Soempah Pemoeda Di Era Digital

Bagaimanakah Pemoeda sekarang memperimgati Hari Soempah Pemuda, tiga elemen mahasiswa berunjuk rasa pada peringatan Hari Sumpah Pemuda di Bandung, Kamis (28/10). Untuk meramaikan aksi, dua kelompok di antaranya melakukan aksi bakar-bakar.
Dalam aksinya, mereka juga mengusung tema yang mengritisi jalannya pemerintahan SBY-Boediono yang dianggap belum sesuai harapan. Ketiga elemen tersebut yakni GMNI, HMÌdan PMII. Mereka masing-masing menggelar aksinya sendiri-sendiri di depan Gedung Sate.
Tema Sumpah Pemuda yang diusung barisan pengunjuk rasa HMI diwarnai aksi bakar ban bekas. Api lantas membumbung bersama asap hitam pekan ke udara. Kobaran warna merah itu ditingkahi pula yel-yel pengunjuk rasa.
"Sumpah Pemuda telah diperingati melalui upacara-upacara dengan pidato yang kosong, dan terlepas dari jiwa sejarah revolusioner yang melahirkannya," demikian pernyataan sikap HMI.
Tapi tak jauh dari lokasi tersebut, rombongan GMNI yang sebagian kepala pesertanya tertutup kantong plastik hitam juga menggelar aksi bakar kemenyan dalam bagian acara unjuk rasanya. Jadilah semerbak khas itu menyebar.
Sementara, PMII yang datang belakangan langsung meneriakan yel-yel revolusi. Mereka mencap rezim SBY-Boediono telah gagal karena soal menyejahterakan rakyat. Lepas tengah hari, aksi itu kemudian bubar.
Kepolisian Resort Kota Besar Bandung mengawasi jalannya kegiatan unjuk rasa itu dengan membariskan personil menjaga pintu gerbang gedung. Mereka juga membawa dua ekor anjing yang tergabung dalam K-9 Squad guna memperkuat pengamanan.
Sementara itoe Memperingati hari Sumpah Pemuda, sejumlah elemen mahasiswa di Makassar melakukan aksi unjuk rasa di sejumlah tempat termasuk di depan kampus mereka masing-masing, Kamis (28/10/2010).

Saat ini Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia UNM Makassar menggelar aksi di Flyover Urip Sumoharjo Makassar. Mereka membagi-bagikan bunga kertas pada pengguna jalan.

Aksi dikawal oleh pihak polisi dan polwan. Arus jalan di kawasan tersebut masih damai.
Ratusan mahasiswa dan polisi di Palu, Provinsi Sulawesi Tengah, terlibat baku lempar batu saat unjuk rasa memperingati Sumpah Pemuda, Kamis (28/10). Sejumlah lampu-lampu teras dan taman gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi pecah terkena lemparan batu.
Bentrokan terjadi saat para pengunjuk rasa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Palu mulai memecahkan, lampu-lampu eternit teras Dewan Perwakilan Rakyat Daerah setempat. Melihat itu, polisi mengejar para pengunjuk rasa. Polisi menangkap para mahasiswa yang sudah mulai beringas. Polisi juga memukuli mahasiswa tersebut.

Melihat termannya dipukuli, para pengunjuk rasa membalas dengan lemparan batu. Mereka menyerang polisi dengan lemparan batu sehingga beberapa polisi terkena lemparan, beruntung tak sampai menimbulkan luka.
Bentrok yang berlangsung beberapa menit itu mengakibatkan sejumlah mahasiswa memar akibat terkena pukulan dan tendangan. Taufik, mahasiswa STAIN Datokarama, mengaku, dipukul beberapa kali di bagian kepala. "Saya hanya melakukan demo, kenapa harus dipukuli," katanya kesal.

Sementara itu, Brigadir Satu Firdhy mengalami salah urat akibat terjatuh dan terinjak-injak peserta aksi saat melakukan pengamanan. Dia lalu cepat diselamatkan, dengan mendatangkan mobil ambulans untuk diangkut ke rumah sakit.

Fotografer Harian Media Alkhairaat Fiqman Sunandar, tak luput dari lbatu nyasar. Ia  mengalami luka di bagian jidat karena terkena batu. “Tidak parah, hanya sobekan kecil,” katanya.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sulawesi Tengah Ridwan Yalidjama menenangkan peserta aksi dan polisi. Ia berdiri di atas kap mobil, sambil meminta pengunjuk rasa dan polisi tidak emosi. “Silakan unjuk rasa, tapi jangan emosi, lakukan dengan cerdas,” teriaknya.

0 komentar:

Post a Comment