terjadi saat Merapi meletus.
"Guratan yang ada menunjukkan fenomena yang lebih banyak terbalik. Va memang ada yang mengarah, dan membaca gambaran itu tidak bisa sepotong-sepotong," pungkasnya
Pertikaian
Pada pembukaan Cupu, masyarakat dikagetkan munculnya bercak darah, gambar pistol maupun senjata laras panjang, serta gambar seorang tentara. masyarakat menafsirkan, gambar tersebut merupakan prediksi masih banyaknya pertumpahan darah yang melibatkan aparat di Indonesia.
Peningkatan aktivitas Gunung Merapi, yang dikhawatirkan akan segera mencapai puncaknya, juga tergambar dari ditemukannya pasir pada salah satu lembar kain. Pasir ditemukan pada kainyang mengarah Barat Laut dari lokasi, atau letaknya mengarah ke Gunung Merapi di perbatasan Yogyakarta-Jawa Tengah. "Ini pasir ngalor ngulon [barat laut] mengarah Merapi yang akhir-akhir ini aktivitasnya meningkat," kata Heri, seorang pengunjung dari Wonosari.
Terkait kondisi kamtibmas, untuk setahun ke depan juga diprediksi masih akan terus terjadi gonjang-ganjing. Hal itu tergambar dari munculnya gambar tokoh wayang Doma, yang selama ini dikenal sebagai tokoh provokator nan licik.
Namun prediksi bakal terjadi gonjang-ganjing ini sedikit terobati dengan munculnya gambar tokoh Semar yang dikenal sebagai tokoh penentram masyarakat.
Lebih lanjut, menafsirkan sejumlah tanda itu. Sabda Langit menandaskan bakal banyak kejutan yang terjadi pada tahun mendatang, mulai dari kemungkinan lengsernya pemerintahan Presiden SBY, hingga kesadaran sejumlah pihak mengenai hakikat kehidupan dan masyarakat.
"Perlu diingat dalam setahun ke depan tetap akan ada banyak bencana. Dari gambaran yang ada, hal itu jelas terlihat," tandasnya.
Sabda mengungkapkan, bakallahir pemimpin baru yang memiliki unsur spiritual, nampak dari gambaran bintang dan segitiga yang terlihat dari cupu. Kemungkinan pemimpin baru bakal lahir dari utara dan timur serta mendapatkan restu leluhur.
"Dia adalah keturunan Mataram, Majapahit dan Kutai. Dia akan lahir dari utara dan timur," pungkas dia.
Salah satu kerabat Keraton Jogja, KRT Rinta Iswara, mengatakan meski masih berupa sanepan atau pralambang, gambar-gambar pada kain kafan penutup Cupu Kiai Panjala patut dicermati.
Menurut dia meski jika dilihat dari kaca mata ilmiah hal itu terlihat sangat irasional, ramal-an-ramalan itu kerap terbukti kebenarannya.
Bagi masyarakat yang percaya, imbuhnya, ramalan Cupu Kiai Banjala bisa menjadi pepeling atau upaya antisipasi terhadap berbagai persoalan yang sewaktu-waktu bisa terjadi, seperti bencana atau kekerasan, pertikaian dan tindak kriminal yang semakin marak terjadi.
"Yang jelas ramalan Cupu Kiai Panjala ini bisa menjadi pepeling bagi kita semua agar selalu waspada terhadap bencana, serta peristiwa lain," tegas Rinta
Cupu Panjala yang dikeramatkan kembali dibuka Selasa (19/10) dini hari tadi. Ada 55 catatan penting tanda yang terbaca oleh juru kunci, di antaranya bercak darah, angka, gambar Semar dan Druna serta pasir.
Pengunjung dari berbagai daerah berdatangan untuk memadati rumah ahli waris Dwijo Sumarto Dusun Mendak Desa Girisekar Kecamatan Panggang Gunungkidul untuk menyaksikan langsung.
Selama ini ritual ini dipercaya bisa meramal berbagai peristiwa penting yang terjadi dalam setahun yang akan datang.
Cupu Panjala adalah tiga buah guci kecil yang berukuran sekepal tangan orang dewasa yang diletakkan dalam kotak kayu tertutup yang dibungkus sekitar 400 lembar kain kafan.
Cupu paling besar bernama Semar Kinando, yang agak kecil Kalang Kinantar sedang yang paling kecil Kenthiwiri. Ketiga cupu itu diperkirakan berumur 600 tahun.
Setiap setahun sekali tepatnya malam Selasa Kliwon bulan Dulkaidah atau mongso kalimo Cupu tersebut dibuka.
Berdasarkan gambar yang muncul pada pembukaan tahun ini, pengunjung memperdiksikan akan tetap terjadi pertumpahan darah yang melibatkan aparat seperti yang hangat di pemberitaan media akhir-akhir ini.
Hal ini dengan banyak munculnya bercak darah kering dan gambar pistol maupun senapan laras panjang serta seorang tentara.
Isu yang menghangat seperti Gunung Merapi yang mulai mengalami peningkatan aktivitas juga disinggung oleh pengunjung. Karena ditemukan pasir yang mengarah Barat Laut dari lokasi atau letaknya mengarah ke Gunung Merapi yang ada di peratasan Jogja-Jawa Tengah.
Tidak seperti pembukaan cupu biasanya, pengunjung yang datang tidak terlalu banyak seperti tahun-tahun sebelumnya. Kemungkinan karena tidak ada peristiwa politik seperti Pilkada, legislatif maupun pemilihan presiden sehingga peziarah tidak banyak yang antusias.

0 komentar:

Post a Comment