Wikileaks; Amerika Serikat Tuai Kecaman
Amerika Serikat (AS),kemarin, menghadapi kecaman dari berbagai pemerintahan asing yang dilecehkan dalam data kawat diplomatik yang dibocorkan oleh situs peretas WikiLeaks. Para pemimpin dunia dan pejabat pemerintahan lainnya dihina dan dilecehkan para pejabat dan diplomat AS dalam laporan kawat kepada Washington tersebut.Mereka merasa direndahkan integritas, kemampuan,dan niat baiknya.
Padahal, hubungan negara mereka sangat baik dengan Washington. Perdana Menteri (PM) Rusia Vladimir Putin mengaku tidak geli dengan data kawat yang bocor tersebut.“ Sejujurnya,kami tidak menduga hal ini akan dilakukan dengan kesombongan, dengan sebuah tekanan. Anda tahu, hal itu sangat tidak etis dilakukan,”tutur Putin dalam acara “Larry King Live”di CNN.
Putin mungkin saja bisa meredam amarahnya. Berbeda dengan Perdana Menteri (PM) Recep Tayyip Erdogan.Dalam data kawat diplomatik itu disebutkan bahwa Erdogan memiliki tabungan rahasia di Bank Swiss. “Saya tidak memiliki satu sen pun di Bank Swiss,”ujar Erdogan. Dia meminta Washington untuk menuntut penjelasan dari diplomat- diplomatnya.
Sebab, tidak dibenarkan bagi diplomat memfitnah sebuah negara.“Ini adalah masalah Amerika Serikat, bukan kami. Mereka yang memfitnah kami bakal habis akibat klaim-klaim itu,”tandas Erdogan. Dalam dokumen kawat itu pada 2004, Eric Edelman saat masih menjadi Dubes untuk Turki menulis bahwa Erdogan memicu kegelisahan di antara negara-negara Barat karena sikapnya yang Islami.
“Erdogan adalah pemimpin yang haus kekuasaan,bersikap otoriter, dan tidak percaya pada pihak lain,” tulis Edelman. Dari Roma, Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi tidak memedulikan komentar diplomat AS mengenai dirinya. “Saya tidak perlu menanggapi hal yang dikabarkan koran kuning,”ujarnya. Dalam dokumen itu,Berlusconi disebut sebagai pemimpin yang lemah, sia-sia, dan tidak efektif.
Data kawat diplomatik juga menyebutkan gaya hidup mewah serta kesehatan fisik dan politiknya yang makin melemah.“Sebulan sekali, saya menjadi tuan rumah jamuan makan malam.Itu terjadi secara benar, bermartabat, dan elegan,” tuturnya. Di Argentina, seorang menteri pemerintah menegaskan laporan data kawat diplomatik itu sangat “memalukan”.
Disebutkan bahwa Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton melalui data kawat itu meminta informasi mengenai kondisi psikologi Presiden Argentina Cristina Kirchner. Di sisi lain, Uruguay meminta penjelasan dari Kedutaan Besar AS mengenai informasi data kawat tersebut. Mantan Pemimpin Kuba Fidel Castro menyebut itu sebagai skandal kolosal. Sementara China meminta langkah nyata dan memblokir situs WikiLeaks. PM Pakistan Yousuf Raza Gilani meminta perundingan dengan duta besar AS mengenai kebocoran data tersebut.
Terpisah dari Kazakhstan, Hillary bertemu Sekjen PBB Ban Kimoon membahas pembocoran data diplomatik itu.Mereka bertemu di sela KTT Organisasi untuk Keamanan dan Kerja sama di Eropa (OSCE) di Kazakhstan.“Saya tidak percaya bahwa siapa pun akan senang ketika seseorang tahu bahwa dia di bawah pengawasan,” ungkap Ban. Ban merupakan salah satu target permintaan Kementerian Luar Negeri AS untuk informasi dari para diplomatnya.
Hillary meminta para diplomatnya mengawasi pejabat PBB dalam hal manajemen dan pola pengambilan keputusan. Pemerintah AS juga meminta nomor kartu kredit, alamat email, telepon, faksimile, bahkan nomor rekening pemimpin PBB itu. Dari Washington, Presiden AS Barack Obama,kemarin, langsung menunjuk seorang pakar antiterorisme untuk memimpin upaya mengurangi dampak penyebarluasan dokumen rahasia yang dilakukan WikiLeaks.
Pria yang bakal menjalani tugas berat itu adalah Russel Travers,wakil direktur pertukaran informasi di Pusat Antiterorisme Nasional. Travers bertugas untuk mencegah pengungkapan data secara tidak sah pada masa depan. Gedung Putih menyatakan bahwa Travers akan memberikan arahan pada staf keamanan nasional. Arahan itu mengenai aksiaksi korektif, langkah-langkah pencegahan, dan rekomendasi-rekomendasi kebijakan terkait dengan pelanggaran itu.
Dia juga akan mengoordinasikan pembicaraan- pembicaraan antarbadan mengenai tindakan-tindakan pengembangan berkenaan dengan teknologi atau perubahan kebijakan untuk membatasi kemungkinan kebocoran seperti itu terjadi lagi. Sementara dari Jakarta, Duta Besar AS untuk Indonesia Scot Marciel menolak mengomentari pembocoran kawat diplomatik AS oleh WikiLeaks tersebut.
Dalam pembocoran itu, disebutkan dari 251.287 dokumen yang dirilis situs pembocor itu, 3.059 datang dari Kedutaan AS di Jakarta dan 167 berasal dari Konjen AS di Surabaya. “Kami tidak mengonfirmasi keaslian laporan ini,”tutur Marciel. “Sebagaimana diungkapkan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton, kebocoran itu adalah tindakan yang sangat mengganggu dan ditujukan untuk mencederai diplomasi dan hubungan baik di seluruh dunia.”
Marciel juga menegaskan,pembocoran itu tidak akan mempengaruhi hubungan AS-Indonesia. Sebab,Washington memiliki agenda positif dalam kemitraannya dengan Indonesia. “Siapa pun yang membaca laporan kami dari kedutaan akan melihat yang sebenarnya kami lakukan,”tandasnya.
Padahal, hubungan negara mereka sangat baik dengan Washington. Perdana Menteri (PM) Rusia Vladimir Putin mengaku tidak geli dengan data kawat yang bocor tersebut.“ Sejujurnya,kami tidak menduga hal ini akan dilakukan dengan kesombongan, dengan sebuah tekanan. Anda tahu, hal itu sangat tidak etis dilakukan,”tutur Putin dalam acara “Larry King Live”di CNN.
Putin mungkin saja bisa meredam amarahnya. Berbeda dengan Perdana Menteri (PM) Recep Tayyip Erdogan.Dalam data kawat diplomatik itu disebutkan bahwa Erdogan memiliki tabungan rahasia di Bank Swiss. “Saya tidak memiliki satu sen pun di Bank Swiss,”ujar Erdogan. Dia meminta Washington untuk menuntut penjelasan dari diplomat- diplomatnya.
Sebab, tidak dibenarkan bagi diplomat memfitnah sebuah negara.“Ini adalah masalah Amerika Serikat, bukan kami. Mereka yang memfitnah kami bakal habis akibat klaim-klaim itu,”tandas Erdogan. Dalam dokumen kawat itu pada 2004, Eric Edelman saat masih menjadi Dubes untuk Turki menulis bahwa Erdogan memicu kegelisahan di antara negara-negara Barat karena sikapnya yang Islami.
“Erdogan adalah pemimpin yang haus kekuasaan,bersikap otoriter, dan tidak percaya pada pihak lain,” tulis Edelman. Dari Roma, Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi tidak memedulikan komentar diplomat AS mengenai dirinya. “Saya tidak perlu menanggapi hal yang dikabarkan koran kuning,”ujarnya. Dalam dokumen itu,Berlusconi disebut sebagai pemimpin yang lemah, sia-sia, dan tidak efektif.
Data kawat diplomatik juga menyebutkan gaya hidup mewah serta kesehatan fisik dan politiknya yang makin melemah.“Sebulan sekali, saya menjadi tuan rumah jamuan makan malam.Itu terjadi secara benar, bermartabat, dan elegan,” tuturnya. Di Argentina, seorang menteri pemerintah menegaskan laporan data kawat diplomatik itu sangat “memalukan”.
Disebutkan bahwa Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton melalui data kawat itu meminta informasi mengenai kondisi psikologi Presiden Argentina Cristina Kirchner. Di sisi lain, Uruguay meminta penjelasan dari Kedutaan Besar AS mengenai informasi data kawat tersebut. Mantan Pemimpin Kuba Fidel Castro menyebut itu sebagai skandal kolosal. Sementara China meminta langkah nyata dan memblokir situs WikiLeaks. PM Pakistan Yousuf Raza Gilani meminta perundingan dengan duta besar AS mengenai kebocoran data tersebut.
Terpisah dari Kazakhstan, Hillary bertemu Sekjen PBB Ban Kimoon membahas pembocoran data diplomatik itu.Mereka bertemu di sela KTT Organisasi untuk Keamanan dan Kerja sama di Eropa (OSCE) di Kazakhstan.“Saya tidak percaya bahwa siapa pun akan senang ketika seseorang tahu bahwa dia di bawah pengawasan,” ungkap Ban. Ban merupakan salah satu target permintaan Kementerian Luar Negeri AS untuk informasi dari para diplomatnya.
Hillary meminta para diplomatnya mengawasi pejabat PBB dalam hal manajemen dan pola pengambilan keputusan. Pemerintah AS juga meminta nomor kartu kredit, alamat email, telepon, faksimile, bahkan nomor rekening pemimpin PBB itu. Dari Washington, Presiden AS Barack Obama,kemarin, langsung menunjuk seorang pakar antiterorisme untuk memimpin upaya mengurangi dampak penyebarluasan dokumen rahasia yang dilakukan WikiLeaks.
Pria yang bakal menjalani tugas berat itu adalah Russel Travers,wakil direktur pertukaran informasi di Pusat Antiterorisme Nasional. Travers bertugas untuk mencegah pengungkapan data secara tidak sah pada masa depan. Gedung Putih menyatakan bahwa Travers akan memberikan arahan pada staf keamanan nasional. Arahan itu mengenai aksiaksi korektif, langkah-langkah pencegahan, dan rekomendasi-rekomendasi kebijakan terkait dengan pelanggaran itu.
Dia juga akan mengoordinasikan pembicaraan- pembicaraan antarbadan mengenai tindakan-tindakan pengembangan berkenaan dengan teknologi atau perubahan kebijakan untuk membatasi kemungkinan kebocoran seperti itu terjadi lagi. Sementara dari Jakarta, Duta Besar AS untuk Indonesia Scot Marciel menolak mengomentari pembocoran kawat diplomatik AS oleh WikiLeaks tersebut.
Dalam pembocoran itu, disebutkan dari 251.287 dokumen yang dirilis situs pembocor itu, 3.059 datang dari Kedutaan AS di Jakarta dan 167 berasal dari Konjen AS di Surabaya. “Kami tidak mengonfirmasi keaslian laporan ini,”tutur Marciel. “Sebagaimana diungkapkan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton, kebocoran itu adalah tindakan yang sangat mengganggu dan ditujukan untuk mencederai diplomasi dan hubungan baik di seluruh dunia.”
Marciel juga menegaskan,pembocoran itu tidak akan mempengaruhi hubungan AS-Indonesia. Sebab,Washington memiliki agenda positif dalam kemitraannya dengan Indonesia. “Siapa pun yang membaca laporan kami dari kedutaan akan melihat yang sebenarnya kami lakukan,”tandasnya.
0 komentar:
Post a Comment