Tsunami Mentawai
Gempa 7,2 Skala Richter (SR) yang mengguncang Mentawai, sekitar pukul 21:42 WIB, Senin (25/10) pada koordinat 3.61 LS-99.93 BT atau 78 km Barat Daya Pagaiselatan, Mentawai. Pada kedalaman 10 km,. ternyata menimbulkan tsunami di Mentawai. Gelombang setinggi enam meter menyapu kawasan Pagai Utara dan Pagai Selatan. Setidaknya, berdasarkan informasi sementara dilaporkan 108 orang tewas, 502 hilang dan ratusan rumah yang rusak.
Dua pulau yang paling dekat dengan pusat gempa itu semula dihuni oleh ribuan warga. Tapi saat gempa, dan gelombang besar menyapu daerah itu, beberapa warga berhasil menyelamatkan diri, dan berpindah ke daerah perbukitan.
"108 orang dinyatakan meninggal, 502 dinyatakan hilang, Pemerintah Mentawai masih terus melakukan upaya pencarian terhadap warga yang hilang terseret gelombang tsunami itu," ujar Ketua DPRD Hendri Dori SatokO.
Pemkab Mentawai mengaku telah mendistribusikan bantuan berupa tenda dan sembako bagi masyarakat korban gempa dan tsunami di daerah tersebut. Bantuan disalurkan menggunakan Kapal Nade milik Pemkab Mentawai. Menjelang siang, Pemkab Mentawai sudah mendistribusikan bantuan kepada masyarakat. Namun, kita masih menghimpun bantuan dari berbagai pihak untuk para korban di Bumi Sikerei ini," harap Hendri.
Akses telekomunikasi ke daerah itu hampir dipastikan lumpuh total. Pasalnya, cukup banyak warga Mentawai yang berada di Kota Padang tak bisa berkomunikasi dengan sanak familinya yang ada di kepulauan yang dilanda tsunami itu, sejak Malam kemarin.
Marwin, 38, warga Sikakap yang berada di Padang mengaku binggung, dan tak tahu harus mengadu kepada pihak mana, guna mengetahui kondisi desanya pasca dilanda tsunami, yang ditimbulkan oleh gempa 7,2 SR yang terjadi Senin (25/10) malam kemarin.
"Sejak gempa terjadi, hubungan komunikasi ke kampung saya otomatis tak lagi nyambung. Saya cukup khawatir terjadi apa-apa dengan mereka," sebut Marwin yang dihubungi Padang Ekspres (Grup JPNN) kemarin. Pria ini mengaku informasi adanya Tsunami melanda Mentawai, baru diketahuinya Selasa siang kemarin. Persisnya beberapa jam setelah kapal yang ditumpanginya dari Mentawai merapat di pelabuhan Muaro Padang.
Diterangkannya, di Mentawai sedikitnya ada enam hingga tujuh tower telepon seluler. Di antaranya 2 unit di Sikakap, 2 unit di Tuapejat, satu unit di Siberut selatan dan lainnya. Sayangnya dari sekian banyaknya tower seluler itu, tidak satu pun berfungsi. Buktinya, tandas Marwin, akses komunikasi ke Mentawai via Hp tak menyambung.
Sementara itu, Polda Sumbar juga mengirim tim medis dan sejumlah kapal karet ke daerah yang terkena tsunami di kepulauan Mentawai. Tim ini akan membantu para korban gempa dan tsunami di Mentawai. "Insya Allah, pagi ini Rabu (27/10) tim dari Polda akan berangkat ke Mentawai. Tim tersebut berjumlah, sekitar 70 orang anggota, terdiri dari anggota Pol Air, tim medis Polda dan anggota Samapta," ungkap Karo Ops Sumbar Polda Sumbar, Kombes Pol Suwardi kepada Padang Ekspres.
Terkait data korban, Suwardi menjelaskan, sampai sekarang data meninggal dunia yang telah ditemukan jasadnya berjumlah sekitar 50 orang. “Ini baru data sementara laporan dari Polres Mentawai. Kita akan terus menunggu dari Mentawai," tambah Suwardi
Dua pulau yang paling dekat dengan pusat gempa itu semula dihuni oleh ribuan warga. Tapi saat gempa, dan gelombang besar menyapu daerah itu, beberapa warga berhasil menyelamatkan diri, dan berpindah ke daerah perbukitan.
"108 orang dinyatakan meninggal, 502 dinyatakan hilang, Pemerintah Mentawai masih terus melakukan upaya pencarian terhadap warga yang hilang terseret gelombang tsunami itu," ujar Ketua DPRD Hendri Dori SatokO.
Pemkab Mentawai mengaku telah mendistribusikan bantuan berupa tenda dan sembako bagi masyarakat korban gempa dan tsunami di daerah tersebut. Bantuan disalurkan menggunakan Kapal Nade milik Pemkab Mentawai. Menjelang siang, Pemkab Mentawai sudah mendistribusikan bantuan kepada masyarakat. Namun, kita masih menghimpun bantuan dari berbagai pihak untuk para korban di Bumi Sikerei ini," harap Hendri.
Akses telekomunikasi ke daerah itu hampir dipastikan lumpuh total. Pasalnya, cukup banyak warga Mentawai yang berada di Kota Padang tak bisa berkomunikasi dengan sanak familinya yang ada di kepulauan yang dilanda tsunami itu, sejak Malam kemarin.
Marwin, 38, warga Sikakap yang berada di Padang mengaku binggung, dan tak tahu harus mengadu kepada pihak mana, guna mengetahui kondisi desanya pasca dilanda tsunami, yang ditimbulkan oleh gempa 7,2 SR yang terjadi Senin (25/10) malam kemarin.
"Sejak gempa terjadi, hubungan komunikasi ke kampung saya otomatis tak lagi nyambung. Saya cukup khawatir terjadi apa-apa dengan mereka," sebut Marwin yang dihubungi Padang Ekspres (Grup JPNN) kemarin. Pria ini mengaku informasi adanya Tsunami melanda Mentawai, baru diketahuinya Selasa siang kemarin. Persisnya beberapa jam setelah kapal yang ditumpanginya dari Mentawai merapat di pelabuhan Muaro Padang.
Diterangkannya, di Mentawai sedikitnya ada enam hingga tujuh tower telepon seluler. Di antaranya 2 unit di Sikakap, 2 unit di Tuapejat, satu unit di Siberut selatan dan lainnya. Sayangnya dari sekian banyaknya tower seluler itu, tidak satu pun berfungsi. Buktinya, tandas Marwin, akses komunikasi ke Mentawai via Hp tak menyambung.
Sementara itu, Polda Sumbar juga mengirim tim medis dan sejumlah kapal karet ke daerah yang terkena tsunami di kepulauan Mentawai. Tim ini akan membantu para korban gempa dan tsunami di Mentawai. "Insya Allah, pagi ini Rabu (27/10) tim dari Polda akan berangkat ke Mentawai. Tim tersebut berjumlah, sekitar 70 orang anggota, terdiri dari anggota Pol Air, tim medis Polda dan anggota Samapta," ungkap Karo Ops Sumbar Polda Sumbar, Kombes Pol Suwardi kepada Padang Ekspres.
Terkait data korban, Suwardi menjelaskan, sampai sekarang data meninggal dunia yang telah ditemukan jasadnya berjumlah sekitar 50 orang. “Ini baru data sementara laporan dari Polres Mentawai. Kita akan terus menunggu dari Mentawai," tambah Suwardi
0 komentar:
Post a Comment