Sambut Idul Adha, Harga Ternak Di Klaten Anjlok Akibat Abu Merapi

foto 
Harga hewan ternak milik warga Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, turun drastis akibat letusan Gunung Merapi. Masyarakat memilih tidak menjual ternaknya meski banyak pedagang hewan yang berminat membeli untuk kebutuhan kurban di Hari Raya Idul Adha.

Menurut seorang warga Dusun Kadirejo, Darto Suwito, pada hari biasa, harga sapi ukuran besar bisa mencapai Rp 10 juta tiap ekornya. "Harga tersebut naik menjelang Idul Adha," kata dia, Selasa (2/11). Menurutnya, menjelang Idul Adha harga sapi ukuran besar bisa mencapai Rp 12 juta per ekornya.

Dia mengatakan saat ini sudah banyak pedagang sapi dari berbagai daerah yang berminat membeli sapi dan kambing milik warga Kemalang. Selama ini, daerah yang berada di lereng Merapi itu dikenal sebagai daerah penghasil ternak. "Tapi para pedagang menawar dengan harga yang tidak masuk akal," kata Darto.

Dicontohkan, sapi ukuran besar rata-rata hanya ditawar seharga Rp 8 juta tiap ekornya. Menurut Darto, para pedagang beralasan kualitas sapi dari daerah tersebut turun lantaran pakannya terkena abu vulkanik. Dia menduga para pedagang sengaja mempermainkan harga karena mengetahui pengungsi sedang butuh uang untuk mencukupi kebutuhannya.

Darto mengakui, sebagian rumput yang berada di daerah tersebut memang terkontaminasi oleh abu vulkanik. Peternak terpaksa memilih membeli rumput bersih dari daerah lain. "Satu ikat rumput dibeli seharga Rp 8 ribu, hanya cukup untuk pakan satu ekor sapi tiap hari," kata Darto.

Hal senada diungkapkan Wurjiyem, warga Desa Sidorejo yang saat ini tinggal di pengungsian. "Warga memilih tidak menjual ternaknya," kata dia. Padahal, masa-masa menjelang Hari Raya Idul Adha sangat dinanti-nanti oleh warga Kemalang. Namun lantaran harga yang ditawarkan oleh pedagang lebih rendah dibanding hari biasa, peternak memilih untuk bertahan, tidak melepaskan ternaknya.

Menjelang Idul Adha, biasanya para penduduk membawa hewan ternaknya ke pasar hewan yang berada di daerah Prambanan dan Sunggingan. Namun lantaran sibuk mengungsi, mereka tidak sempat untuk menjual ternaknya ke pasar tersebut. Hal itu yang membuat banyak pedagang dan makelar hewan berdatangan ke daerah tersebut.

Menurut data Dinas Pertanian Klaten, kawasan Kemalang memang menjadi daerah penghasil hewan ternak, terutama sapi dan kambing. Masyarakat memilih menjadi peternak, lantaran tanah di daerah tersebut tidak begitu subur untuk bercocok tanam. Populasi sapi yang berada di kawasan rawan bencana tersebut mencapai 3 ribu ekor, sedangkan populasi kambing mencapai 6 ribu ekor.

Bupati Klaten Sunarna justru menyalahkan masyarakat yang enggan membawa ternaknya di posko pengungsian. "Kami telah menyediakan posko ternak sekaligus pakannya," kata dia. Dia yakin, ternak tersebut lebih aman jika berada jauh dari puncak Merapi.

0 komentar:

Post a Comment