Rapat TNI Kacau Balau Alibat Letusan Merapi
Yogyakarta: Letusan Gunung yang terjadi 10.10, Senin (01/11) mengejutkan jajaran TNI Angkatan Darat. Berdasarkan pengamatan Tempo dari Posko Utama Pakem, Yogyakarta, wedhus gembel (awan panas) yang muncul mencapai ketingian 1 kilometer. Sedangkan arah awan panas yang meluncur ke bawah cenderung mengarah ke selatan yaitu Kali Gendol dan Kali Bebeng.
Saat itu, jajaran TNI Angkatan Darat yang dipimpin Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI George Toisutta, berada di Posko Induk, di Pakem, Yogyakarta.
Di posko pengungsian yang jaraknya kurang lebih 15 km dari puncak gunung, George Toisutta sedang memberikan arahan kepada para bawahannya. Namun, tiba-tiba, gunung Merapi meletus lagi.
Kontan, letusan itu membuat pertemuan George dengan jajarannya langsung bubar. George dan para bawahannya langsung keluar dan melongok puncak Merapi yang mengeluarkan awan hitam pekat itu.
Awan panas yang muncul setelah ledakan itu membentuk cendawan yang membumbung tinggi. Masyarkat lereng Merapi yang menyaksikan fenomena itu berlarian karena panik. Bahkan pertemuan yang digelar Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI George Toisutta di Posko Utama Pakem langsung bubar.
“Wedus Gembel terlihat sangat jelas. Warga sangat panik. Bahkan paparan kami tentang bencana belum selesai sudah bubar,” kata Kepala Komando Resor Militer Daerah Istimewa Yogyakarta Langgeng Sulistiono.
Menurut Langgeng, saat ini banyak warga yang sudah kembali ke rumah mereka untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Padahal mereka tinggal di kawasan rawan bencana. Karena itu letusan hari ini membuat tim evakuasi bergerak cepat untuk mengevakuasi mereka. “Setiap pagi banyak warga yang kembali ke dusunnya untuk mengecek rumah. Kami instruksikan semua harus dievakuasi,” kata dia.
Warga di sepanjang jalan Kaliurang berbondong-bondong memacu kendaraan menuju ke Kota Yogyakarta. Hinga berita ini dilaporkan, awan panas masih terus menyembur dari puncak Merapi. Arah angin saat ini ke utara membawa asap solfatara ke Boyolali.
Kepala Badan Geologi R. Sukhyar mengatakan satus Merapi masih awas. Karena itu radius 10 kilometer dari puncak Merapi tetap harus dikosongkan. Tidak ada untuk membantah. Sebab sudah menjadi pelajaran pada 26 Oktober lalu awan panas menerjang Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, dan Sleman sehingga menewaskan 33 orang. “Masih ada tekanan magma dari dalam. Ada gempa low frequence yang masih terjadi,” kata dia,
Saat itu, jajaran TNI Angkatan Darat yang dipimpin Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI George Toisutta, berada di Posko Induk, di Pakem, Yogyakarta.
Di posko pengungsian yang jaraknya kurang lebih 15 km dari puncak gunung, George Toisutta sedang memberikan arahan kepada para bawahannya. Namun, tiba-tiba, gunung Merapi meletus lagi.
Kontan, letusan itu membuat pertemuan George dengan jajarannya langsung bubar. George dan para bawahannya langsung keluar dan melongok puncak Merapi yang mengeluarkan awan hitam pekat itu.
Awan panas yang muncul setelah ledakan itu membentuk cendawan yang membumbung tinggi. Masyarkat lereng Merapi yang menyaksikan fenomena itu berlarian karena panik. Bahkan pertemuan yang digelar Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI George Toisutta di Posko Utama Pakem langsung bubar.
“Wedus Gembel terlihat sangat jelas. Warga sangat panik. Bahkan paparan kami tentang bencana belum selesai sudah bubar,” kata Kepala Komando Resor Militer Daerah Istimewa Yogyakarta Langgeng Sulistiono.
Menurut Langgeng, saat ini banyak warga yang sudah kembali ke rumah mereka untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Padahal mereka tinggal di kawasan rawan bencana. Karena itu letusan hari ini membuat tim evakuasi bergerak cepat untuk mengevakuasi mereka. “Setiap pagi banyak warga yang kembali ke dusunnya untuk mengecek rumah. Kami instruksikan semua harus dievakuasi,” kata dia.
Warga di sepanjang jalan Kaliurang berbondong-bondong memacu kendaraan menuju ke Kota Yogyakarta. Hinga berita ini dilaporkan, awan panas masih terus menyembur dari puncak Merapi. Arah angin saat ini ke utara membawa asap solfatara ke Boyolali.
Kepala Badan Geologi R. Sukhyar mengatakan satus Merapi masih awas. Karena itu radius 10 kilometer dari puncak Merapi tetap harus dikosongkan. Tidak ada untuk membantah. Sebab sudah menjadi pelajaran pada 26 Oktober lalu awan panas menerjang Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, dan Sleman sehingga menewaskan 33 orang. “Masih ada tekanan magma dari dalam. Ada gempa low frequence yang masih terjadi,” kata dia,
0 komentar:
Post a Comment