Merapi Belum Akhiri Ancaman, Anak Krakatau Bergemuruh
Tidak hanya Gunung Merapi, aktivitas Gunung Anak Krakatau sejak pekan lalu meningkat. Sejumlah warga di Labuan, Banten, mendengar suara gemuruh yang dibarengi dengan getaran dari arah gunung tersebut.
“Gelegarnya setengah jam sekali. Mulai tadi Subuh sampai sekarang masih kedengaran,” kata Fatur, salah seorang warga Lebak yang tinggal di pinggir pantai Carita, Banten, Jumat (29/10).
Menurut Fatur, cuaca di sekitar gunung saat ini mendung. Tidak terlihat gumpalan awan di atas gunung. Sementara, sejak malam terlihat ada percikan lava pijar dari puncak.
“Aktivitas ini terakhir setahun lalu. Sekarang baru terjadi lagi,” tambahnya.
Saat dikonfirmasi, Kepala sub Bidang Pengamatan Gunung BMKG Agus Budianto, membenarkan soal peningkatan aktivitas ini. Sejak pekan lalu, gunung anak Krakatau sudah berstatus waspada.
GUNUNG ANAK KRAKATAU MENGELUARKAN LETUSAN 117 KALI
Gunung Anak Krakatau (GAK) mengeluarkan letusan sebanyak 117 kali, dan suara letusannya terdengar hingga Anyer, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.
“Aktivitas GAK sudah mulai mengeluarkan letusan sejak tanggal 27 Oktober atau dua hari yang lalu,” kata pengamat di Pos Pemantau GAK di Cinangka, Kabupatem Serang, Sikin, Jumat.
Dia menjelaskan, aktivitas GAK saat ini statusnya masih waspada, sehingga nelayan masih bisa melakukan kegiatanya.
“Yang terpenting jangan terlalu dekat, paling dekat di radius 4 kilometer dari GAK,” katanya menambahkan.
Data yang ada di Pos Pemantau katanya, sepanjang tanggal 28 Oktober lalu, selain mengalami letusan sebanyak 117 kali, hembusan 56 kali, tremor atau gerakan 102 kali, dan sinar api terlihat dua kali dengan warna putih kelabu menggumpal, vulkanik dangkal 61 dan vulkanik dalam 12.
“Kondisi kemarin saya ke lokasi, banyak material seperti batu berjatuhan sampai ke laut dari gunung,” katanya menambahkan.
Gunung Anak Krakatau ‘Waspada’, BMKG Kirim Tim Pemantau
Sejumlah warga merasakan peningkatan gemuruh di sekitar gunung anak Krakatau. Tim dari BMKG sudah dikirim ke lokasi untuk terus memantau perkembangan gunung.
“Kita sudah pantau terus untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” tambahnya,” kata Kepala sub Bidang Pengamatan Gunung BMKG Agus Budianto kepada detikcom, Jumat (29/10).
Menurut Agus, aktivitas anak Krakatau tidak memiliki siklus tertentu. Menurut dia, pada tahun 2001 anak Krakatau sempat meletus, lalu berlanjut pada tahun 2007.
“Tahun 2010 beraktivitas lagi. Nggak jelas siklusnya. Makanya kita monitoring terus,” tambahnya.
Agus meminta masyarakat di sekitar lokasi tidak panik. Sebab, jarak antara gunung hingga ke perumahan warga cukup jauh.
“Anak Krakatau dari pantai Lampung dan Pantai Carita itu 40 Km. Kalau di sekitarnya kosong sama sekali,” tutupnya.
8 Gunung Api di Indonesia Berstatus Waspada
Status waspada diberikan kepada delapan gunung api yang ada di Indonesia. Artinya, status bahaya kedelapan gunung tersebut berada di level dua.
Staf Khusus Presiden Bidang Bencana dan Bantuan Sosial Andi Arief, memberikan data delapan gunung yang berstatus waspada tersebut dengan mengacu pada informasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) ESDM.
Berikut ini delapan gunung api berstatus waspada tersebut:
1. Gunung Sinabung, Karo, Sumatera Utara
2. Gunung Talang, Solok, Sumatera Barat
3. Gunung Anak Krakatau, Lampung
4. Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat
5. Gunung Slamet, Tegal, Jawa Tengah
6. Gunung Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah
7. Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur
8. Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur
Status bahaya level I atau aktif normal artinya berdasarkan pengamatan visual, kegempaan dan gejala vulkanik lainnya tidak memperlihatkan adanya kelainan. Level II atau waspada berarti ada peningkatan kegiatan berupa kelainan yang tampak secara visual atau hasil pemeriksaan kawah, kegempaan dan gejala vulkanik lainnya.
Di level III atau siaga, terjadi peningkatan pengamatan kawah secara visual, kegempaan dan metode lain yang saling mendukung. Sedangkan level 4 atau awas, letusan awal mulai terjadi berupa abu/ asap. Hal ini akan diikuti letusan utama.
4 Hari Terakhir Gunung Anak Krakatau Meletus di Atas 100 Kali
Gunung anak Krakatau sedang dalam masa membangun. Status waspada telah disematkan sejak 31 Oktober 2009. Pada empat hari terakhir ini, jumlah letusannya di atas 100 kali.
“31 Oktober menjadi waspada setelah sebelumnya siaga. Lalu jumlah letusannya menurun. Tapi 10 Oktober 2010 kembali lagi ada letusannya,” ujar Kepala Pengamatan Gunung Api daerah Barat Hendrasto saat dihubungi detikcom, Jumat (29/10).
Pada 17 Oktober, dalam sehari ada 45 kali letusan. Lalu selama beberapa hari letusan itu menghilang. Hingga pada 23 Oktober muncul dua kali letusan dan pada 24 Oktober ada 89 kali.
“Pada tanggal 25 ada 126, tanggal 26 ada 182, tanggal 27 ada 101, dan 28 kemarin ada 117 letusan,” papar Hendrasto.
Saat masih berstatus siaga, letusan anak gunung ini hampir mencapai 300 kali dalam sehari. Kini, tinggi asapnya antara 200 meter sampai 1.500 meter.
“Pada umumnya 200-800 meter. Kemarin, tanggal 28 ada beberapakali yang tingginya 1.500 meter,” sambung Hendrasto.
Dia menjelaskan, pada sekitar tahun 80-90an terdapat lelehan lava di anak gunung itu. Namun sejak tahun 2000 aliran lava tidak lagi muncul. Karakter anak gunung ini memang memiliki ketinggian asap maksimum 1.500 meter. Asap berwarna kelabu kehitaman yang menandakan terdapat material abu di dalamnya.
Anak gunung ini tipe erupsinya cenderung strombolian mengarah ke vulkanian. Saat menjadi vulkanian, ketinggian gumpalan asap maksimal sampai dengan 3.000 meter. Ibu dari anak Karakatau ini, menurut Hendrasto, bertipe erupsi plinian di mana ketinggian lontaran material bisa sampai 20 km sehingga abunya ke mana-mana. Tipe ini biasanya ditandai dengan ledakan lava kental.
Tipe lava anak gunung Karakatau adalah basaltik andesit yang jauh lebih cair ketimbang lava ibunya. Kalau tipe lava sudah lebih asam lagi maka itu menunjukkan ke letusan yang lebih besar.
“Tapi selama ini nggak melihat ke situ. Jadi magma sepertinya nggak mungkin meledak seperti dulu (tahun 1883 saat Krakatau meletus hebat),” jelas Hendrasto.
Anak Krakatau Berstatus Waspada, Jaga Jarak Aman 2 Km
Gunung Anak Krakatau berstatus waspada sejak 31 Oktober 2009 lalu. Dalam status ini, warga diminta untuk menjaga jarak aman sejauh 2 kilometer dari anak gunung tersebut.
“Gunung Anak Krakatau sedang masa membangun. Erupsinya bersifat strombolian, sehingga mengeluarkan abu vulkanik. Jadi masyarakat dimohon tidak mendarat atau mendekatinya di radius 2 kilometer,” ujar Kepala Pengamatan Gunung Api Daerah Barat PVMBG Kemnterian ESDM Hendrasto saat dihubungi detikcom, Jumat (29/10).
Letusan Krakatau yang hebat pada 1883 menyisakan kaldera atau kawah besar di Selat Sunda. Tepi kawahnya dikenal sebagai Pulau Rakata, Pulau Panjang dan Pulau Sertung. Pada 1927 kemudian muncul anak dari Gunung Krakatau di kaldera tersebut.
“Dari Pasauran (daerah di Banten-red) kalau cuaca cerah, di siang hari asapnya terlihat. Kalau angin mengarah ke situ, letusannya juga terdengar. 2 Hari lalu ada tim yang menyeberang ke sana (Pasauran) untuk mengamati,” lanjut Hendrasto.
Selain abu, anak gunung itu juga melontarkan material pijar. Saat malam hari dan cuaca cerah, lontaran material pijar ini memang terlihat sangat indah. Karena itu banyak warga dan turis asing yang ingin menyaksikan pemandangan itu. Namun sudah sejak jauh hari telah diberi peringatan agar tidak mendekati objek.
“Dari Pulau Sertung, keindahannya ini bisa dilihat. Sertung sekitar 4 km dari lokasi, sehingga aman. Aktivitas nelayan dan penyeberangan juga masih tetap bisa berlangsung seperti biasa asalkan menjaga jarak aman 2 km itu,” terang Hendrasto.
Dia mengingatkan agar warga tidak mengamati letusan Gunung Anak Krakatau dari Pulau Panjang dan Rakata. Sebab kedua pulau itu agak curam sehingga berbahaya. “Biasanya banyak yang penasaran jadi pada mendekat. Tapi tolong perhatikan jarak 2 km itu,” imbaunya.
Hendrasto menuturkan, apabila gunung api sering melepaskan energi justru bagus. Ibaratnya seperti orang sakit perut, kalau sudah buang air besar maka akan merasa lega. Demikian pula dengan anak gunung yang telah mencapai ketinggian sekitar 230 meter dari permukaan air laut ini.
“Kalau ada gangguan keseimbangan maka magma naik ke atas, lalu gas terkumpul lagi. Ini tipenya strombolian, jadi saat melontarkan material pijar kayak kembang api dan kelihatan merah,” sambung Hendrasto.
Setiap gunung api aktif, setelah meletus akan meletus lagi, meskipun punya masa istirahat. Pun dengan Gunung Anak Krakatau yang punya kecepatan pertumbuhan ketinggian sekitar 20 inci per bulan ini. Karena masih dalam masa pembangunan, anak gunung ini memang sering kali terjadi letusan kecil.
Ada kekhawatiran warga, aktivitas anak gunung ini akan memicu tsunami di perairan Selat Sunda. Namun Hendrasto mengaku tidak melihat kemungkinan itu. “Tidak ada tanda-tanda itu,” sambungnya.
“Gelegarnya setengah jam sekali. Mulai tadi Subuh sampai sekarang masih kedengaran,” kata Fatur, salah seorang warga Lebak yang tinggal di pinggir pantai Carita, Banten, Jumat (29/10).
Menurut Fatur, cuaca di sekitar gunung saat ini mendung. Tidak terlihat gumpalan awan di atas gunung. Sementara, sejak malam terlihat ada percikan lava pijar dari puncak.
“Aktivitas ini terakhir setahun lalu. Sekarang baru terjadi lagi,” tambahnya.
Saat dikonfirmasi, Kepala sub Bidang Pengamatan Gunung BMKG Agus Budianto, membenarkan soal peningkatan aktivitas ini. Sejak pekan lalu, gunung anak Krakatau sudah berstatus waspada.
GUNUNG ANAK KRAKATAU MENGELUARKAN LETUSAN 117 KALI
Gunung Anak Krakatau (GAK) mengeluarkan letusan sebanyak 117 kali, dan suara letusannya terdengar hingga Anyer, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.
“Aktivitas GAK sudah mulai mengeluarkan letusan sejak tanggal 27 Oktober atau dua hari yang lalu,” kata pengamat di Pos Pemantau GAK di Cinangka, Kabupatem Serang, Sikin, Jumat.
Dia menjelaskan, aktivitas GAK saat ini statusnya masih waspada, sehingga nelayan masih bisa melakukan kegiatanya.
“Yang terpenting jangan terlalu dekat, paling dekat di radius 4 kilometer dari GAK,” katanya menambahkan.
Data yang ada di Pos Pemantau katanya, sepanjang tanggal 28 Oktober lalu, selain mengalami letusan sebanyak 117 kali, hembusan 56 kali, tremor atau gerakan 102 kali, dan sinar api terlihat dua kali dengan warna putih kelabu menggumpal, vulkanik dangkal 61 dan vulkanik dalam 12.
“Kondisi kemarin saya ke lokasi, banyak material seperti batu berjatuhan sampai ke laut dari gunung,” katanya menambahkan.
Gunung Anak Krakatau ‘Waspada’, BMKG Kirim Tim Pemantau
Sejumlah warga merasakan peningkatan gemuruh di sekitar gunung anak Krakatau. Tim dari BMKG sudah dikirim ke lokasi untuk terus memantau perkembangan gunung.
“Kita sudah pantau terus untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” tambahnya,” kata Kepala sub Bidang Pengamatan Gunung BMKG Agus Budianto kepada detikcom, Jumat (29/10).
Menurut Agus, aktivitas anak Krakatau tidak memiliki siklus tertentu. Menurut dia, pada tahun 2001 anak Krakatau sempat meletus, lalu berlanjut pada tahun 2007.
“Tahun 2010 beraktivitas lagi. Nggak jelas siklusnya. Makanya kita monitoring terus,” tambahnya.
Agus meminta masyarakat di sekitar lokasi tidak panik. Sebab, jarak antara gunung hingga ke perumahan warga cukup jauh.
“Anak Krakatau dari pantai Lampung dan Pantai Carita itu 40 Km. Kalau di sekitarnya kosong sama sekali,” tutupnya.
8 Gunung Api di Indonesia Berstatus Waspada
Status waspada diberikan kepada delapan gunung api yang ada di Indonesia. Artinya, status bahaya kedelapan gunung tersebut berada di level dua.
Staf Khusus Presiden Bidang Bencana dan Bantuan Sosial Andi Arief, memberikan data delapan gunung yang berstatus waspada tersebut dengan mengacu pada informasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) ESDM.
Berikut ini delapan gunung api berstatus waspada tersebut:
1. Gunung Sinabung, Karo, Sumatera Utara
2. Gunung Talang, Solok, Sumatera Barat
3. Gunung Anak Krakatau, Lampung
4. Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat
5. Gunung Slamet, Tegal, Jawa Tengah
6. Gunung Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah
7. Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur
8. Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur
Status bahaya level I atau aktif normal artinya berdasarkan pengamatan visual, kegempaan dan gejala vulkanik lainnya tidak memperlihatkan adanya kelainan. Level II atau waspada berarti ada peningkatan kegiatan berupa kelainan yang tampak secara visual atau hasil pemeriksaan kawah, kegempaan dan gejala vulkanik lainnya.
Di level III atau siaga, terjadi peningkatan pengamatan kawah secara visual, kegempaan dan metode lain yang saling mendukung. Sedangkan level 4 atau awas, letusan awal mulai terjadi berupa abu/ asap. Hal ini akan diikuti letusan utama.
4 Hari Terakhir Gunung Anak Krakatau Meletus di Atas 100 Kali
Gunung anak Krakatau sedang dalam masa membangun. Status waspada telah disematkan sejak 31 Oktober 2009. Pada empat hari terakhir ini, jumlah letusannya di atas 100 kali.
“31 Oktober menjadi waspada setelah sebelumnya siaga. Lalu jumlah letusannya menurun. Tapi 10 Oktober 2010 kembali lagi ada letusannya,” ujar Kepala Pengamatan Gunung Api daerah Barat Hendrasto saat dihubungi detikcom, Jumat (29/10).
Pada 17 Oktober, dalam sehari ada 45 kali letusan. Lalu selama beberapa hari letusan itu menghilang. Hingga pada 23 Oktober muncul dua kali letusan dan pada 24 Oktober ada 89 kali.
“Pada tanggal 25 ada 126, tanggal 26 ada 182, tanggal 27 ada 101, dan 28 kemarin ada 117 letusan,” papar Hendrasto.
Saat masih berstatus siaga, letusan anak gunung ini hampir mencapai 300 kali dalam sehari. Kini, tinggi asapnya antara 200 meter sampai 1.500 meter.
“Pada umumnya 200-800 meter. Kemarin, tanggal 28 ada beberapakali yang tingginya 1.500 meter,” sambung Hendrasto.
Dia menjelaskan, pada sekitar tahun 80-90an terdapat lelehan lava di anak gunung itu. Namun sejak tahun 2000 aliran lava tidak lagi muncul. Karakter anak gunung ini memang memiliki ketinggian asap maksimum 1.500 meter. Asap berwarna kelabu kehitaman yang menandakan terdapat material abu di dalamnya.
Anak gunung ini tipe erupsinya cenderung strombolian mengarah ke vulkanian. Saat menjadi vulkanian, ketinggian gumpalan asap maksimal sampai dengan 3.000 meter. Ibu dari anak Karakatau ini, menurut Hendrasto, bertipe erupsi plinian di mana ketinggian lontaran material bisa sampai 20 km sehingga abunya ke mana-mana. Tipe ini biasanya ditandai dengan ledakan lava kental.
Tipe lava anak gunung Karakatau adalah basaltik andesit yang jauh lebih cair ketimbang lava ibunya. Kalau tipe lava sudah lebih asam lagi maka itu menunjukkan ke letusan yang lebih besar.
“Tapi selama ini nggak melihat ke situ. Jadi magma sepertinya nggak mungkin meledak seperti dulu (tahun 1883 saat Krakatau meletus hebat),” jelas Hendrasto.
Anak Krakatau Berstatus Waspada, Jaga Jarak Aman 2 Km
Gunung Anak Krakatau berstatus waspada sejak 31 Oktober 2009 lalu. Dalam status ini, warga diminta untuk menjaga jarak aman sejauh 2 kilometer dari anak gunung tersebut.
“Gunung Anak Krakatau sedang masa membangun. Erupsinya bersifat strombolian, sehingga mengeluarkan abu vulkanik. Jadi masyarakat dimohon tidak mendarat atau mendekatinya di radius 2 kilometer,” ujar Kepala Pengamatan Gunung Api Daerah Barat PVMBG Kemnterian ESDM Hendrasto saat dihubungi detikcom, Jumat (29/10).
Letusan Krakatau yang hebat pada 1883 menyisakan kaldera atau kawah besar di Selat Sunda. Tepi kawahnya dikenal sebagai Pulau Rakata, Pulau Panjang dan Pulau Sertung. Pada 1927 kemudian muncul anak dari Gunung Krakatau di kaldera tersebut.
“Dari Pasauran (daerah di Banten-red) kalau cuaca cerah, di siang hari asapnya terlihat. Kalau angin mengarah ke situ, letusannya juga terdengar. 2 Hari lalu ada tim yang menyeberang ke sana (Pasauran) untuk mengamati,” lanjut Hendrasto.
Selain abu, anak gunung itu juga melontarkan material pijar. Saat malam hari dan cuaca cerah, lontaran material pijar ini memang terlihat sangat indah. Karena itu banyak warga dan turis asing yang ingin menyaksikan pemandangan itu. Namun sudah sejak jauh hari telah diberi peringatan agar tidak mendekati objek.
“Dari Pulau Sertung, keindahannya ini bisa dilihat. Sertung sekitar 4 km dari lokasi, sehingga aman. Aktivitas nelayan dan penyeberangan juga masih tetap bisa berlangsung seperti biasa asalkan menjaga jarak aman 2 km itu,” terang Hendrasto.
Dia mengingatkan agar warga tidak mengamati letusan Gunung Anak Krakatau dari Pulau Panjang dan Rakata. Sebab kedua pulau itu agak curam sehingga berbahaya. “Biasanya banyak yang penasaran jadi pada mendekat. Tapi tolong perhatikan jarak 2 km itu,” imbaunya.
Hendrasto menuturkan, apabila gunung api sering melepaskan energi justru bagus. Ibaratnya seperti orang sakit perut, kalau sudah buang air besar maka akan merasa lega. Demikian pula dengan anak gunung yang telah mencapai ketinggian sekitar 230 meter dari permukaan air laut ini.
“Kalau ada gangguan keseimbangan maka magma naik ke atas, lalu gas terkumpul lagi. Ini tipenya strombolian, jadi saat melontarkan material pijar kayak kembang api dan kelihatan merah,” sambung Hendrasto.
Setiap gunung api aktif, setelah meletus akan meletus lagi, meskipun punya masa istirahat. Pun dengan Gunung Anak Krakatau yang punya kecepatan pertumbuhan ketinggian sekitar 20 inci per bulan ini. Karena masih dalam masa pembangunan, anak gunung ini memang sering kali terjadi letusan kecil.
Ada kekhawatiran warga, aktivitas anak gunung ini akan memicu tsunami di perairan Selat Sunda. Namun Hendrasto mengaku tidak melihat kemungkinan itu. “Tidak ada tanda-tanda itu,” sambungnya.

0 komentar:
Post a Comment