Warga Lereng Merapi Dapat Wangsit Mbah Petruk, Adakan Selamatan
Meningkatnya status Merapi dari waspada menjadi siaga, tidak membuat warga di lereng Merapi ketakutan. Mereka tetap beraktivitas seperti biasa, bekerja ke ladang dan mencari pakan ternak.
Para warga, utamanya yang tinggal di wilayah paling dekat Merapi sudah diingatkan agar meningkatkan kewaspadaan. Hanya saja, mereka masih memiliki keyakinan baru akan mengungsi bila sudah mendapat wangsit Mbah Petruk yang dipercaya menjaga Merapi.
Bahkan, warga Dukuh Takeran, Desa Tlogolele, Kamis (21/10) malam, menggelar selamatan. Kadus Soma Sarfii (57) mengatakan, kenduri dilakukan setelah salah satu warganya, Niti Sukir (57) mendapat wangsit dari Mbah Petruk. Niti mengaku bermimpi dan didatangi langsung Mbah Petruk yang mengenakan jubah warna putih.
"Saat itu Mbah Petruk mengingatkan warga agar menggelar selamatan berupa kenduri," katanya, Jumat (22/10).
Sesuai pesan dalam mimpi, kenduri harus dilengkapi dengan berbagai perlengkapan. Antara lain, sega cagak yaitu, tumpeng nasi tawar; tumpeng nasi gunung atau nasi jagung; palawija, jajan pasar dan tumpeng kendhit. Selanjutnya, semua persyaratan didoakan bersama agar seluruh warga dijauhkan dari bencana Merapi.
"Memang warga di sini tidak bisa dilepaskan begitu saja dari kepercayaan terhadap Mbah Petruk," ujarnya.
Terpisah, Kades Tlogolele, Kecamatan Selo, Budi Harsono mengatakan pihaknya terus melakukan sosialisasi terkait ancaman Merapi. Bahkan kubah lava di sebelah utara sudah mengalami retak- retak. "Kami sudah mengingatkan warga agar melakukan persiapan," lanjutnya.
Untuk warga Desa Tlogolele, pengungsian diarahkan ke balai desa dan selanjutnya dibawa ke tempat pengungsian akhir (TPA) di Sawangan, Magelang.
"Terkait dengan kepemilikan ternak, kalau memang merepotkan sudah kami informasikan agar dijual terlebih dahulu. Namun demikian, kami tidak bisa memaksa. Yang jelas, kalau mengungsi maka diutamakan masyarakatnya dulu," tegasnya.
Para warga, utamanya yang tinggal di wilayah paling dekat Merapi sudah diingatkan agar meningkatkan kewaspadaan. Hanya saja, mereka masih memiliki keyakinan baru akan mengungsi bila sudah mendapat wangsit Mbah Petruk yang dipercaya menjaga Merapi.
Bahkan, warga Dukuh Takeran, Desa Tlogolele, Kamis (21/10) malam, menggelar selamatan. Kadus Soma Sarfii (57) mengatakan, kenduri dilakukan setelah salah satu warganya, Niti Sukir (57) mendapat wangsit dari Mbah Petruk. Niti mengaku bermimpi dan didatangi langsung Mbah Petruk yang mengenakan jubah warna putih.
"Saat itu Mbah Petruk mengingatkan warga agar menggelar selamatan berupa kenduri," katanya, Jumat (22/10).
Sesuai pesan dalam mimpi, kenduri harus dilengkapi dengan berbagai perlengkapan. Antara lain, sega cagak yaitu, tumpeng nasi tawar; tumpeng nasi gunung atau nasi jagung; palawija, jajan pasar dan tumpeng kendhit. Selanjutnya, semua persyaratan didoakan bersama agar seluruh warga dijauhkan dari bencana Merapi.
"Memang warga di sini tidak bisa dilepaskan begitu saja dari kepercayaan terhadap Mbah Petruk," ujarnya.
Terpisah, Kades Tlogolele, Kecamatan Selo, Budi Harsono mengatakan pihaknya terus melakukan sosialisasi terkait ancaman Merapi. Bahkan kubah lava di sebelah utara sudah mengalami retak- retak. "Kami sudah mengingatkan warga agar melakukan persiapan," lanjutnya.
Untuk warga Desa Tlogolele, pengungsian diarahkan ke balai desa dan selanjutnya dibawa ke tempat pengungsian akhir (TPA) di Sawangan, Magelang.
"Terkait dengan kepemilikan ternak, kalau memang merepotkan sudah kami informasikan agar dijual terlebih dahulu. Namun demikian, kami tidak bisa memaksa. Yang jelas, kalau mengungsi maka diutamakan masyarakatnya dulu," tegasnya.
0 komentar:
Post a Comment