Calon Pengganti Mbah Maridjan Itu Masih Pikir-pikir Dulu.

SEBETULNYA Ponimin saat ini sudah tidak aktif sebagai abdi dalem. Tahun 2006, Mbah Maridjan mengambil kembali kartu tanda anggota abdi dalem yang dikembalikan ke kraton. “Kulo pancen sampun mboten aktif sejak 2006. Nggih wonten mawon sababipun (Ya, ada saja sebabnya),” aku Poniman namun enggan membeber detail persoalannya.
Terkait tawaran sebagai pewaris tahta Mbah Maridjan itu, Ponimin beralasan, dirinya memiliki kesibukan yang mungkin sulit ditinggalkan dengan tugas-tugas baru sebagai abdi dalem. Dia pun juga masih memikirkan tempat tinggal, yang sekarang ludes digasak isi perut Merapi.
“Saya juga mesti berunding dengan istri. Ini bukan tugas yang gampang karena amanahnya besar,” imbuhnya.
Soal Merapi bagi Poniman juga bukan lagi sesuatu yang baru. Karena dia seperti halnya Mbah Maridjan, setia dengan gunung itu apapun situasi dan kondisinya.
Kesetiaan yang sulit dicerna akal itu dia tunjukkan dengan tetap bertahan di rumah, sekalipun sirine bahaya letusan telah meraung-raung, dan sebagian besar warga di sekitarnya mengungsi. Poniman justru berkumpul bersama istri dan anak-anaknya di dalam rumah, sekalipun gemuruh mengerikan terdengar dari arah utara, atau lereng selatan Merapi.
“Menawi soal Merapi, nggih bagi kulo sampun kados keluarga piyambak (Buat saya Merapi sudah seperti keluarga),” ucap Ponimin sembari mengelus-elus jenggotnya sembari menebar senyum.
Amukan Merapi Selasa (26/10) bagi bukan sesuatu yang luar biasa karena, Poniman mengaku sudah diberitahu oleh “seseorang” beberapa hari sebelumnya. Bahkan, pagi dan sorenya, orang yang sosoknya sudah renta yang dikenalnya secara gaib selama bertahun-tahun, datang menemui dia dan istrinya, Hajah Hayati.
Paling dia ingat tentu saja sesaat sebelum awan panas datang menyerbu, orang tua itu bilang mau minta sesaji korban. “Dinten Sabtu (23/10), kulo nggih kepanggih, dikengken ndamel jenang abang jenang putih supados slamet (Hari Sabtu saya ketemu dan disuruh bikin jenang merah putih kalo ingin selamat),” ungkapnya.
Poniman tidak bilang apa-apa karena menganggap hal seperti itu sudah biasa dialaminya tiap kali Merapi menggelegak. “Waktu itu juga dia bilang, aku arep mbuang uwuh ngidul (aku akan buang kotoran ke selatan),” ujar Ponimin menirukan kata-kata kakek tua yang diyakiniwujud gaib penunggu Merapi yang merupakan salah satu kraton besar para lelembut penjaga keseimbangan alam.
Waktu sorenya, kakek itu datang lagi ke rumah, dan menemui istrinya yang sedang di luar rumah bersamanya sembari memangkas ranting-ranting saat rembang petang menjelang. Cuaca berkabut, dan sebagian besar tetangga Ponimin mengungsi. Anak-anaknya semua tinggal di dalam rumah.
Ponimin mengatakan, “Tiyang meniko sanjang, aku arep ngosak-asik kraton, ewon sik bakal dadi korban yen podo ora nyediakke korban (Orang itu bilang, aku mau menghancurkan kraton, ribuan yang akan jadi korban jika tidak disediakan sesajen).” Sesudah itu kakek itu pergi. Suara gemuruh panjang mulai terdengar di utara rumahnya.
Ponimin meminta semua bertahan di dalam rumah, bahkan ketika mulai terdengar gemeretak api membakar pepohonan, dan abu turun menderas ke sekelilingnya. Aliran listrik saat itu sudah padam. Genting kaca di atap rumahnya pecah, jatuh menjebol plafon. Keluarga Ponimin terus bertahan.
Dia mengatakan ada satu warga Kaliadem, anggota relawan muncul ke rumah naik motor trail. Dia bermaksud mengantar tabung oksigen setelah mendengar Ponimin dan anak-anaknya meminta pertolongan bantuan evakuasi. Tapi orang itu malah celaka karena kemudian terjebak ke abu vulkanik yang masih panas. Kedua kakinya melepuh, dan terpaksa ikut bertahan di rumah Ponimin yang sudah dipenuhi abu dan sekeliling pekarangan dikepung api.
Ponimin memberanikan keluar dari rumah, mencapai mobil Avanza yang terparkir di halaman. Semua yang ada di rumah mencoba masuk ke mobil untuk nekat turun di tengah guyuran abu Merapi. Tapi baru mau berjalan, ban mobil meletus, dan akhirnya Poniman meminta semua orang kembali ke rumah untuk berlindung.
Di dalam rumah, Ponimin mencoba menelepon orang-orang yang dikenalnya agar mengirim bantuan untuk evakuasi. Ada juga telepon yang masuk, dan malah mengatakan hal-hal yang tak mengenakkan yang membuat Ponimin naik pitam.
“Saya nggak tahu siapa itu, tapi saya disuruh terima takdir karena tak ada yang bisa dilakukan untuk menembus Kaliadem. Kulo nggih langsung misuh (Saya ya langsung mengumpat),” urai pria yang mengaku sejak kelas 5 SD mulai menerima “tamu”.
Dia tidak tahu dari mana datangnya ilmu linuwih itu, tapi menurut kakek-kakeknya dari trah Solo. Kelebihan itu agaknya kini telah mewaris ke anak bungsunya, Ilham Galih Habibi, yang masih SD.
Akhirnya usaha meninggalkan rumahnya yang remuk dan sebagian terbakar dicari. Karena mobil tak bisa dipakai, Ponimin mengajak istri dan anak-anaknya turun dengan peralatan seadanya dengan penerangan senter. Sajadah, bantal sofa, bantal mobil, dan semua yang bisa jadi alas dikeluarkan.
Secara estafet, Ponimin dan keluarganya mencapai kendaraan yang mengevakuasi sekitar pukul sepuluh malam, atau hampir empat jam setelah letusan dimulai. Ponimin sempat terpisah dengan istri dan anak-anaknya, karena dia dibawa ke RS Panti Nugroho Pakem, sedangkan istri dan anak-anaknya lebih dulu dibawa pergi.
Ponimin menjadi orang terakhir yang meninggalkan rumah, dan meninggalkan Kaliadem, dusun sunyi yang jadi saksi bisu kemarahan penghuni kerajaan besar di utara, yang disaksikannya secara gaib. “Ini soal keyakinan, boleh percaya atau tidak,” pesannya.
Kepada Tribun, Ponimin mengaku pada hari ketiga setelah letusan sudah mengetahui keadaanrumahnya. “Sudah tak bisa ditempati lagi. Saya harus buat yang baru karena tidak baik buat tamu-tamu saja,” katanya.
Beberapa benda pusaka, seperti keris dan “paku agung”, sudah diserahkan kepadanya. Namun Ponimin kehilangan uang sekitar Rp 25 juta, yang diikat dalam dua gelang plastik, dan disiapkan di meja ruang tamu ketika hendak pergi mengungsi.
“Tidak tahu hilang atau terbakar, yang jelas sudah tidak ada. Tapi ya sudah lah, kami ikhlas,” katanya.
Uang itu tertinggal karena Ponimin dan istrinya pergi tergesa-gesa begitu rumahnya berderak-derak tak kuat menahan beban debu Merapi yang menggunung di atap.

0 komentar:

Post a Comment