Showing posts with label Klaten. Show all posts
Showing posts with label Klaten. Show all posts

Jalur Lingkar Barat Delanggu Efektif Digunakan

Menjelang Hari Raya Idul Fitri, Dinas Perhubungan Kabupaten Klaten mulai mengoperasikan Jalur Lingkar Barat kecamatan Delanggu. Kepala Dinas Perhubungan Pemkab Klaten, Jaka Sawaldi mengatakan ujicoba itu mulai efeltif diberlakukan H-7. ''Nantinya tidak hanya antisipasi mudik tetapi bisa selamanya,'' jelasnya, Senin (13/8).
Jalur lingkar barat Delanggu rencananya akan digunakan untuk kendaraan berat seperti Bus dan Truck. Belum lagi ruas jalan tersebut terdapat Pasar Delanggu dan pusat pertokoan padat. Jika kendaraan berat melintas, arus lalu lintas padat dan kadang menumpuk. Untuk itu, pengalihan jalur merupakan salah satu cara memecahkan masalah sehingga tak rawan kecelakaan. Pengalihan jalur itu nantinya akan diteruskan usai lebaran sehingga semua kendaraan berat dan angkutan barang harus melingkar.
Untuk mendukung kebijakan itu, Pemkab sudah sejak sebulan lalu merehab jalan lingkar sehingga memadai dilalui kendaraan. Pengalihan jalur itu tujuan jangka pendeknya untuk menjajal jalur baru sebelum ada pemindahan aktivitas terminal bus Jonggrangan ke terminal Delanggu. Sebab, terminal Jonggrangan dalam waktu dekat ini akan segera dibongkar untuk pembangunan masjid.

ASAL MULA KOTA KLATEN

Kota Klaten adalah sebuah kota yang besar dan luas wilayahnya. Kota Klaten termasuk kota eks Karisidenan Surakarta. Letaknya sangat strategis karena berada di jalur lalu lintas dua kota besar yaitu Kota Yogyakarta dan Kota Surakarta (Kota Solo). Kota Klaten banyak menyimpan peninggalan-peninggalan sejarah dan budaya yang beraneka ragam.  Peninggalan- peninggalan  bersejarah itu diantaranya ada yang berupa candi, patung, makam, dan tempat pemujaan. Sedangkan yang berupa budaya diantaranya ada  yang berupa upacara-upacara daerah dan adat istiadat yang merupakan warisan masa lampau yang kini masih dipertahankan oleh penduduk setempat.
    Mengenai asal mula Kota Klaten sumber data sejarahnya masih sangatlah kurang,  karena tidak ditemukan  bukti- bukti sejarah baik yang berupa prasasti atau pun naskah/ tulisan sejarah yang mendukung. Asal mula Kota Klaten hanya bisa dirujuk dari cerita rakyat yang diwariskan orang tua zaman dahulu secara turun temurun atau  dari mulut ke mulut. Konon kata Klaten berasal dari kata Melati. Sebagaimana kebiasaan orang-orang jawa dahulu, untuk  pengucapan kata tertentu seringkali  lidah orang jawa mengalami kesulitan dalam pengucapan. Mereka senang mengubah  kata dengan maksud untuk memudahkan pengucapan. Begitu juga yang terjadi pada kata Melati beberapa kali mengalami perubahan pengucapan yaitu Melati menjadi Mlati, berikutnya  berubah lagi Mlati menjadi Lati. Dalam perkembangannya orang lebih senang menyebut Klati. Nah dari kata klati inilah dengan maksud memudahkan pengucapan kemudian mereka mengubah menjadi Klaten.
    Pada zaman dahulu, Kota Klaten masih berupa hutan belantara. Konon orang yang pertama kali mendiami hutan itu adalah seorang kyai yang bernama Kyai Melati Sekolekan. Keberadaan Kyai Melati Sekolekan di kawasan itu diikuti oleh para pendatang untuk menetap di sekitar tempat tinggal Sang Kyai. Para pendatang itu sangat menghormati Kyai Melati Sekolekan   sebagai sesepuh desa. Kyai Melati Sekolekan juga terkenal berbudi luhur, suka menolong, dan mempunyai ilmu yang sakti.
    Konon Kyai Melati Sekolekan merupakan salah satu murid Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga adalah salah satu dari sembilan wali yang terkenal di Pulau Jawa dengan sebutan Wali Songo. Wali Songo bertugas menyebarkan agama Islam. Sunan Kalijaga berasal dari Kerajaan Demak. Sepanjang hidup Sunan Kalijaga hanya untuk beribadah memyebarkan ajaran agama Islam. Sunan Kalijaga senang mengadakan perjalanan panjang menjelajahi desa, turun gunung, dan menerobos hutan belantara yang wingit/ bahaya  untuk berdakwah mengajak kebaikan kepada  umat manusia. Dalam perjalananan dakwahnya Sunan Kalijaga sering menjumpai orang-orang yang berniat jahat yang hendak mencelakan atau mencoba menantang adu kesaktian pada dirinya, namun beliau dengan arif mampu menyadarkan orang-orang jahat tersebut untuk kembali ke jalan yang benar. Bahkan banyak dari mereka yang dulu jahat memasrahkan jiwa raganya minta dijadikan sebagai murid Sunan Kalijaga.  Salah satu murid itu  adalah  bernama Sunan Geseng.
    Sunan Kalijaga sering terjun langsung untuk menyaksikan sendiri kinerja para pejabat bawahan yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Demak. Dikisahkan ada salah satu pejabat bawahan yang bernama Ki Ageng Pandanaran menyalahgunakan kekuasaan. Sunan Kalijaga saat  itu terpanggil  untuk datang memberi peringatan. Ki Ageng Pandanaran tidak disenangi oleh rakyatnya karena terkenal kikir dan gila harta. Berkat peringatan  yang diberikan oleh Sunan Kalijaga dengan menyamar sebagai tukang rumput,  akhirnya Ki Ageng Pandanaran  sadar dan mengajak istrinya untuk  meninggalkan semua harta dan kekuasaannya untuk mengikuti ajaran Islam. Ki Ageng Pandanaran pun menjadi  murid Sunan Kalijaga. Kisah Ki Ageng Pandanaran dan istrinya  ini melegenda dengan Cerita terjadinya Salatiga. Kelak Ki Pandanaran diangkat menjadi wali terakhir menggantikan Syek Siti Jenar dengan gelar Sunan Tembayat dan berkedudukan di Gunung Jabalkat, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten.
    Pada kisah lain, Sunan Kalijaga pernah juga memberi petunjuk kepada Raden Majastan. Raden Majastan adalah salah seorang pangeran keturunan Majapahit. Raden Majastan beserta para pangeran yang lain melarikan diri dari Majapahit akibat perang saudara yang berlarut-larut di negerinya.  Konon Raden Majastan pernah beradu ilmu dan kesaktian dengan Sunan Kalijaga. Berkat petunjuk Sunan Kalijaga yang telah berhasil mengalahkan ilmu dan kesaktiannya Raden Majastan bersedia menuruti petunjuk Sunan Kalijaga untuk bermukim di atas bukit yang berada di perbatasan Klaten dan Sukoharjo. Kelak bukit itu dikenal sebagai Bukit Majasto dan  Raden Majastan disebut dengan nama Ki Ageng Majasto.
    Kisah asal mula Kyai Melati Sekolekan menjadi murid Sunan Kalijaga, diawali dari pertemuan keduanya dalam pengembaraan. Sebagaimana adat kebiasaan orang jawa zaman dahulu seseorang akan mengakui kelebihan orang lain dengan cara adu ilmu dan kesaktian. Konon Kyai Melati Sekolekan pernah beradu ilmu dan kesaktian dengan Sunan Kalijaga. Berawal dari itu  Kyai Melati Sekolekan  merasa ilmu dan kesaktiannya masih sangat dangkal di hadapan Sunan Kalijaga. Dan akhirnya Kyai Melati sekolekan bersedia untuk memeluk agama Islam dan turut menyebarkan agama Islam di wilayah Kota Klaten sekarang.
Berbekal ilmu agama  serta kesaktian dari hasil berguru kepada Sunan Kalijaga, maka di pedukuhan Kyai Melati sekolekan aman dan tentram. Tidak ada gerombolan penjahat yang berani menjarah atau berbuat onar di pedukuhan itu. Maka dalam waktu singkat pedukuhan Kyai Melati Sekolekan cepat berkembang menjadi sebuah desa yang ramai. Kyai Melati Sekolekan pantas menjadi sosok panutan, pengayom, dan sesepuh bagi warganya.
    Bagi warga Kyai Melati Sekolekan adalah sosok yang sangat dicintai rakyat, sampai akhir  hayat beliau hanya untuk mengabdi di desanya. Warga sangat kehilangan sosok yang didambakannya. Dengan iringan doa mereka mengantar kepergiannya. Untuk mengenang dan menghormati jasa- jasa beliau warga desa sepakat untuk memakamkan di dekat tempat tinggalnya. Dan selanjutnya warga desa menamai desa mereka dengan nama Klaten. Sebagaimana dikisahkan di awal bahwa kata Klaten semula berasal dari kata Melati, yaitu diambil dari nama Kyai Melati. Dari tahun ke tahun desa Klaten semakin ramai, daerah wilayahnya semakin luas, dan padat penduduknya. Jadi yang semula Klaten berupa kawasan hutan belantara sekarang menjelma menjadi sebuah kota besar yaitu Kota Klaten.
    Keberhasilan Kota Klaten menyebabkan munculnya dukuh-dukuh baru di sekitarnya. Dukuh-dukuh itu antara lain Dukuh Janggrangan. Dukuh Janggrangan semula hanya kawasan yang berupa segerombolan pohon-pohon besar. Dukuh lainnya adalah Dukuh Dayekan. Dukuh Dayekan ini pada zaman dahulu yang mendirikan adalah para Kyai. Dukuh-dukuh itu sekarang terletak di Desa Pandes, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten.
    Di desa kecil tempat peristirahatan terakhir Kyai Melati Sekolekan yaitu makam Kyai Melati Sekolekan. Makam itu sampai sekarang masih dihormati dan dirawat oleh penduduk Klaten dan sekitarnya. Makam itu mengingatkan kembali  akan  jasa-jasa beliau sebagai orang yang pertama kali tinggal di Desa Klaten dan mengembangkan desa tersebut menjadi sebuah kota besar yaitu Kota Klaten. Makam itu berada di Desa Sekolekan. Nama desa Sekolekan oleh penduduk diambil dari nama belakang Kyai Melati Sekolekan. Sampai saat ini Desa Sekolekan masih ada.

Dihajar Warga Karena Curi Kotak Amal

 Trihandoko (23) warga Dusun Kemiri Desa Candirejo Kecamatan Ngawen Senin (9/5) petang babak belur dihajar massa setelah kepergok mencuri kotak amal di masjid setempat. Warga yang emosi menghajar pelaku dan merusak sepeda motornya, sebelum diserahkan ke Polres Klaten. Informasi di lokasi kejadian menyebutkan, penangkapan Tri bermula saat warga yang usai melaksanakan shalat maghrib, curiga dengan gerak gerik pelaku di lokasi. Kecurigaan terbukti setelah kotak amal di Masjid Solikhin Desa Kemiri, tidak ada. Padahal, orang terakhir yang terlihat melintas di sana adalah pelaku yang datang dengan sepeda motor.
Oleh warga Tri dicari dan ditemukan tak jauh dari masjid tersebut dan kotak amal di dekat pelaku. Warga langsung emosi dan membawa pelaku ke rumah Kepala Desa (Kades). Warga lain yang mendengar ada pencuri tertangkap, berdatangan ke lokasi dan mengepung pelaku yang dibawa ke rumah Kades. Warga yang tak kuat menahan emosi segera menghajar pelaku dan merusak sepeda motornya.
Kapolres Klaten, AKBP Kalingga Hendraraharja melalui Kasatreskrim AKP Rudi Hartono mengatakan, pelaku sudah diamankan dan proses penyidikannya diserahkan ke Polsek Ketandan

Upacara Tradisional Yaqowiyu

Wisata Solorayaonline: Upacara Tradisional Yaqowiyu,
Upacara ini mulai pertama kali berbentuk majelis pengajian yang dikunjungi oleh umat Islam dan masyarakat sekeliling Jatinom. Upacara ini diselenggarakan setiap tahun sekali pada hari Jumat pertengahan bulan Sapar. Adanya Upacara ini dinamakan Yaqowiyu diambil dari doa Kyai Ageng Gribig sebagai penutup pengajian yang berbunyi : Ya qowiyu Yaa Assis qowina wal muslimin, Ya qowiyyu warsuqna wal muslimin, yang artinya : Ya Tuhan berikanlah kekuatan kepada kita segenap kaum muslimin, doa tamu itu dihormati dengan hidangan kue roti, dan ternyata hidangannya kurang, sedang tamunya masih banyak yang belum menerimanya.
Nyai Ageng segera membuat kue apem yang masih dalam keadaan hangat untuk dihidangkan kepada para tamu undangan tersebut. Majelis pengajian ini sampai sekarang setiap tahunnya masih berjalan, yang dilakukan pada malam Jumat dan menjelang sholat Jumat pada pertengahan bulan Sapar, setiap tahunnya Doa Kyai Ageng Gribig itu dibacakan dihadapan hadirin, para pengunjung kemudian menyebutkan Majelis Pengajian itu dengan sebutan nama : ONGKOWIYU yang dimaksudkan JONGKO WAHYU atau mencari wahyu. Kemudian oleh anak turunnya istilah ini dikembalikan pada aslinya yaiut YAQOWIYU.
Sedanng di lokasi ini terdapat juga peninggalan Kyai Ageng Gribig berupa : gua Belan, Sendang Suran, Sendang Plampeyan dan Oro oro Tarwiyah. Disamping itu masih ada satu peninggalan yaitu Masjid Alit atau Masjid Tiban. Perlu kiranya ditambahkan disini bahwa sepulangnya Kyai Ageng Gribig dari Mekah tidak hanya membawa apem saja tetapi juga membawa segenggam tanah dari Oro oro Arofah dan tanah ini ditanamkan di Oro oro Tarwiyah. Adapun Oro oro ini disebut Tarwiyah karena tanah dari Mekah yang ditanam Kyai Ageng Gribig yang berasal dari Padang Arofah ketika beliau sedang mengumpulkan air untuk bekal untuk bekal wukuf di Arofah pada tanggal 8 bulan Dzulhijah. Dari tanggal 8 Dzulhijah ini dinamakan Yaumul Tarwiyah yang artinya pada tanggal itu para jamaah Haji mengumpulkan air sebanyak banyaknya untuk bekal wukuf di Arofah

Desa Wisata Soran Duwet

Wisata Solorayaonline : Desa Wisata Soran Duwet, Desa wisata adalah sebuah kawasan pedesaan yang memiliki beberapa karakteristik khusus untuk menjadi daerah tujuan wisata. Di kawasan ini, penduduknya masih memiliki tradisi dan budaya yang relatif masih asli. Selain itu, beberapa faktor pendukung seperti makanan khas, sistem pertanian dan sistem sosial turut mewarnai sebuah kawasan desa wisata. Di luar faktor-faktor tersebut, alam dan lingkungan yang masih asli dan terjaga merupakan salah satu faktor terpenting dari sebuah kawasan tujuan wisata. Selain berbagai keunikan, kawasan desa wisata juga harus memiliki berbagai fasilitas untuk menunjangnya sebagai kawasan tujuan wisata. Berbagai fasilitas ini akan memudahkan para pengunjung desa wisata dalam melakukan kegiatan wisata. Fasilitas-fasilitas yang sebaiknya dimiliki oleh kawasan desa wisata antara lain adalah sarana transportasi, telekomunikasi, kesehatan, dan juga akomodasi. Khusus untuk sarana akomodasi, desa wisata menyediakan sarana penginapan berupa pondok-pondok wisata (home stay) sehingga para pengunjung pun turut merasakan suasana pedesaan yang masih asli. Saat ini, propinsi Jawa Tengah memiliki tujuh buah kawasan desa wisata yang tersebar di berbagai kabupaten. Desa-desa wisata tersebut adalah desa wisata Candirejo, Dieng, Duwet, Karangbanjar, Karimunjawa, Ketenger, dan Selo. Di dalam website ini, Anda akan menemukan beragam informasi yang lebih lengkap mengenai ketujuh kawasan desa wisata tersebut. Sejarah Desa Wisata Soran Berdasarkan penuturan sesepuh desa, pembangunan desa dimulai dari sejarah pelarian perang Diponegoro dari Yogyakarta yang bernama Joyokusumo. Daerah-daerah yang dilewati oleh Joyokusumo kemudian dijadikan dusun dengan nama sesuai yang dialami/dirasakan oleh Joyokusumo ketika melakukan pelarian. Misalnya dusun Mansuran, penamaan dusun karena nafas Joyokusumo dalam pelarian yang "ngansur-ansur", dusun Soran karena terdesak kalah/"kasoran", dusun Salam Rejo karena sudah mulai merasa aman. Sejarah di atas menunjukkan adanya hubungan antara desa Duwet dengan keraton Yogyakarta. Hal itu juga ditunjukkan dari posisi lurah pertama desa Duwet yang menjalankan pemerintahannya dan mengabdikan diri pada keraton Yogyakarta. Keadaan Geografis dan Demografi Desa Luas wilayah desa sebesar 94,18 Ha dengan dibatasi oleh desa Mranggen (sebelah Utara), desa Karang Lo (sebelah selatan), desa Dernals Ijo (sebelah barat) dan desa Gatak (sebelah timur). Sebaglan besar wilayahnya diperuntukan bagi areal pertanian (61,50 Ha), sedangkan ladang/tegalan hanya sebesar 2,5 Ha. Sampai tahun 2006, desa Duwet dihuni oleh sekitar 2027 jiwa. Desa Duwet termasuk daerah dataran rendah, dengan ketinggian 158 meter di atas permukaan laut. Curah hulan 1082 mm/tahun dan suhu rata-rata 32 derajat Celcius. Penduduk Masyarakat Duwet dari komposisinya bisa dikatakan cukup plural, berbagai agama memiliki pengikutnya di desa ini. Budaya-budaya Jawa pun ada yang masih dilestarikan oleh masyarakat desa Duwet. Rasa persaudaraan dan kegotongroyongan masih terasa dan melingkupi tradisi-tradisi yang dijalankannya. Desa Duwet termasuk desa agraris, karena kehidupan sebagian besar warga mengandalkan pertanian terutama tanaman padi, meskipun saat ini pergeseran telah terjadi, dimana sebagian warga desa lebih memilih bekerja di luar sektor pertanian. Warga Desa Duwet yang bekerja di luar sektor pertanian, antara lain di bidang pertukangan, perdagangan dan industri kerajinan rumah tangga. Daya Tarik Wisata : - Tradisi Lokal A. Merti Desa Merti Desa merupakan sebuah prosesi tradisi lokal dalam bentuk kegiatan bersih desa. Kegiatan ini sepenuhnya dilakukan oleh masyarakat secara gotong royong. Tujuannya adalah agar Tuhan memberikan perlindungan dan keselamatan baqi masvarakat desa. Salah satu kegiatan yang menqiringi tradisi Merti Desa adalah pertunjukan wayang kulit semalam suntuk. Merti desa biasanya dilakukan pada tanggal 1 Muharram (Suran) dan pada tanggal 10 Dhulhijah (Besaran). B. Sambatan Sambatan merupakan kegiatan yang dilaksanakan bersama-sama oleh warga desa dalam rangka memperbaiki rumah salah satu warganya. Aspek kegotongroyongan serta semangat solidaritas sangat kental dalam tradisi ini. C. Tradisi Kumbakarnan Tradisi ini merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mempersiapkan pembentukan kepanitiaan hajatan pengantin warga desa. Istilah ini muncul karena pada tradisi in!, warga yang diundang disediakan makan yang melimpah, layaknya ketika raja Kumbakarna mau diangkat menjadi senopati perang dalam perang Baratayuda. - Kesenian Lokal A. Kelompok Kesenian Campur Sari Ada tiga kelompok campur sari yang hidup di desa Duwet, yaitu Tombo Ati, Adventura Nada dan Abilowo. Kelompok campursari Tombo Ati dan Adventura Nada merupakan wadah dari para pemuda desa dalam menyalurkan hobi berkesenian. Sedangkan kelompok campursari Abilowo merupakan wadahnya orang-orang tua dalam berkesenian. B. Group Wayang Kulit Duwet pernah memiliki sesepuh dalang untuk wilayah Surakarta (pakeliran Surakartanan) yang bernama Ki Wiro Warseno (guru dari dalang Ki Narto Sabdo). Putra-putranya kemudian menemukan kiprahnya dengan membentuk group wayang kulit. Salah satu dari putranya yang bernama Kesdik Kasdolamono saat ini menjadi sesepuh dalang wilayah Surakarta, di samping menjadi dosen tamu luar biasa di STSI Surakarta. . Cinderamata Sektor industri yang berkembang di desa Duwet berupa industri rumah tangga. Hasil-hasil produksi dari industri rumah tangga ini dapat menjadi oleh-oleh yang menarik ketika berkunjung ke desa Duwet. A. Makanan Khas Rengginan Ketela Salah satu industri rumah tangga yang berkembang di desa Duwet adalah pembuatan makanan rengginan ketela. Di sini, komunitas pengrajin makanan rengginan ketela memiliki jaringan sendiri, yang diberi nama Ngudi Prayogo. B. Kerajinan Sulak Bulu Ayam Kerajinan rumah tangga yang lain adalah pembuatan sulak dari bahan bulu ayam, yang berlokasi terutama di dusun Soran dan Duwet. Pemasaran kerajinan ini sampai ke daerah Yogyakarta dan sekitar Klaten. C. Kerajinan Wayang Kulit Kerajinan wayang kulit merupakan usaha warisan dari leluhur warga desa Duwet. Kerajinan wayang kulit ini untuk menopang kesenian tradisional wayang kulit Pakeliran Surakarta yang melegenda di desa Duwet. D. Kerajinan Bambu Masyarakat desa Duwet juga memiliki industri rumah tangga yang bergerak di bidang kerajinan bambu. Berbagai barang dan hiasan yang bahan mentahnya terbuat dari bambu, tersedia di desa ini. E. Kerajinan Lainnya Selain industri rumah tangga seperti yang disebutkan sebelumnya, masyarakat desa Duwet juga memiliki beberapa jenis industri rumah tangga lainnya. Industri rumah tangga batu bata, dan atap rumah merupakan contoh industri rumah tangga yang juga ada di desa Duwet. Sarana Akomodasi Bila para wisatawan ingin mengunjugi desa Duwet, tersedia sarana akomodasi berupa pondok-pondok wisata (home stay) yang dapat dipergunakan sebagai tempat bermalam. Untuk informasi tarif dan fasilitas, silakan lihat bagian paket wisata atau dapat langsung menghubungi Pusat Informasi Pariwisata desa Duwet. Paket Wisata Beberapa paket wisata ditawarkan oleh desa wisata Duwet. Salah satunya adalah Perkemahan Pendidikan Alternatif Soran (Soran Alternative Education Camp - SAE Camp). Program-program yang ditawarkan dalam kegiatan ini adalah; - Program Anak Pelangi (bagi TK dan SD) - Program Cahaya Bintang (bagi SMP dan SMU/SMK) - Program Matahari Terbit (bagi perguruan tinggi dan organisasi masyarakat) - Retret/Rekoleksi - Program Wartawan Muda - Rekreasi Pendidikan - Program Perusahaan - Program Bebas/Pilih Sendiri.

Candi Sewu

Candi Sewu
Candi Sewu, Terletak di Dukuh Bener, Desa Bugisan Kecamatan Prambanan. Jarak dari kota Klaten ± 15 km kearah barat. Candi ini terdiri dari sebuah candi induk yang diapit oleh candi Perwara yang berjumlah 240 buah dan candi Apit 8 buah. Karena jumlah candi tersebut cukup banyak maka disebut candi Sewu. Candi ini didirikan pada abad IX oleh salah seorang penganut agama Budha Maha Yana Luas Candi 14.059.488 m2 Fungsi sebagai obyek wisata peninggalan benda bersejarah Pengunjung rata rata ± 2.000 orang tiap bulan

Foto Galeri
Keterangan Gambar...
Keterangan Gambar...

Makam Ki Brojohanilo ( Watu Jaran )

Makam Ki Brojohanilo ( Watu Jaran )
solorayaonline: (klaten)Makam Ki Brojohanilo ( Watu Jaran ), Makam ki Brojohanilo, terletak di Dukuh Jonilo, Desa Sajen, Kecamatan Trucuk.di makam ini terdapat batu yang berbentuk kuda yang bernama Eyang Megantoro. yang konon adalah peliharaan Ki Brojonilo. kuda ini kadang menampakkan wujudnya dan berkeliling kampung pada malam hari, kalau akan terjadi sesuatu di desa tersebut. Obyek ini sering di gunakan untuk menyepi demi terwujudnya suatu keinginan tertentu dan juga ziarah.

Foto Galeri



Obyek Wisata Mata Air Cokro ( OMAC )

Solorayaonline: Obyek Wisata Mata Air Cokro ( OMAC ), Obyek Wisata Mata Air Cokro ( OMAC )memiliki luas ± 15.000 m2 terbentang dipinggiran kali busur yang mengalir dari utara ke selatan, sehingga pengunjung yang akan memasuki obyek wisata ini harus meniti jembatan gantung yang justru merupakan daya tarik sendiri dari obyek obyek wisata yang lain. OMAC dengan panorama alamnya yang sejuk dan indah, dan juga disini ada kolam renang,waterboom, warung warung untuk santai serta lahan untuk tempat peristirahatan yang teduh di bawah rindangnya pepohonan yang besar dan kicauan burung. Obyek wisata ini sangat ramai apabila menjelang bulan puasa tiba banyak pengunjung yang padusan di obyek ini dengan kepercayaan bahwa puasanya akan dapat lancer tanpa halangan suatu apapun harinya yaitu (H -2). Dari prasarana yang ada Obyek Wisata ini dapat dicapai melalui : - Klaten - Karanganom - Tulung - OMAC - Delanggu - Polanharjo - OMAC - Klaten - Jatinom - Tulung - OMAC - Banyudono - Boyolali - Tulung - OMAC Jarak ± 17km kearah utara dari kota Klaten Terletak Di Desa Cokro Kecamatan Tulung. Luas Kawasan 15.000 m2 Fungsi Sebagai tempat rekreasi, dan air dipergunakan untuk air minum Kraton Surakarta Hadiningrat atas prakarsa Paku Buwono ke X

Wisata Di KLaten

Pariwisata

Stasiun kereta api Klaten (tahun 1903-1910)
Di Jatinom, upacara tradisional Sebaran Apem Yaqowiyu diadakan setiap bulan Sapar. Di Palar, Trucuk, Klaten bersemayam pujangga dari Kraton Solo bernamaRonggo Warsito. Keindahan alam dapat dinikmati di daerah Deles, sebuah tempat sejuk di lereng Gunung MerapiRowo Jombor tempat favorit untuk melihat waduk. Terdapat juga Museum Gula, di Gondang Winangun yang terletak sepanjang jalan Klaten - Yogyakarta.
Di Kecamatan Tulung sebelah timur terdapat serangkaian tempat bermunculannya mata air pegunungan yang mengalir sepanjang tahun, dan dijadikan obyek wisata. Wisata yang bisa dinikmati di sana adalah wisata memancing dan pemandian air segar. Banyak tempat pemandian yang bisa dikunjungi baik yang berbayar maupun tidak berbayar, seperti Umbul Nilo (gratis), Umbul Penganten (gratis), Umbul Ponggok (berbayar), Umbul Cokro (berbayar) dan umbul lainnya. Namun kalau untuk wisata memancing semua harus berbayar karena dikelola oleh usaha warga. Letak pemancingan yang terkenal adalah di desa Janti. Sambil memancing pengunjung dapat juga menikmati masakan ikan nila, lele, atau mas goreng berbumbu sambel khas dengan harga sangat terjangkau. Tiap hari libur perkampungan ini sering mengalami kemacetan karena membludaknya pengunjung dari kota Solo, Semarang dan Yogya.
Di Kecamatan Bayat, Klaten, tepatnya di kelurahan Paseban, Bayat, Klaten terdapat Makam Sunan Bayat atau Sunan Pandanaran atau Sunan Tembayat yang memiliki desain arsitektur gerbang gapura Majapahit. Makam ini menjadi salah satu tempat wisata ziarah Para Wali. Pengunjung dapat memarkir kendaraan di areal parkir serta halaman Kelurahan yang cukup luas. Setelah mendaki sekitar 200 anak tangga, akan ditemui pelataran dan Masjid. Pemandangan dari pelataran akan nampak sangat indah di pagi hari.
  1. Ayam Bakar Klaten
  2. Sate Kambing
  1. Payung Kertas - Juwiring

Hari Jadi Klaten

Hari jadi

Daerah Kabupaten Klaten semula adalah bekas daerah swapraja Surakarta. Kasunanan Surakarta terdiri dari beberapa daerah yang merupakan suatu kabupaten. Setiap kabupaten terdiri atas beberapa distrik. Susunan penguasa kabupaten terdiri dari Bupati, Kliwon, Mantri Jaksa, Mantri Kabupaten, Mantri Pembantu, Mantri Distrik, Penghulu, Carik Kabupaten angka 1 dan 2, Lurah Langsik, dan Langsir.
Susunan penguasa Distrik terdiri dari Pamong Distrik (1 orang), Mantri Distrik (5), Carik Kepanawon angka 1 dan 2 (2 orang), Carik Kemanten (5 orang), Kajineman (15 orang).
Pada zaman penjajahan Belanda, tahun 1749, terjadi perubahan susunan penguasa di Kabupaten dan di Distrik. Untuk Jawa dan Madura, semua propinsi dibagi atas kabupaten-kabupaten, kabupaten terbagi atas distrik-distrik, dan setiap distrik dikepalai oleh seorang wedono.
Pada tahun 1847 bentuk Kabupaten diubah menjadi Kabupaten Pulisi. Maksud dan tujuan pembentukan Kabupaten Pulisi adalah di samping Kabupaten itu menjalankan fungsi pemerintahan, ditugaskan pula agar dapat menjaga ketertiban dan keamanan dengan ditentukan batas-batas kekuasa wilayahnya.
Berdasarkan Nawala Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwana Senopati Ing Alaga Abdul Rahman Sayidin Panata Gama VII, Senin Legi 23 Jumadilakhir Tahun Dal 1775 atau 5 Juni 1847 dalam bab 13 disebutkan :
“……………………………….” KratonDalam Surakarta Adiningrat Nganakake Kabupaten cacah enem.
“………………………………” Kabupaten cacah enem iku Nagara SurakartaKartosuroKlatenBoyolaliAmpel, lan Sragen.
“………………………………” Para Tumenggung kewajiban rumeksa amrih tata tentreme bawahe dhewe-dhewe serta padha kebawah marang Raden Adipati.

Asal Muasal KLaten

Asal mula nama

Ada dua versi yang menyebut tentang asal muasal nama Klaten. Versi pertama mengatakan bahwa Klaten berasal dari kata kelati atau buah bibir. Kata kelati ini kemudian mengalami disimilasi menjadi Klaten. Klaten sejak dulu merupakan daerah yang terkenal karena kesuburannya.
Versi kedua menyebutkan Klaten berasal dari kota Melati. Kata Melati kemudian berubah menjadi Mlati. Berubah lagi jadi kata Klati, sehingga memudahkan ucapan kata Klati berubah menjadi kata Klaten. Versi ke dua ini atas dasar kata-kata orangtua sebagaimana dikutip dalam buku Klaten dari Masa ke Masa yang diterbitkan Bagian Ortakala Setda Kab. Dati II Klaten Tahun 1992/1993.
Melati adalah nama seorang kyai yang pada kurang lebih 560 tahun yang lalu datang di suatu tempat yang masih berupa hutan belantara. Kyai Melati Sekolekan, nama lengkap dari Kyai Melati, menetap di tempat itu. Semakin lama semakin banyak orang yang tinggal di sekitarnya, dan daerah itulah yang menjadi Klaten yang sekarang.
Dukuh tempat tinggal Kyai Melati oleh masyarakat setempat lantas diberi nama Sekolekan. Nama Sekolekan adalah bagian darinama Kyai Melati Sekolekan. Sekolekan kemudian berkembang menjadi Sekalekan, sehingga sampai sekarang nama dukuh itu adalah Sekalekan. Di Dukuh Sekalekan itu pula Kyai Melati dimakamkan.
Kyai Melati dikenal sebagai orang berbudi luhur dan lagi sakti. Karena kesaktiannya itu perkampungan itu aman dari gangguan perampok. Setelah meninggal dunia, Kyai Melati dikuburkan di dekat tempat tinggalnya.
Sampai sekarang sejarah kota Klaten masih menjadi silang pendapat. Belum ada penelitian yang dapat menyebutkan kapan persisnya kota Klaten berdiri. Selama ini kegiatan peringatan tentang Klaten diambil dari hari jadi pemerintah Kab Klaten, yang dimulai dari awal terbentuknya pemerintahan daerah otonom tahun 1950.

Pengrajin Cor Logam Ceper Dapat Berkah dari Gempa Jepang

Minimnya pasokan suku cadang dari Jepang karena bencana gempa dan tsunami menjadi berkah tersendiri bagi pengusaha pengecoran baja di Indonesia. Impor beberapa suku cadang mesin industri ke Indonesia dipastikan terhambat.
fotoPengusaha di Semarang, Jawa Tengah terpaksa mengalihkan pesanan suku cadangnya ke produksi lokal. Berkahpun didapat pengusaha dari Klaten Jawa Tengah. Hal ini diakui oleh Husein Syifak, salah satu pengusaha pengecoran tembaga di Ceper, Klaten.
Menurut dia, para pengrajin di Ceper sudah mengalami peningkatan order, baik untuk pembuatan suku cadang mesin tekstil, otomotif, pompa air ataupun mesin yang lain.
"Khusus di pabrik Saya, peningkatan order mencapai 40 persen," ujar Husein yang juga pemilik PT Bahama Lasakka yang kapasitas produksinya mencapai 250 ton per bulan.

Dikatakannya, dari sisi kualitas, produk suku cadang lokal tidak kalah dengan produk asli Jepang atau Cina.Hal ini disebabkan beberapa pengrajin sebelumnya juga sudah mengerjakan pesanan dari pabrikan Jepang.

Dia berharap, menurunnya pasokan suku cadang dari Jepang dijadikan oleh para pengrajin untuk meningkatkan produksi dan menunjukkan bahwa dari sisi kualitas juga tidak kalah dengan negara lain. "Pengrajin juga harus lebih pro aktif mendekati kalangan industri untuk memenuhi kebutuhan suku cadang".

Husein juga berharap, pemerintah memberi dukungan kepada para pengrajin cor tembaga dengan memberikan akses modal, mempermudah pengadaan bahan baku dan pembinaan.

Nasib Mengenaskan Lurik Tradisional.

Nasib kain lurik tangan atau yang diproduksi dengan alat tenun bukan mesin (ATBM) dimungkinkan akan terus terpinggirkan, karena sekarang muncul jenis lurik printing maupun tekstil motif lurik. Dua produk lurik ini semakin banyak ditemukan di pasaran, sementara kain lurik tradisional justru menghilang. Inilah problematika pasaran kain lurik di Pasar Klewer Solo.
“Sekarang ini lurik tangan semakin sulit ditemukan. Ketika kami mencoba datang ke Klaten, ternyata perajin tidak memproduksi karena kesulitan bahan baku,” jelas Abdul Kadir, seorang pedagang lurik di Pasar Klewer. Sementara dari Bandung maupun Pekalongan telah muncul jenis lurik yang dibuat pabrik tekstil maupun printing.
Kehadiran lurik tekstil maupun printing dipastikan mengancam jenis lurik tradisional. Apalagi kalau pemerintah tidak segera turun tangan untuk membantu menyelesaikan kesulitan yang dihadapi para perajin lurik tangan. “Dari pengakuan para perajin, mereka kesulitan benang. Benang tidak saja harganya mahal, tapi sudah menghilang,” ujar Abdul Kadir.
Munculnya lurik printing buatan pabrik yang membanjiri Pasar Klewer Solo memang terkesan ironis. Ketika pemerintah mendorong pemakaian lurik tradisional, yang muncul justru buatan pabrik.
Buatan Bandung
Menurut Abdul Kadir sudah beberapa bulan terakhir ini, tekstil motif lurik buatan Bandung menyerbu bursa tekstil terbesar di Jawa Tengah, Pasar Klewer. “Motif sama persis kain lurik tradisional, namun harganya lebih murah.”
Pedagang lainnya Nining menambahkan pembeli ternyata mulai menyukai kain lurik printing buatan pabrik. Selain harganya murah, warnanya lebih awet, tidak luntur, tidak mengkerut (menyusut), lebih lebar dan mudah perawatannya.
Sedangkan kain lurik tradisional meski dipakai lebih adem, namun warnanya gampang pudar dan mengkerut. “Banyak yang suka jenis printing karena harganya murah Rp 25.000/meter, sementara kain lurik Rp 55.000/potong,” Abdul Kadir memaparkan.
Para pedagang pun menyimpulkan jika kain lurik printing lebih menarik perhatian konsumen, maka dikhawatirkan akan mengancam kain lurik tradisional.
Meski pemerintah telah menetapkan kain lurik sebagai bagian busana nasional dan menjadi seragam sejumlah instansi, namun nasibnya akan ditelan kain lurik produk pa

Bajnir rendam ratusan hektar sawah di Klaten

Hujan deras di Klaten, Jawa Tengah, Jumat (25/3) malam menyebabkan tanggul kali di Bometen, Desa Ngandong, Kecamatan Gantiwarno, jebol. Akibatnya ratusan hektare tanaman padi di areal persawahan di daerah tersebut terendam banjir. 

Tanggul setinggi 2,5 meter itu jebol 12 meter diterjang banjir karena pintu air tidak berfungsi optimal. Selain itu, kondisi tanggul dan talud yang dibangun sejak 35 tahun lalu itu hingga sekarang belum pernah dilakukan perbaikan. 

Kepala Desa Ngandong Joko Daryono, Minggu (27/3) mengatakan banjir merendam puluhan hektare tanaman padi berumur 1-2 bulan. Jika air tidak cepat surut petani terancam gagal panen. Akibat banjir petani rugi hingga ratusan juta rupiah. 

Perbaikan tanggul dan talud tahap awal akan dilakukan secara gotong-royong warga. Untuk itu, dibutuhkan sekitar 5.000 karung plastik dan 25 lembar dinding bambu. "Kami juga telah mengajukan bantuan kepada pemerintah kabupaten

Lahar Dingin Terjang Jembatan di Klaten

Banjir lahar dingin kembali membuat kerusakan. Sebuah jembatan di Desa Panggang, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Ahad (27/3), putus akibat terjangan material lumpur dan bebatuan dari puncak Gunung Merapi. 

Aktivitas masyarakat sekitar otomatis terganggu. Mereka terpaksa mencari jalur alternatif untuk mencapai desa seberang. Kondisi serupa terjadi di beberapa daerah lain sejak beberapa bulan terakhir.

Ancaman banjir lahar dingin juga melanda sekitar kawasan Kali Putih. Sungai tersebut terus mengalami pendangkalan. Alhasil, posisi sejumlah desa di Kecamatan Salam, Magelang, Jateng, kini berada di bawah Kali Putih.

Selain posisi yang lebih tinggi dari permukiman, tanggul penahan air Kali Putih juga sering jebol. Akibatnya, material lumpur terus mengalir ke rumah warga 

Wereng masih mengganas di Delanggu


Di tengah ancaman serangan hama wereng batang cokelat (WBC), surplus produksi beras tahun ini mencapai 28.651 ton. Surplus sebanyak itu disebabkan beberapa wilayah sentra produsen beras mulai panen setelah tahun lalu terpuruk akibat serangan WBC. "Sampai bulan Maret surplus sudah di angka 28.651 ton karena beberapa wilayah sudah panen," ungkap Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Pertanian, Ir Wahyu Prasetyo, Minggu (27/3).
Dijelaskannya, dari luas lahan tanam tahun 2011 seluas 24.000 hektare sebagian sudah mulai panen. Wilayah sentra produksi beras seperti Kecamatan Delanggu, Wonosari, Juwiring, Polanharjo dan Karanganom bahkan sudah mayoritas panen. Panen yang dilakukan di wilayah sentra beras itu mendukung besaran surplus meski tahun lalu sempat terpukul akibat serengan wereng.
Pola serangan wereng yang berpindah ke wilayah selatan menyebabkan wilayah sentra produsen beras memiliki kesempatan panen. Kondisi serangan sendiri sampai bulan ini masih relatif terkendali. Dari luas lahan tanam seluas itu baru 1.384 yang terserang WBC dengan total puso 221 hektare. Dengan demikian, surplus sudah cukup lumayan untuk mengejar target surplus produksi total tahun ini tercapai. Tahun 2011, target surplus yang direncanakan Pemkab mencapai 90.000 ton.
Angka surplus tahun ini, kata Wahyu , diakui menurun dibandingkan tahun lalu. Capaian surplus tahun 2010 lalu sebesar 95.000 ton dan tahun 2009 mencapai 121.000 ton. Penurunan itu disebabkan Pemkab tidak terlalu muluk berharap sebab nyatanya serangan WBC masih muncul. Namun demikian dengan berbagai upaya Dinas akan berupaya mencapai target surplus 90.000 ton di akhir tahun 2011.

Tujuh Dusun di Kemalang Akan Direlokasi

KLATEN – Warga di tujuh dusun di kawasan Kecamatan kemalang, Klaten terancam direlokasi. Hal itu seiring telah keluarnya peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Ketujuh dusun tersebut yaitu Dusun Gondang, Sambungrejo, Ngipiksari, Banjarsari dan Dusun Balerante di Desa Balerante. Berikutnya Dusun Pajegan (Desa Tegalmulyo) dan Dusun Petung (Desa Sidorejo). 
Dalam peta yang baru saja dikeluarkan PVMBG itu memasukkan 7 dusun tersebut dalam KRB 3 yang ditandai dengan warna merah menyala. Warna merah menyala ini untuk menandai daerah yang paling sering terkena bencana.
“Setelah ini, kami akan langsung sosialisasikan kepada warga dan juga perangkat desa,” ujar Koordinator Satlak Penanggulangan Bencana Klaten Joko Rukminto, Jumat (11/3).
Sosialisasi yang dimaksudkan Joko Rukminto adalah terkait apa saja konsekuensi dari warga yang berada di daerah KRB 3, di antaranya adalah tidak diperbolehkan untuk ditinggali. Namun bukan berarti warga harus melepaskan tanahnya begitu saja. 
“Tanah masih tetap menjadi milik warga,” terang Joko. Tanah warga pengungsi korban erupsi Merapi masih tetap menjadi hak milik mereka, dan boleh untuk digunakan sebagai lahan pertanian, perkebunan, atau kegiatan lainnya. “Tetapi tidak untuk digunakan sebagai tempat tinggal menetap,” tandasnya. 
Selanjutnya, warga pengungsi korban erupsi Merapi akan diberi penjelasan mengenai rencana relokasi yang telah diwacanakan oleh Pemerintah Kabupaten Klaten. 
Ada 115 rumah warga yang telah didaftar untuk direlokasi dan dibangunkan rumah baru di tanah bengkok milih Kadus I Balerante seluas 2,8 hektare. Masing-masing rumah diperkirakan butuh alokasi dana sebesar Rp 26 juta. 
Kepala Desa Balerante Sukono mengaku belum melihat peta KRB yang baru dikeluarkan PVMBG. Hanya saja, dirinya mengatakan bahwa warga tidak keberatan seandainya memang harus dilakukan relokasi. Karena saat ini kondisi rumah di desa-desa KRB 3 memang hanya tinggal puing-puing. Untuk daerah yang masuk KRB 2 yaitu Desa Panggang, Desa Balerante. KRB 1 yaitu sebagian Desa Balerante dan Desa Sukorini. 

IAIN (STAIN Surakarta) bangun kampus terpadu di Delanggu

Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Surakarta akan resmi menyandang status menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN). Hal itu ditandai dengan turunnya Surat Keputusan (SK) alih status dari Kementerian Agama (Kemenag) Pusat tertanggal 3 Januari lalu. Pembantu Bidang Akademik STAIN, Mudhofir, saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Selasa (25/1), mengatakan pihaknya sedang menyiapkan proposal terkait Organisasi, Tata Kerja dan Statuta untuk memuluskan langkah perubahan status tersebut.
“Target kami, status baru ini akan diresmikan Dirjen Kemenag selambat-lambatnya dua bulan setelah SK turun. Sekarang kami sedang menyiapkan beberapa kelengkapannya,” ujarnya. Terkait alih status tersebut, Mudhofir menjelaskan akan ada perubahan terkait eselonisasi. Setelah berubah menjadi IAIN, imbuhnya, jabatan Ketua STAIN akan berubah menjadi Rektor STAIN. Selain itu, akan ada penggabungan beberapa jurusan menjadi sebuah fakultas.
“Prinsipnya, semua jurusan naik kelas menjadi fakultas. Sedangkan program studi akan berubah menjadi jurusan,” terangnya. Menurut Mudhofir, perubahan status tersebut akan memudahkan pihaknya dalam mengembangkan kualitas pendidikan. Selama masih berstatus STAIN, jelasnya, sulit untuk mengembangkan pendidikan karena masih dibatasi aturan kelembagaan.
Ia menambahkan, STAIN juga memiliki rencana jangka panjang untuk meningkatkan status menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). Oleh karena itu, saat ini pihaknya sedang membangun kampus baru di daerah Pakis, Klaten sebagai langkah untuk menambah daya tampung mahasiswa. “Pembangunan kampus direncanakan rampung tahun 2012. Paling tidak, empat tahun lagi harapan tersebut bisa benar-benar diwujudkan,” tandasnya.

Pemkab Klaten Ajukan Anggaran Rp 4,5 M

Pemkab Klaten Ajukan Anggaran Rp 4,5 M

image Jalur alternatif ke Kota Solo melalui jembatan Abang di perbatasan Desa Blimbing, Kecamatan Gakat, Kabupaten Sukoharjo dan Desa Bolali, Kecamatan Wonosari, Klaten ditutup bagi semua jenis kendaraan. Penutupan dilakukan karena jembatan perbatasan tersebut masih dibiarkan terbengkalai setelah ambrol dilewati dua truk.
"Jembatan belum bisa dilalui sehingga warga harus memutar," ungkap Jito, warga Dusun Pajangan, Desa Bolali, Kecamatan Wonosari, Minggu (6/2). Menurutnya setelah jembatan ambruk warga kesulitan melintas. Baik warga asal Klaten yang akan ke Solo atau sebaliknya.
Untuk sementara warga harus memutar melalui Desa Duwet, Kecamatan Wonosari atau melalui Jl Yogya-Solo. Dengan memutar jarak tempuh semakin jauh padahal jika melewati jembatan tersebut warga bisa menyingkat jarak. Melalui jembatan itu warga Klaten yang akan ke Solo hanya melintasi Pasar Gawok lurus ke timur sudah sampai di Pajang, Kecamatan Laweyan, Solo.
Sementara jika memutar dari Jalan Yogya-Solo masih harus melalui Kecamatan Kartasura. Pantauan di lokasi, kondisi jembatan sendiri sampai Minggu (6/2) masih dibiarkan mangkrak.
Badan jembatan yang ambrol dan besinya yang putus masih dibiarkan terbengkalai. Bahkan, sejumlah warga hanya menjadikan bangkai jembatan tua itu sebagai tontonan. Untuk menghindari kecelakaan, Pemkab Klaten memasang portal larangan melintas di simpang tiga Jl Pakis-Wonosari agar warga tidak tersesat terlanjur sampai jembatan.
Jalur Penting
Kejadian runtuhnya jembatan menurut Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Pemkab Klaten, Abdul Mursyid MT sudah dilaporkan ke pemerintah pusat. "Laporan disampaikan saat rakor penanganan bencana di Jakarta," katanya.
Laporan disampaikan baik ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian PU. Pemkab mengajukan estimasi anggaran sebesar Rp 4,5 miliar untuk rehab. Namun karena jembatan tersebut ditangani bersama Pemkab Sukoharjo dan Pemprov Jateng, Pemkab Klaten akan menunggu koordinasi.
Apabila tidak disetujui ditangani pusat maka kedua kabupaten atau bersama Pemprov Jateng, mestinya ada sharing lanjutan. Rehab jembatan itu menurutnya mendesak, sebab jembatan itu merupakan jalur ekonomi dan sosial penting bagi warga dua kabupaten untuk mengakses ke Solo atau Yogyakarta.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Klaten, Sudibyo SE mengatakan DPRD sudah melihat langsung lokasi. Kerusakan sudah parah dan tidak bisa ditangani Pemkab. "Untuk itu pemerintah pusat atau Pemrov Jateng harus segera turun tangan karena itu jalur vital," ungkapnya.
Melihat pentingnya jembatan, idealnya jembatan tersebut harus dibangun lebih kuat. Apabila perlu dijadikan jembatan dan jalan raya sekaligus sehingga kendaraan besar bisa melintas. Sebab jalur itu merupakan jalur singkat ke Solo.

Gagal panen kembali ancam Klaten

Gagal panen yang menyerang Kecamatan Gan­ti­war­no, Kla­ten akibat hama wereng dan banjir meluas di Kecamatan Cawas. Kali ini bukan saja menimpa pertanian milik warga, namun para perangkat desa setempat juga ketiban sial.
“Perangkat desa pusing semua. Termasuk saya. Pertanian dua kali gagal panen,” tegas Kepala Desa Balak, Cawas, Klaten, Sutarjo kepada).
Lebih lanjut dia menjelaskan, jumlah pertanian warga yang mengalami gagal panen mencapai 80 hektare. Angka tersebut paling banyak terjadi di Desa Balak, Cawas, Klaten dengan jumlah petani sekitar 240 orang. Selain itu, Desa Japanan serta Desa Tirtomarto juga mengalami hal serupa. “Namun, jumlahnya kami tak tahu persis. Kami hanya dengar keluhan dari warga di sana,” terangnya.
Yang jelas, lanjutnya, gagal panen tersebut terlihat dari hasil panen yang mampu dibawa pulang petani tak lebih dari 20% per lahan. Penyebab utama gagalnya panen di wilayahnya, kata Sutarjo, selain serangan hama wereng juga karena rendaman banjir yang berulangkali menyerang wilayah mereka. “Banjir dan hujan ekstrem akhir-akhir ini membuat pertanian rusak,” terangnya.
Atas peristiwa tersebut, pihaknya telah melaporkan kepada Dinas Pertanian Klaten. “Kami sudah laporkan secara tertulis,” tambahnya.
Gagal panen di daerah tersebut, katanya, berdampak hebat pada kesejahteraan petani dan juga perangkat desa. Perangkat yang hanya mengandalkan sawah bengkok, katanya, saat ini sangat terpuruk. Sebab, kerapnya acara-acara hajatan serta pertemuan warga sangat menguras kantong mereka. “Padahal, sawah bengkok kami gagal panen terus,” paparnya.
Selain 80 hektare sawah yang gagal panen, lanjut Sutarjo, saat ini juga masih ada 40 hektare tanaman padi di Desa Balak yang terancam gagal panen. Hal itu terlihat dari kondisi tanaman yang kini mulai menguning kering.
Camat Cawas, Priharsanto ketika dikonfirmasi hal itu mengaku akan meninjau lokasi pertanian warga yang gagal panen tersebut.
Sebelumnya, gagal panen menyerang pertanian di Kecamatan Gantiwarno. Bahkan, empat Desa diantaranya dinyatakan puso total karena kerusakan akibat wereng mencapai di atas 90%. Sedangkan gagal panen yang kurang dari 90% mencapai 226 hektare. Em­pat de­sa yang puso total itu ialah De­sa Ja­bung, Mu­tih­an, To­wang­san, ser­ta Ce­po­ran yang jumlahnya men­ca­pai 26 hektare.