Selimut Pengungsi Merapi Kurang, Spanduk Iklan Berlimpah



Image

RUPANYA pepatah Jawa rame ing gawe sepi ing pamrih (banyak kerja tanpa memikirkan pamrih), perlahan tergerus budaya kapitalistik. Betapa tidak? Di tengah lokasi bencana dan pengungsi Merapi sekarang ini, ratusan spanduk berbagai merk seperti provider telepon seluler, makanan dan minuman, otomotif, bank swasta, dan merk produk lain seolah berlomba memasang spanduk dan umbul-umbul di lokasi bencana. Bantuan mereka seolah ditunggangi tendensi keuntungan dan kekuasaan.
Bukan itu saja, yang paling menyebalkan adalah bendera parpol dan ormas yang mencoba menarik simpati dengan membuka posko bantuan tapi kosong melompong, namun benderanya berkibar-kibar di udara.

Sungguh ironis dan memilukan, di tengah kesedihan warga Merapi kekuatan kapital dan parpol tetap ’tak punya hati’ mencoba menangguk keuntungan dan kekuasaan dengan cara-cara keji.

Tak heran bila Gubernur DIY Sultan Hamengkubuwono X jengah dengan kelakukan parpol dan berbagai produsen barang itu. ”Sebaiknya selain bendera merah putih, semua diturunkan. Jangan sampai pengungsi merasa dimanfaatkan,” katanya, kemarin.

Sejak hari pertama erupsi, Selasa (26/10) lalu, aberbagai spanduk parpol, ormas, dan merk bertebaran di barak-barak pengungsian. ”Sangat ironis memang, selimut untuk pengungsi kurang, tapi spanduk dan umbul-umbul justru bertebaran di jalan-jalan,” kata Sugiyono (34), seorang relawan Harjobingangun, Pakem, Sleman.

0 komentar:

Post a Comment