Letusan Merapi Pecahkan Record
dari dinihari hingga pagi tadi. Padahal
sebelumnya, kemarin sore juga terjadi banjir
lahar dingin yang mengarah Kali Kuning,
Umbulharjo, Cangkringan Sleman.
Daerah Magelang, pagi tadi gelap gulita akibat awan panas dari puncak Gunung Merapi. Wedhus gembel tersebut terus keluar dan membubung tinggi ke langit hingga 6 kilometer. Namun awan yang keluar saat ini, berbeda dengan sebelumnya, karena asap warna hitam dan putih berjalan sangat lamban dan mengarah ke atas. Hingga pukul 08.00 WIB, asap terus keluar dan mengarah ke barat (Kabupaten Magelang).
Pantauan Wawasan, Kamis (4/11) pagi sekitar pukul 08.30, asap hitam yang keluar dari puncak Gunung Merapi, disikapi warga dengan tenang, bahkan warga termasuk pengungsi justru menyaksikan keluarnya awan panas yang menggumpal membubung tinggi ke atas.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono menyatakan, pemerintah daerah yang berdekatan dengan Gunung Merapi diminta menyesuaikan perubahan karakter Gunung Merapi saat ini, terutama dengan perluasan zona aman warga dari 10 menjadi 15 kilometer, sehingga evakuasi warga harus terus dilakukan.
”Ancaman awan panas Gunung Merapi sudah melebar, karena tanaman yang semula menjadi tameng awan panas, sudah roboh dan hangus semua, sehingga pergerakan wedhus gembel tidak ada yang mengahalangi lagi, ini yang membahayakan warga di sekitar,” katanya.
”Ancaman awan panas Gunung Merapi sudah melebar, karena tanaman yang semula menjadi tameng awan panas, sudah roboh dan hangus semua, sehingga pergerakan wedhus gembel tidak ada yang mengahalangi lagi, ini yang membahayakan warga di sekitar,” katanya.
Masih tingginya aktivitas vulkanik Gunung Merapi dan status masih ditetapkan pada level Awas, maka tidak ada aktivitas penduduk di daerah rawan bencana, khususnya yang bermukim di sekitar alur sungai yang berhulu di Gunung Merapi sektor Selatan, Tenggara, dan Barat Daya dalam jarak 15 km dari puncak Gunung Merapi meliputi, Kali Boyong, Kuning, Gendol dan Kali Woro, Bebeng, Krasak, dan Bedog di wilayah Kabupaten Magelang.
Guncangan besar
Selain itu, guncangan cukup keras terus terjadi pasca letusan besar Gunung Merapi pagi tadi. Guncangan ini bahkan terjadi sudah puluhan kali.
Getaran tersebut bahkan bisa dirasakan hingga radius 20 km sebelah selatan Merapi. Getaran ini selalu dibarengi dengan suara gemuruh.
Suara gemuruh itu memang tidak terlampau kencang. Suaranya mirip geludhug menjelang turunnya hujan. Getaran ini mulai dirasakan warga sejak pukul 06.00 WIB.
Selain itu, guncangan cukup keras terus terjadi pasca letusan besar Gunung Merapi pagi tadi. Guncangan ini bahkan terjadi sudah puluhan kali.
Getaran tersebut bahkan bisa dirasakan hingga radius 20 km sebelah selatan Merapi. Getaran ini selalu dibarengi dengan suara gemuruh.
Suara gemuruh itu memang tidak terlampau kencang. Suaranya mirip geludhug menjelang turunnya hujan. Getaran ini mulai dirasakan warga sejak pukul 06.00 WIB.
Persis saat Merapi mengeluarkan letusan terkuatnya sejak 26 Oktober lalu.
Meski terus terjadi, getaran ini tidak membuat warga panik. Warga tetap melakukan aktivitasnya seperti biasa. Kebetulan kawasan Kaliurang KM 19 merupakan zona aman.
Meski terus terjadi, getaran ini tidak membuat warga panik. Warga tetap melakukan aktivitasnya seperti biasa. Kebetulan kawasan Kaliurang KM 19 merupakan zona aman.
Vertikal
Sementara itu, awan panas Gunung Merapi pagi tadi cenderung bergerak vertikal. Meski demikian ada kecenderungan awan panas ini bergerak ke barat. Padahal biasanya pergerakan awan panas mengarah ke selatan.
”Di puncak Merapi anginnya belum bertiup kencang jadi pergerakannya vertikal. Tetapi sepertinya cenderung ke barat karena angin diperkirakan bertiup lebih kuat ke barat,” kata Kepala Seksi Merapi Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta Sri Sumarti Kamis (4/11) pagi tadi.
Sementara itu, awan panas Gunung Merapi pagi tadi cenderung bergerak vertikal. Meski demikian ada kecenderungan awan panas ini bergerak ke barat. Padahal biasanya pergerakan awan panas mengarah ke selatan.
”Di puncak Merapi anginnya belum bertiup kencang jadi pergerakannya vertikal. Tetapi sepertinya cenderung ke barat karena angin diperkirakan bertiup lebih kuat ke barat,” kata Kepala Seksi Merapi Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta Sri Sumarti Kamis (4/11) pagi tadi.
Dijelaskan dia, arah awan panas berubah sesuai dengan bertiupnya angin yang dominan. Menurut Sri, setelah erupsi 26 Oktober lalu, ada kubah lava baru yang terbentuk di puncak Merapi. Diameter kubah itu sekitar 50 meter.
”Tapi karena letusan kemarin mungkin sudah dilongsorkan atau dilontarkan. Kita masih pantau itu,” lanjut Sri.
Hingga pukul 06.00 WIB, ketinggian awan panas diperkirakan sekitar 6 km. Dia menyatakan masih belum tahu apakah akan ada letusan besar lagi atau tidak.
”Tapi karena letusan kemarin mungkin sudah dilongsorkan atau dilontarkan. Kita masih pantau itu,” lanjut Sri.
Hingga pukul 06.00 WIB, ketinggian awan panas diperkirakan sekitar 6 km. Dia menyatakan masih belum tahu apakah akan ada letusan besar lagi atau tidak.
”Berdasarkan sejarah Merapi 100 tahun, aktivitas erupsi Merapi memang antara 2-7 tahun. Setelah ini akan ada letusan besar lagi atau tidak kita belum tahu, kita masih memantau,” tutur Sri.
Dia mengimbau agar masyarakat tetap mematuhi larangan mendekat kawasan Merapi hingga radius 15 km.
Letusan yang terjadi sejak pukul 08.15 WIB tadi terus menerus terjadi. Akibatnya, kondisi dinyatakan krisis sehingga daerah rawan bencana diperluas hingga 15 km.
Letusan yang terjadi sejak pukul 08.15 WIB tadi terus menerus terjadi. Akibatnya, kondisi dinyatakan krisis sehingga daerah rawan bencana diperluas hingga 15 km.
0 komentar:
Post a Comment