Nasib Mengenaskan Lurik Tradisional.
Nasib kain lurik tangan atau yang diproduksi dengan alat tenun bukan mesin (ATBM) dimungkinkan akan terus terpinggirkan, karena sekarang muncul jenis lurik printing maupun tekstil motif lurik. Dua produk lurik ini semakin banyak ditemukan di pasaran, sementara kain lurik tradisional justru menghilang. Inilah problematika pasaran kain lurik di Pasar Klewer Solo.
“Sekarang ini lurik tangan semakin sulit ditemukan. Ketika kami mencoba datang ke Klaten, ternyata perajin tidak memproduksi karena kesulitan bahan baku,” jelas Abdul Kadir, seorang pedagang lurik di Pasar Klewer. Sementara dari Bandung maupun Pekalongan telah muncul jenis lurik yang dibuat pabrik tekstil maupun printing.
Kehadiran lurik tekstil maupun printing dipastikan mengancam jenis lurik tradisional. Apalagi kalau pemerintah tidak segera turun tangan untuk membantu menyelesaikan kesulitan yang dihadapi para perajin lurik tangan. “Dari pengakuan para perajin, mereka kesulitan benang. Benang tidak saja harganya mahal, tapi sudah menghilang,” ujar Abdul Kadir.
Munculnya lurik printing buatan pabrik yang membanjiri Pasar Klewer Solo memang terkesan ironis. Ketika pemerintah mendorong pemakaian lurik tradisional, yang muncul justru buatan pabrik.
Buatan Bandung
Menurut Abdul Kadir sudah beberapa bulan terakhir ini, tekstil motif lurik buatan Bandung menyerbu bursa tekstil terbesar di Jawa Tengah, Pasar Klewer. “Motif sama persis kain lurik tradisional, namun harganya lebih murah.”
Pedagang lainnya Nining menambahkan pembeli ternyata mulai menyukai kain lurik printing buatan pabrik. Selain harganya murah, warnanya lebih awet, tidak luntur, tidak mengkerut (menyusut), lebih lebar dan mudah perawatannya.
Sedangkan kain lurik tradisional meski dipakai lebih adem, namun warnanya gampang pudar dan mengkerut. “Banyak yang suka jenis printing karena harganya murah Rp 25.000/meter, sementara kain lurik Rp 55.000/potong,” Abdul Kadir memaparkan.
Para pedagang pun menyimpulkan jika kain lurik printing lebih menarik perhatian konsumen, maka dikhawatirkan akan mengancam kain lurik tradisional.
Meski pemerintah telah menetapkan kain lurik sebagai bagian busana nasional dan menjadi seragam sejumlah instansi, namun nasibnya akan ditelan kain lurik produk pa
“Sekarang ini lurik tangan semakin sulit ditemukan. Ketika kami mencoba datang ke Klaten, ternyata perajin tidak memproduksi karena kesulitan bahan baku,” jelas Abdul Kadir, seorang pedagang lurik di Pasar Klewer. Sementara dari Bandung maupun Pekalongan telah muncul jenis lurik yang dibuat pabrik tekstil maupun printing.
Kehadiran lurik tekstil maupun printing dipastikan mengancam jenis lurik tradisional. Apalagi kalau pemerintah tidak segera turun tangan untuk membantu menyelesaikan kesulitan yang dihadapi para perajin lurik tangan. “Dari pengakuan para perajin, mereka kesulitan benang. Benang tidak saja harganya mahal, tapi sudah menghilang,” ujar Abdul Kadir.
Munculnya lurik printing buatan pabrik yang membanjiri Pasar Klewer Solo memang terkesan ironis. Ketika pemerintah mendorong pemakaian lurik tradisional, yang muncul justru buatan pabrik.
Buatan Bandung
Menurut Abdul Kadir sudah beberapa bulan terakhir ini, tekstil motif lurik buatan Bandung menyerbu bursa tekstil terbesar di Jawa Tengah, Pasar Klewer. “Motif sama persis kain lurik tradisional, namun harganya lebih murah.”
Pedagang lainnya Nining menambahkan pembeli ternyata mulai menyukai kain lurik printing buatan pabrik. Selain harganya murah, warnanya lebih awet, tidak luntur, tidak mengkerut (menyusut), lebih lebar dan mudah perawatannya.
Sedangkan kain lurik tradisional meski dipakai lebih adem, namun warnanya gampang pudar dan mengkerut. “Banyak yang suka jenis printing karena harganya murah Rp 25.000/meter, sementara kain lurik Rp 55.000/potong,” Abdul Kadir memaparkan.
Para pedagang pun menyimpulkan jika kain lurik printing lebih menarik perhatian konsumen, maka dikhawatirkan akan mengancam kain lurik tradisional.
Meski pemerintah telah menetapkan kain lurik sebagai bagian busana nasional dan menjadi seragam sejumlah instansi, namun nasibnya akan ditelan kain lurik produk pa
0 komentar:
Post a Comment