Sultan Pimpin Evakuasi Merapi
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Bowono X terjun langsung memimpin koordinasi penanganan bencana letusan Gunung Merapi di Posko Utama Penanggulangan Bencana Kabupaten Sleman di Pakem, Sleman, malam ini.
Sultan tiba di Posko Utama sekitar pukul 21.00 WIB dan langsung melakukan koordinasi dengan para pejabat di Pemerintah Kabupaten Sleman seperti Bupati Sleman Sri Purnomo, Sekda Sutrisno, TNI dan Kepolisian.
Selain itu, koordinasi ini juga diikuti Tim Pertolongan dan Pencarian (SAR), Palang Merah Indonesia (PMI) serta relawan-relawan yang saat ini berada di Posko Utama.
Data sementara korban di Posko Utama tercatat ada sembilan orang, empat di antaranya mengalami luka bakar, dan sisanya sebagian besar sesak nafas.
Sebagian korban adalah warga Kinahrejo, Kedungsriti dan Kaliurang Barat.
Frekuensi guguran material Gunung Merapi semakin meningkat, bahkan pukul 18.05 WIB tercatat sudah terjadi tiga kali letusan disertai semburan awan panas.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono mengatakan petugas menemukan 15 korban luka bakar akibat semburan awan panas Merapi. Korban itu dilarikan ke beberapa rumah sakit, diantaranya Panti Nugroho Pakem dan RS Sardjito Yogyakarta.
Dia menyebutkan jumlah guguran material pada 24 Oktober tercatat 194 kali, kemudian meningkat menjadi 454 kali sepanjang 25 Oktober, terakhi hingga pukul 06.00 WIB hari ini sebanyak 79 kali guguran.
"Gunung Merapi sudah masuk ke fase erupsi, awan panas dari puncak Gunung Merapi yang terjadi pada Selasa petang sudah meluncur. Petugas di lapangan belum mengetahui secara pasti arah luncuran awan panas itu," katanya.
Informasi Posko Utama Penanggulangan Bencana Gunung Merapi di Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyebutkan luncuran awan panas pertama terjadi sekitar pukul 17.02 WIB, kedua pada pukul 17.19, ketiga pukul 17.24 WIB, terakhir 17.34 WIB.
Triono, petugas Pos PGM Kaliurang mengatakan pihaknya tidak dapat melihat Merapi karena tertutup kabut. "Kami di sini tidak dapat melihat, mungkin benar itu adalah awan panas atau wedus gembel," katanya.
Sultan tiba di Posko Utama sekitar pukul 21.00 WIB dan langsung melakukan koordinasi dengan para pejabat di Pemerintah Kabupaten Sleman seperti Bupati Sleman Sri Purnomo, Sekda Sutrisno, TNI dan Kepolisian.
Selain itu, koordinasi ini juga diikuti Tim Pertolongan dan Pencarian (SAR), Palang Merah Indonesia (PMI) serta relawan-relawan yang saat ini berada di Posko Utama.
Data sementara korban di Posko Utama tercatat ada sembilan orang, empat di antaranya mengalami luka bakar, dan sisanya sebagian besar sesak nafas.
Sebagian korban adalah warga Kinahrejo, Kedungsriti dan Kaliurang Barat.
Frekuensi guguran material Gunung Merapi semakin meningkat, bahkan pukul 18.05 WIB tercatat sudah terjadi tiga kali letusan disertai semburan awan panas.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono mengatakan petugas menemukan 15 korban luka bakar akibat semburan awan panas Merapi. Korban itu dilarikan ke beberapa rumah sakit, diantaranya Panti Nugroho Pakem dan RS Sardjito Yogyakarta.
Dia menyebutkan jumlah guguran material pada 24 Oktober tercatat 194 kali, kemudian meningkat menjadi 454 kali sepanjang 25 Oktober, terakhi hingga pukul 06.00 WIB hari ini sebanyak 79 kali guguran.
"Gunung Merapi sudah masuk ke fase erupsi, awan panas dari puncak Gunung Merapi yang terjadi pada Selasa petang sudah meluncur. Petugas di lapangan belum mengetahui secara pasti arah luncuran awan panas itu," katanya.
Informasi Posko Utama Penanggulangan Bencana Gunung Merapi di Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyebutkan luncuran awan panas pertama terjadi sekitar pukul 17.02 WIB, kedua pada pukul 17.19, ketiga pukul 17.24 WIB, terakhir 17.34 WIB.
Triono, petugas Pos PGM Kaliurang mengatakan pihaknya tidak dapat melihat Merapi karena tertutup kabut. "Kami di sini tidak dapat melihat, mungkin benar itu adalah awan panas atau wedus gembel," katanya.
0 komentar:
Post a Comment