Hargai Cabai Melonjak, Petani Gagal Panen

KLATEN - Tingginya harga cabai atau lombok, tak bisa dinikmati para petani di Kecamatan Pedan dan Trucuk. Ratusan hektare tanaman cabai besar di empat desa di Kecamatan Pedan, yakni Desa Troketon, Kaligawe, Lemah Ireng, dan Kalangan, gagal panen. Tanaman cabai di lahan pertanian yang lebih dikenal dengan nama Ngalas Lemah Ireng itu rusak diserang hama patek dan liyer (layu).
Kondisi itu memperpanjang keterpurukan para petani di daerah tersebut. Sebab pada musim tanam sebelumnya juga terjadi gagal panen tembakau. Saat ini, para petani di sana hanya bisa ngopeni cabai yang tersisa dimakan patek, sambil mempersiapkan lahan untuk kemudian akan ditanami kacang panjang dan pare.
Salah seorang petani cabai di lahan Desa Troketon Sugiyanto, 53, mengatakan, mestinya saat ini dia bisa mengeruk keuntungan besar dari tanaman cabainya, karena harga cabai sedang tinggi-tingginya. ’’Mestinya kami bisa membawa pulang uang yang banyak karena harga capai saat ini sangat tinggi,’’ katanya di sela-sela metani tanaman lomboknya yang diserang patek.
Angan-angan Sugiyanto memang kandas, lantaran sebagian besar tanaman lomboknya layu menjelang panen. Selain itu, buah lombok yang sudah mulai memerah juga berjamur di tengahnya karena diserang hama pathek tersebut.
’’Wis Mas, ini memperpanjang keterpurukan kami. Karena sebelumnya kami juga gagal penan tembakau,’’ tandasnya.
Menurutnya, tanaman cabainya dimakan hama patek dan liyer akibat cuaca yang tidak menentu, dan tingginya curah hujan. ’’Berbagai upaya sudah kami lakukan untuk menolong tanaman lombok ini, misalnya kami carikan obat untuk membunuh hama patek tapi tidak berhasil. Jadi bisa diibaratkan adol sapi nggowo mulih lemut Mas (ibarat jual sapi, tapi yang dibawa pulang nyamuk,” ujarnya.
Untuk mengurangi kerugian, Sugiyanto bersama istri dan kedua anaknya memetiki lombok-lombok yang tersisa dari lahan seluas seperempat bahu atau empat patok miliknya. Lombok-lombok yang sudah dipetik tersebut, kemudian dipilah-pilah. Lombok yang dimakan pathek dipisah. “Untuk tombo cele, kami petiki yang bisa kami jual. Hasilnya juga tak seberapa,” sahut istri Sugiyanto.
Jika dibandingkan dengan situasi normal, panenan yang bisa dibawa pulang tak sampai lima persennya. Yang membuat para petani menangis, saat ini harga lombok sedang tinggi-tingginya. Satu kilogramnya diharga antara Rp 30 ribu hingga 35 ribu (ambil di tempat).
Lebih parah lagi dialami petani cabai yang lain, Parti dan Sumino, Petani di Desa Troketon. Menurutnya, tanaman lombok mereka sudah gering atau tak bisa tumbuh baik sejak saat ditanam. ’’Dari awal, tanaman lombok tidak mau tumbuh baik karena akarnya dimakan uret,’’ kata Sumino.
Menurutnya, akar tanaman lombok dimakan uret karena lahannya selalu basah. ’’Kami memerkirakan akibat curah hujan yang tinggi, sehingga akar-akarnya selalu basah dan beruret itu,’’ tandas Sumino.
Jika Sugiyanto maih bisa membawa pulang meski hanya sedikit, tidak demikian dengan petani muda tiga anak ini. ’’Tidak ada sedikitpun yang bisa kami bawa pulang. Lombok lanas semua, bahkan jika kita cabut, tanaman lombok itu seperti lidi yang ditancapkan, tidak ada akar lagi,’’ jelas Sumino pasrah.
Demikian pula Parti. Petani yang memiliki dua lahan di Desa Troketon dan Kali Gawe ini juga hanya bisa meratapi tanaman lomboknya yang kunting (tak bisa tumbuh). ’’Gagal panen Mas. Tidak tahu, ini nanti ada yang bisa dibawa pulang atau tidak. Karena lomboknya dimakan patek. Dimakan jamur di bagian tengahnya,’’ kata Parti dengan mimik sedih.
Bukan hanya di Pedan, para petani cabai di Kecamatan Trucuk juga mengalami nasib yang sama. Hadi Prayitno, petani asal Desa Sumber, Trucuk mengatakan, tanaman lomboknya yang diuri-uri sejak lebih dari dua bulan lalu, tidak membuahkan hasil yang maksimal. ’’Diserang pathek Mas. Ini kami pilah-pilah, ya sedikit-sedikit kami upayakan untuk dipetik,’’ kata Hadi.
Menurutnya, cabai yang bisa dia bawa pulang, dipisah dua. Yang terkena patek dipisahan. Menurutnya, yang diserang patek jika dijual ke pasar dihargai Rp 10 ribu hingga Rp 12 ribu per kilogram, sedangkan yang utuh dihargai Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu per kilogram. ’’Ya untuk tombo kecele Mas,’’ lanjut petani berbadan gemuk ini.

0 komentar:

Post a Comment