Merapi Menggila

Luncuran awan panas Gunung Merapi sepanjang hari kemarin mencapai radius sembilan kilometer dari puncak gunung. Arah luncuran mayoritas ke Kali Gendol, yang berada di wilayah Cangkringan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Semburan gelombang awan panas dari dalam kawah secara beruntun terjadi mulai pukul 11.11 WIB sampai 16.40 WIB, atau selama sekitar enam jam. Awan panas kembali keluar pada pukul 18.00 WIB.

"Ini lebih besar dari letusan yang pertama dengan catatan terlama 33 menit saja. Bahkan sampai pukul 18.40 WIB awan panas masih berlangsung,” kata Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, tadi malam.

Energi awan panas kali ini diperkirakan tiga kali lipat dari letusan awan panas pertama pada 26 Oktober lalu. Durasi erupsi kali ini pun tercatat paling lama, yakni 133 menit tanpa jeda.

Menurut Surono, pucuk gunung sebenarnya sudah mulai ditumbuhi lava baru, dan api diam mulai terlihat. Biasanya, hal tersebut mengindikasikan aktivitas gunung mulai stabil.

Tetapi pola itu sepertinya tidak berlaku lagi bagi Merapi. Justru awan panas gunung keluar sangat intensif, jauh lebih besar dari erupsi-erupsi sebelumnya.

Berdasarkan pantauan petugas di Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK), awan panas beruntun mulai keluar pukul 11.11 WIB. Kejadian ini hanya selang dua jam setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meninggalkan kawasan barak pengungsian di Sleman.

Surono mengatakan tidak mau ambil risiko warga jadi korban. Karena itu, dia memutuskan memperluas zona aman dari 10 km menjadi 15 km dari puncak. “Kami tidak ingin ada korban lagi, karena membayangkan awan panas terus keluar selama 1,5 jam lebih.”

Dengan status “awas” yang tetap berlaku, pemerintah melarang adanya aktivitas masyarakat di alur sungai yang berhulu di Merapi sektor selatan, tenggara, dan barat. Di antaranya adalah Kali Boyong, Kuning, Gendol, Woro, Bebeng, Krasak, dan Bedog. Selain awan panas, ancaman lahar dingin akibat guyuran hujan lebat juga amat berbahaya hingga radius belasan kilometer dari hulu.

Tercatat sedikitnya tiga rumah di Dusun Jambu, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, terbakar diterjang awan panas kemarin. Rumah-rumah tersebut berada di kawasan rawan bencana III, yang berjarak sekitar 7-8 kilometer, yakni milik Ny Sudi; milik Sriyanto, yang merupakan anggota Tim SAR Sleman; dan milik Woko.

Kepala Desa Kepuharjo, Heri Suprapto, menyatakan tidak ada korban jiwa, karena semua penghuni sudah mengungsi sejak erupsi 26 Oktober lalu. Ketika letusan sempat mereda, Tim SAR mencoba menyisir dengan penuh kehati-hatian di beberapa lokasi.

Letusan hebat yang tak henti-hentinya kemarin membuat warga yang sebelumnya nekat kembali ke rumah masing-masing dilanda kepanikan dan memutuskan menyelamatkan diri ke zona aman. Barak-barak pengungsian pun kembali penuh dengan jumlah penghuni melonjak.

0 komentar:

Post a Comment