Gunung Anak Krakatau Semburkan Gas Beracun

unung Anak Krakatau yang berstatus "waspada" atau level II dan sudah memasuki hampir sepekan ini, mengeluarkan gas beracun dan membahayakan masyarakat.
"Saat ini Gunung Anak Krakatau sudah mengeluarkan muntahan gas beracun, selain mengeluarkan material batu dari dalam perut gunung," kata Kepala Pos Pemantau GAK di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, Anton S Pambudi, Selasa.
Dia menjelaskan, gas beracun yang dikeluarkan dari dalam perut Gunung Anak Krakatau itu berdampak terhadap fungsi pencernaan. "Biasanya selain kepala pusing, warga yang menghirup gas itu akan mual, dan yang lebih membahayakan akan merenggut jiwa" katanya.
Hari Selasa kemarin, letusan Gunung Anak Krakatau cenderung fluktuatif. Berdasarkan pengamatan dari Selasa pukul 00.01 hingga 12.35 WIB jumlah letusan tercatat sebanyak 116 kali. Kemudian, gempa vulkanik dangkal sebanyak 45 kali, vulkanik dalam 32 kali, tremor 29 kali dan 35 kali hembusan.
Hal itu diutarakan petugas Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Hamdani, mengatakan, di Rajabasa, Selasa.
Sebelumnya, pada Senin pada waktu yang sama tercatat letusan sebanyak 121 kali, gempa vulkanik dalam mencapai 30 kali, gempa vulkanik dangkal 28 kali dan gempa tremor 31 kali serta hembusan 30 kali. "Ketinggian semburan abu dan debu vulkanik mencapai antara 600 sampai 1.000 meter," kata dia.
Dia menjelaskan, sementara ini warga masih aman dari semburan abu dan debu vulkanik tersebut karena jarak Gunung Anak Krakatau dengan penduduk sekitar 15 kilometer terutama penduduk yang ada di Pulau Sebesi.
Menurutnya, debu dan abu vulkanik tersebut mengarah ke selatan atau daerah sekitar Pantai Carita atau Anyer Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten.
Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan mengimbau warga tetap waspada peningkatan aktivitas Anak Krakatau.

0 komentar:

Post a Comment