Apa Yang Didapat Dari Kunjungan Obama
Sejumlah kalangan pesimistis kunjungan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Indonesia dapat menggerakkan hubungan strategis bilateral yang akan berimbas pada investasi dan perdagangan.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan kedatangan Obama tidak konkret terhadap bisnis dan tidak akan banyak berimbas pada investasi dan perdagangan dari Amerika Serikat di Tanah Air.
Pasalnya, menurut dia, Pemerintah AS tidak memiliki pengaruh kuat dalam memengaruhi pebisnis di negara itu untuk melakukan investasi di Indonesia. Kondisi ini berbeda dengan China yang sebagian besar perusahaannya adalah BUMN sehingga peran pemerintah terhadap pertumbuhan investasi menjadi sangat besar.
“Jadi saya pesimistis dalam jangka pendek akan ada hasil positif dari kunjungannya terutama untuk investasi dan perdagangan. Saya tidak lihat itu. Mungkin jangka menengah dan jangka panjang, bisa ada realisasinya,” ujarnya.
Dia memperkirakan dampak kunjungan Obama terhadap peluang investasi mungkin baru akan terlihat pada 2 tahun mendatang, seiring dengan pemulihan ekonomi di negaranya.
Ekonom CIDES, Umar Juoro mengatakan kunjungan Obama kali ini memang belum membawa hasil yang konkret dan lebih berupa mewadahi kerja sama yang lebih besar.
“Sekalipun demikian, kunjungan Obama yang singkat ini menaikkan kepercayaan Indonesia di tingkat internasional yang memperkuat minat investasi ke Indonesia.”
Wakil Ketua Kadin Bidang UMKM Sandiaga Uno menggarisbawahi pernyataan Obama soal entrepreneurship. Dia berharap untuk ke depannya hubungan AS-RI bukan hanya dilandasi isu pertahanan, keamanan dan diplomatik, melainkan juga kewirausahaan, perdagangan dan investasi.
“Indonesia menjadi sangat menarik dan strategis sebagai penyeimbang China dan India, Indonesia tiba-tiba setara dalam posisi sebagai pasar potensi AS yang ingin menggandakan nilai eks-pornya. Saya kira kita harus am-bil kesempatan ini sebagai bentuk kesetaraan dalam hubungan kita dengan AS ke depan.”
Setelah dua kali ditunda, Presiden Amerika Serikat Barack Obama akhirnya mendarat di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta sore ini pukul 16.25 WIB saat gerimis mulai turun.
Mengenakan stelan jas warna hitam dan berdasi abu-abu Obama turun dari Air Force One—pesawat resmi kepresidenan AS—didampingi sang istri, Michele yang berpakaian serba merah, dan disambut oleh Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa dan Dubes Indonesia untuk Amerika Serikat Dino Pati Djalal.
Obama kemudian masuk ke dalam mobil menuju Istana Merdeka yang ditempuh dalam 25 menit. Presiden AS itu kemudian menerima penyambutan kenegaraan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Kekuatan baru
Dalam konferensi pers bersama dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Merdeka, Presiden AS Barack Obama menyebut Indonesia sebagai kekuatan baru, baik di kawasan maupun tingkat global. "Saya percaya bahwa Indonesia bukan hanya kekuatan regional yang sedang naik, tapi juga kekuatan global."
Menurut dia, pihaknya akan mempererat hubungan kerja sama ekonomi dengan Indonesia, termasuk perbankan.
"Sangat menyenangkan memiliki kerja sama dengan Indonesia. Indonesia adalah pasar kami. Kami menjadikan Indonesia fokus untuk melipatgandakan ekspor Amerika," katanya.
Obama menambahkan pemerintah Amerika Serikat telah berusaha melakukan kerja sama dengan dunia muslim termasuk Indonesia melalui berbagai pendekatan yang dilakukan dengan tulus.
Secara khusus, dia melihat Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar. Hal itu menjadi modal bagi Indonesia untuk berperan dalam menciptakan hubungan antara dunia muslim dengan nonmuslim.
Mengenai perang kurs, Obama menegaskan perang mata uang menjadi biang dari terjadi ketimpangan nilai perdagangan antar negara secara tidak adil sehingga harus mendapatkan penyelesaian secara adil.
Hal itu akan diskusikan pada KTT G-20 di Seoul, Korsel pekan ini. "Saya yakin akan ada langkah maju dan semua akan ada win-win solution untuk mencari jalan semua mendapat untung."
Obama juga menyinggung China yang selama ini diserang AS atas kebijakan negara itu yang mematok nilai tukar yuan. Akan tetapi, Presiden AS itu tidak menyebut secara langsung dan lebih meminta apa yang disebutnya sebagai tanggung semua pihak yang harus juga dilakukan China.
Dia juga bersyukur bisa berkunjung ke Indonesia. Kunjungan itu, katanya, adalah finalisasi kemitraan komprehensif antara kedua negara.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap kerja sama antara Indonesia dan Amerika Serikat bisa diperluas dan diperdalam. Dengan demikian, kedua negara akan semakin maju.
Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Bappenas Deddy Priatna menyatakan hubungan Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Amerika Serikat masih sebatas kemitraan sehingga belum sampai tahap kerja sama pembangunan proyek-proyek infrastruktur.
Saat ini, terangnya, kerja sama yang dijalin antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah AS adalah terkait bantuan hibah program Millennium Challenge Corporation (MCC) di mana Pemerintah AS menyediakan dana hibah sekitar US$700 juta-US$800 juta bagi Pemerintah Indonesia.
"Indonesia mengusulkan ke mereka program apa saja. Nah sekarang kita dalam rangka pengusulan proyek tersebut. Kita sudah membentuk timnya yang diketuai Pak Lukita [Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas]."
MCC merupakan program dari Pemerintah AS yang ditujukan untuk membantu negara berkembang dalam mengurangi kemiskinan melalui peningkatan pertumbuhan ekonomi secara berkesinambungan.
Namun, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa optimistis investasi Amerika Serikat ke Indonesia di sektor nonmigas akan menembus US$1 miliar atau ketiga terbesar.
Investasi Amerika Serikat ke Indonesia di luar minyak dan gas terus menunjukkan peningkatan yang pesat.
Apabila pada 2008 investasi AS sebesar US$ 157 juta, pada 2009 meningkat menjadi US$171 juta, dan terakhir hingga kuartal III/ 2010 ini sudah di atas US$ 871 juta.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan kedatangan Obama tidak konkret terhadap bisnis dan tidak akan banyak berimbas pada investasi dan perdagangan dari Amerika Serikat di Tanah Air.
Pasalnya, menurut dia, Pemerintah AS tidak memiliki pengaruh kuat dalam memengaruhi pebisnis di negara itu untuk melakukan investasi di Indonesia. Kondisi ini berbeda dengan China yang sebagian besar perusahaannya adalah BUMN sehingga peran pemerintah terhadap pertumbuhan investasi menjadi sangat besar.
“Jadi saya pesimistis dalam jangka pendek akan ada hasil positif dari kunjungannya terutama untuk investasi dan perdagangan. Saya tidak lihat itu. Mungkin jangka menengah dan jangka panjang, bisa ada realisasinya,” ujarnya.
Dia memperkirakan dampak kunjungan Obama terhadap peluang investasi mungkin baru akan terlihat pada 2 tahun mendatang, seiring dengan pemulihan ekonomi di negaranya.
Ekonom CIDES, Umar Juoro mengatakan kunjungan Obama kali ini memang belum membawa hasil yang konkret dan lebih berupa mewadahi kerja sama yang lebih besar.
“Sekalipun demikian, kunjungan Obama yang singkat ini menaikkan kepercayaan Indonesia di tingkat internasional yang memperkuat minat investasi ke Indonesia.”
Wakil Ketua Kadin Bidang UMKM Sandiaga Uno menggarisbawahi pernyataan Obama soal entrepreneurship. Dia berharap untuk ke depannya hubungan AS-RI bukan hanya dilandasi isu pertahanan, keamanan dan diplomatik, melainkan juga kewirausahaan, perdagangan dan investasi.
“Indonesia menjadi sangat menarik dan strategis sebagai penyeimbang China dan India, Indonesia tiba-tiba setara dalam posisi sebagai pasar potensi AS yang ingin menggandakan nilai eks-pornya. Saya kira kita harus am-bil kesempatan ini sebagai bentuk kesetaraan dalam hubungan kita dengan AS ke depan.”
Setelah dua kali ditunda, Presiden Amerika Serikat Barack Obama akhirnya mendarat di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta sore ini pukul 16.25 WIB saat gerimis mulai turun.
Mengenakan stelan jas warna hitam dan berdasi abu-abu Obama turun dari Air Force One—pesawat resmi kepresidenan AS—didampingi sang istri, Michele yang berpakaian serba merah, dan disambut oleh Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa dan Dubes Indonesia untuk Amerika Serikat Dino Pati Djalal.
Obama kemudian masuk ke dalam mobil menuju Istana Merdeka yang ditempuh dalam 25 menit. Presiden AS itu kemudian menerima penyambutan kenegaraan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Kekuatan baru
Dalam konferensi pers bersama dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Merdeka, Presiden AS Barack Obama menyebut Indonesia sebagai kekuatan baru, baik di kawasan maupun tingkat global. "Saya percaya bahwa Indonesia bukan hanya kekuatan regional yang sedang naik, tapi juga kekuatan global."
Menurut dia, pihaknya akan mempererat hubungan kerja sama ekonomi dengan Indonesia, termasuk perbankan.
"Sangat menyenangkan memiliki kerja sama dengan Indonesia. Indonesia adalah pasar kami. Kami menjadikan Indonesia fokus untuk melipatgandakan ekspor Amerika," katanya.
Obama menambahkan pemerintah Amerika Serikat telah berusaha melakukan kerja sama dengan dunia muslim termasuk Indonesia melalui berbagai pendekatan yang dilakukan dengan tulus.
Secara khusus, dia melihat Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar. Hal itu menjadi modal bagi Indonesia untuk berperan dalam menciptakan hubungan antara dunia muslim dengan nonmuslim.
Mengenai perang kurs, Obama menegaskan perang mata uang menjadi biang dari terjadi ketimpangan nilai perdagangan antar negara secara tidak adil sehingga harus mendapatkan penyelesaian secara adil.
Hal itu akan diskusikan pada KTT G-20 di Seoul, Korsel pekan ini. "Saya yakin akan ada langkah maju dan semua akan ada win-win solution untuk mencari jalan semua mendapat untung."
Obama juga menyinggung China yang selama ini diserang AS atas kebijakan negara itu yang mematok nilai tukar yuan. Akan tetapi, Presiden AS itu tidak menyebut secara langsung dan lebih meminta apa yang disebutnya sebagai tanggung semua pihak yang harus juga dilakukan China.
Dia juga bersyukur bisa berkunjung ke Indonesia. Kunjungan itu, katanya, adalah finalisasi kemitraan komprehensif antara kedua negara.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap kerja sama antara Indonesia dan Amerika Serikat bisa diperluas dan diperdalam. Dengan demikian, kedua negara akan semakin maju.
Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Bappenas Deddy Priatna menyatakan hubungan Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Amerika Serikat masih sebatas kemitraan sehingga belum sampai tahap kerja sama pembangunan proyek-proyek infrastruktur.
Saat ini, terangnya, kerja sama yang dijalin antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah AS adalah terkait bantuan hibah program Millennium Challenge Corporation (MCC) di mana Pemerintah AS menyediakan dana hibah sekitar US$700 juta-US$800 juta bagi Pemerintah Indonesia.
"Indonesia mengusulkan ke mereka program apa saja. Nah sekarang kita dalam rangka pengusulan proyek tersebut. Kita sudah membentuk timnya yang diketuai Pak Lukita [Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas]."
MCC merupakan program dari Pemerintah AS yang ditujukan untuk membantu negara berkembang dalam mengurangi kemiskinan melalui peningkatan pertumbuhan ekonomi secara berkesinambungan.
Namun, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa optimistis investasi Amerika Serikat ke Indonesia di sektor nonmigas akan menembus US$1 miliar atau ketiga terbesar.
Investasi Amerika Serikat ke Indonesia di luar minyak dan gas terus menunjukkan peningkatan yang pesat.
Apabila pada 2008 investasi AS sebesar US$ 157 juta, pada 2009 meningkat menjadi US$171 juta, dan terakhir hingga kuartal III/ 2010 ini sudah di atas US$ 871 juta.
0 komentar:
Post a Comment