Ancaman Awan Panas Merapi Meluas

KLATEN - Seperti telah dipredikasi, Gunung Merapi kembali  mengeluarkan awan panas (wedhus gembel), Jumat (29/10) pagi tadi pukul 05.30 dan 06.10. Kalau sebelumnya hanya  mengarah ke selatan (Sleman), kali ini awan panas menyebar ke arah tenggara (Klaten) dan barat daya (Magelang)  dengan jarak luncur sekitar 3 km. Luncuran awan panas ini didahului keluarnya lava pijar pada pukul 03.00, dan membuat warga di Dusun Sambungrejo, Balerante (Klaten), Tlogolele (Boyolali), dan Srumbung (Magelang), panik.
Menurut Retiyo, petugas pengamat Gunung Merapi di Pos Pengamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, karena puncak terhadang mendung, membuat luncuran lava pijar tidak kelihatan dengan jelas. Tapi lava pijar itu meleleh dan menyebar ke berbagai penjuru, disertai keluarnya awan panas ke arah Kali Gendol dan Krasak,” katanya, pagi tadi.
Menurut dia, aktivitas Gunung Merapi saat ini masih sangat membahayakan warga yang berada di kawasan bahaya, maka warga diminta tetap berada di pengungsian, mengingat puncak gunung terus mengeluarkan awan panas dengan intensitas lebih besar. ”Status Merapi masih berbahaya, karena belum ada tanda-tanda turunnya aktivitas, bahkan cenderung meningkat, setelah mengalami erupsi kemarin,” katanya.
Dikatakannya, jumlah kegempaan juga meningkat tajam, akibat pergerakan magma dalam perut Gunung Merapi. Mengamati pergerakan seismograf yang terus memantau aktivitas Merapi menunjukkan getaran gunung semakin besar, maka diperkirakan awan panas masih akan terus keluar.
Hingga berita ini diturunkan, abu vulkanik Merapi terus keluar, membuat warga meningkatkan kewaspadaan, dan sebagian besar warga telah menggunakan masker penutup hidung dan mulut. Warga sempat membunyikan kentongan dan berteriak kepada warga yang lain meminta mereka keluar rumah. Saat ini debu vulkanik masih terlihat menggantung di lereng Merapi sebelah selatan 
Diungsikan Dari Boyolali dilaporkan, sekitar 1.416 warga Desa Tlogolele, terutama di Dukuh Setabelan dan Dukuh Belang yang lokasinya hanya berjarak sekitar 4 km dari puncak Merapi, langsung diungsikan ke lokasi aman.
Berdasar pantauan Wawasan pagi tadi, luncuran awan panas Merapi bisa disaksikan dengan mata telanjang lantaran udara pagi yang bersih itu tampak terlihat jelas. Bahkan warga sekitar langsung berteriak-teriak, ”Mbledhos ...... mbledhos....” sambil panik berlarian.
Kades Tlogolele Budi Harsono mengatakan, kepanikan warga sempat melanda kawasan yang dekat dengan gunung tersebut. Kendati demikian, mereka telah siap lantaran aparat desanya telah memberi tahu, jika Merapi meletus lagi, maka warga harus secepatnya meninggalkan tempat tinggalnya.
”Untuk pengungsian di dua dukuh, Setabelan dan Belang kami alihkan ke Balai Desa Tlogolele dulu. Terutama untuk ibu-ibu, anak-anak, dan lansia,” jelas dia. Menurut dia, pagi tadi langsung dilakukan evakuasi besar-besaran menuju lokasi yang aman. Sementara jarak yang paling dekat adalah, lokasi di lapangan Sawangan, Magelang. Namun tidak menutup kemungkinan ke arah Kabupaten Boyolali.
Sementara itu, petugas Pos Pengawas Gunung Merapi Jrakah Kecamatan Selo, Tri Mujianto mengatakan, luncuran awan panas belum diketahui berapa kecapatannya. Karena arah luncur berbalik arah dari Pos Jrakah.
”Namun arah luncurannya jelas ke Kali Gendol Magelang, dan Kali Woro Klaten. Data gempa juga ada peningkatan yang signifikan. Namun untuk angkanya masih diteliti,” pungkasnya.

0 komentar:

Post a Comment