ASAL MULA KOTA KLATEN

Kota Klaten adalah sebuah kota yang besar dan luas wilayahnya. Kota Klaten termasuk kota eks Karisidenan Surakarta. Letaknya sangat strategis karena berada di jalur lalu lintas dua kota besar yaitu Kota Yogyakarta dan Kota Surakarta (Kota Solo). Kota Klaten banyak menyimpan peninggalan-peninggalan sejarah dan budaya yang beraneka ragam.  Peninggalan- peninggalan  bersejarah itu diantaranya ada yang berupa candi, patung, makam, dan tempat pemujaan. Sedangkan yang berupa budaya diantaranya ada  yang berupa upacara-upacara daerah dan adat istiadat yang merupakan warisan masa lampau yang kini masih dipertahankan oleh penduduk setempat.
    Mengenai asal mula Kota Klaten sumber data sejarahnya masih sangatlah kurang,  karena tidak ditemukan  bukti- bukti sejarah baik yang berupa prasasti atau pun naskah/ tulisan sejarah yang mendukung. Asal mula Kota Klaten hanya bisa dirujuk dari cerita rakyat yang diwariskan orang tua zaman dahulu secara turun temurun atau  dari mulut ke mulut. Konon kata Klaten berasal dari kata Melati. Sebagaimana kebiasaan orang-orang jawa dahulu, untuk  pengucapan kata tertentu seringkali  lidah orang jawa mengalami kesulitan dalam pengucapan. Mereka senang mengubah  kata dengan maksud untuk memudahkan pengucapan. Begitu juga yang terjadi pada kata Melati beberapa kali mengalami perubahan pengucapan yaitu Melati menjadi Mlati, berikutnya  berubah lagi Mlati menjadi Lati. Dalam perkembangannya orang lebih senang menyebut Klati. Nah dari kata klati inilah dengan maksud memudahkan pengucapan kemudian mereka mengubah menjadi Klaten.
    Pada zaman dahulu, Kota Klaten masih berupa hutan belantara. Konon orang yang pertama kali mendiami hutan itu adalah seorang kyai yang bernama Kyai Melati Sekolekan. Keberadaan Kyai Melati Sekolekan di kawasan itu diikuti oleh para pendatang untuk menetap di sekitar tempat tinggal Sang Kyai. Para pendatang itu sangat menghormati Kyai Melati Sekolekan   sebagai sesepuh desa. Kyai Melati Sekolekan juga terkenal berbudi luhur, suka menolong, dan mempunyai ilmu yang sakti.
    Konon Kyai Melati Sekolekan merupakan salah satu murid Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga adalah salah satu dari sembilan wali yang terkenal di Pulau Jawa dengan sebutan Wali Songo. Wali Songo bertugas menyebarkan agama Islam. Sunan Kalijaga berasal dari Kerajaan Demak. Sepanjang hidup Sunan Kalijaga hanya untuk beribadah memyebarkan ajaran agama Islam. Sunan Kalijaga senang mengadakan perjalanan panjang menjelajahi desa, turun gunung, dan menerobos hutan belantara yang wingit/ bahaya  untuk berdakwah mengajak kebaikan kepada  umat manusia. Dalam perjalananan dakwahnya Sunan Kalijaga sering menjumpai orang-orang yang berniat jahat yang hendak mencelakan atau mencoba menantang adu kesaktian pada dirinya, namun beliau dengan arif mampu menyadarkan orang-orang jahat tersebut untuk kembali ke jalan yang benar. Bahkan banyak dari mereka yang dulu jahat memasrahkan jiwa raganya minta dijadikan sebagai murid Sunan Kalijaga.  Salah satu murid itu  adalah  bernama Sunan Geseng.
    Sunan Kalijaga sering terjun langsung untuk menyaksikan sendiri kinerja para pejabat bawahan yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Demak. Dikisahkan ada salah satu pejabat bawahan yang bernama Ki Ageng Pandanaran menyalahgunakan kekuasaan. Sunan Kalijaga saat  itu terpanggil  untuk datang memberi peringatan. Ki Ageng Pandanaran tidak disenangi oleh rakyatnya karena terkenal kikir dan gila harta. Berkat peringatan  yang diberikan oleh Sunan Kalijaga dengan menyamar sebagai tukang rumput,  akhirnya Ki Ageng Pandanaran  sadar dan mengajak istrinya untuk  meninggalkan semua harta dan kekuasaannya untuk mengikuti ajaran Islam. Ki Ageng Pandanaran pun menjadi  murid Sunan Kalijaga. Kisah Ki Ageng Pandanaran dan istrinya  ini melegenda dengan Cerita terjadinya Salatiga. Kelak Ki Pandanaran diangkat menjadi wali terakhir menggantikan Syek Siti Jenar dengan gelar Sunan Tembayat dan berkedudukan di Gunung Jabalkat, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten.
    Pada kisah lain, Sunan Kalijaga pernah juga memberi petunjuk kepada Raden Majastan. Raden Majastan adalah salah seorang pangeran keturunan Majapahit. Raden Majastan beserta para pangeran yang lain melarikan diri dari Majapahit akibat perang saudara yang berlarut-larut di negerinya.  Konon Raden Majastan pernah beradu ilmu dan kesaktian dengan Sunan Kalijaga. Berkat petunjuk Sunan Kalijaga yang telah berhasil mengalahkan ilmu dan kesaktiannya Raden Majastan bersedia menuruti petunjuk Sunan Kalijaga untuk bermukim di atas bukit yang berada di perbatasan Klaten dan Sukoharjo. Kelak bukit itu dikenal sebagai Bukit Majasto dan  Raden Majastan disebut dengan nama Ki Ageng Majasto.
    Kisah asal mula Kyai Melati Sekolekan menjadi murid Sunan Kalijaga, diawali dari pertemuan keduanya dalam pengembaraan. Sebagaimana adat kebiasaan orang jawa zaman dahulu seseorang akan mengakui kelebihan orang lain dengan cara adu ilmu dan kesaktian. Konon Kyai Melati Sekolekan pernah beradu ilmu dan kesaktian dengan Sunan Kalijaga. Berawal dari itu  Kyai Melati Sekolekan  merasa ilmu dan kesaktiannya masih sangat dangkal di hadapan Sunan Kalijaga. Dan akhirnya Kyai Melati sekolekan bersedia untuk memeluk agama Islam dan turut menyebarkan agama Islam di wilayah Kota Klaten sekarang.
Berbekal ilmu agama  serta kesaktian dari hasil berguru kepada Sunan Kalijaga, maka di pedukuhan Kyai Melati sekolekan aman dan tentram. Tidak ada gerombolan penjahat yang berani menjarah atau berbuat onar di pedukuhan itu. Maka dalam waktu singkat pedukuhan Kyai Melati Sekolekan cepat berkembang menjadi sebuah desa yang ramai. Kyai Melati Sekolekan pantas menjadi sosok panutan, pengayom, dan sesepuh bagi warganya.
    Bagi warga Kyai Melati Sekolekan adalah sosok yang sangat dicintai rakyat, sampai akhir  hayat beliau hanya untuk mengabdi di desanya. Warga sangat kehilangan sosok yang didambakannya. Dengan iringan doa mereka mengantar kepergiannya. Untuk mengenang dan menghormati jasa- jasa beliau warga desa sepakat untuk memakamkan di dekat tempat tinggalnya. Dan selanjutnya warga desa menamai desa mereka dengan nama Klaten. Sebagaimana dikisahkan di awal bahwa kata Klaten semula berasal dari kata Melati, yaitu diambil dari nama Kyai Melati. Dari tahun ke tahun desa Klaten semakin ramai, daerah wilayahnya semakin luas, dan padat penduduknya. Jadi yang semula Klaten berupa kawasan hutan belantara sekarang menjelma menjadi sebuah kota besar yaitu Kota Klaten.
    Keberhasilan Kota Klaten menyebabkan munculnya dukuh-dukuh baru di sekitarnya. Dukuh-dukuh itu antara lain Dukuh Janggrangan. Dukuh Janggrangan semula hanya kawasan yang berupa segerombolan pohon-pohon besar. Dukuh lainnya adalah Dukuh Dayekan. Dukuh Dayekan ini pada zaman dahulu yang mendirikan adalah para Kyai. Dukuh-dukuh itu sekarang terletak di Desa Pandes, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten.
    Di desa kecil tempat peristirahatan terakhir Kyai Melati Sekolekan yaitu makam Kyai Melati Sekolekan. Makam itu sampai sekarang masih dihormati dan dirawat oleh penduduk Klaten dan sekitarnya. Makam itu mengingatkan kembali  akan  jasa-jasa beliau sebagai orang yang pertama kali tinggal di Desa Klaten dan mengembangkan desa tersebut menjadi sebuah kota besar yaitu Kota Klaten. Makam itu berada di Desa Sekolekan. Nama desa Sekolekan oleh penduduk diambil dari nama belakang Kyai Melati Sekolekan. Sampai saat ini Desa Sekolekan masih ada.

0 komentar:

Post a Comment