Bisnis Unggas Serap Jutaan Lapangan Pekerjaan.
Peluang bisnis industri perunggasan masih terbuka lebar seiring meningkatnya konsumsi protein hewani dan harga jual yang kian menguntungkan.
Senior Vice President PT Primakarya Persada Achmad Dawami mengatakan, bisnis usaha daging ayam broiler dan telur di dalam negeri mampu menyerap 2,5 juta tenaga kerja. Bahkan, secara langsung perputaran uangnya lebih dari Rp 50 triliun per tahun. "Bisnis ini mampu menyediakan lapangan kerja, terutama di pedesaan. Ini paling tidak mampu menghambat laju urbanisasi ke kota menggerakkan ekonomi di pedesaan dan meningkatkan daya beli petani," kata Achmad Dawami dalam seminar perunggasan di Yogyakarta, kemarin. Menurut dia, sektor perunggasan seharusnya mendapat perhatian khusus dari pemerintah untuk mewujudkan kemandirian pangan nasional. Ini mengingat harga pangan dunia terus meningkat akibat peningkatan populasi penduduk, pertumbuhan ekonomi, dan penurunan lahan pertanian. "Kondisi ini mengharuskan setiap negara untuk terus memperkuat kemandirian pangan," tuturnya. Saat ini, Damawi menyebutkan, China mengurangi ekspor biji-bijian, seperti jagung, yang selama ini digunakan sebagai bahan baku utama pakan ternak. Bahkan, China melakukan impor dalam waktu dekat ini dan dampaknya sudah memengaruhi harga jagung di dunia. Sementara Rusia segera berswasembada ayam dan babi, dan diperkirakan 85 persen kebutuhan dalam negerinya bisa terpenuhi pada 2015. Sedangkan Brazil mendapat keuntungan besar dari kenaikan bahan baku pakan ternak dan terus mengembangkan bisnis perunggasan. Untuk mewujudkan bisnis sektor perunggasan yang kuat di dalam negeri, lanjutnya, memang tidak mudah. Terdapat sejumlah kendala, di antaranya pertumbuhan ekonomi yang relatif masih rendah, sektor riil yang belum tumbuh secara optimal, dan bisnis perunggasan yang masih terfragmentasi. Selain itu, sarana produksi juga masih banyak diimpor, seperti jagung. "Seharusnya Indonesia sudah swasembada jagung, baik untuk konsumsi maupun pakan ternak," katanya. "Bisnis perunggasan juga masih menghadapi permasalahan belum terbebasnya dari serangan flu burung (avian influenza/AI). Sedangkan di bidang permodalan terkendala suku bunga kredit perbankan yang masih tinggi. Padahal meningkatkan usaha perunggasan tidak hanya membangun kehidupan ekonomi, tapi juga meningkatkan konsumsi protein hewani yang baik untuk masyarakat," ucapnya.
0 komentar:
Post a Comment