Sepakbola , Politik, dan Alat Kekuasaan.
AP PHOTO
Pemain Italia memberikan salam fasis sebelum dimulainya laga final Piala Dunia 1938 melawan Hongaria di Stadion Colombes, Paris, Perancis. Kala itu Italia dikuasai oleh pemimpin fasis Benito Mussolini.
Tidak hanya pada masa kini, yang contohnya banyak kita lihat di negeri ini, kekuatan sepak bola telah dipakai untuk mempertahankan rezim oleh nama-nama besar di beberapa negara.
Di Italia, berkuasanya Benito Mussolini pada masa keemasan tim Italia dengan dua kali menjadi juara dunia, tahun 1934 dan 1938, bukan suatu kebetulan. Mussolini memang sangat gila olahraga, terutama sepak bola. Tentu saja karena punya tujuan tertentu, yaitu menjadikan sepak bola sebagai alat propaganda.
Mussolini membuat liga domestik yang merupakan simbol persatuan dan menerapkan fasisme di setiap klub olahraga.
Saat timnas Italia bertanding di kandang, Mussolini suka membuat sesuatu yang dramatis saat memasuki pintu masuk stadion, yaitu dengan menunggangi kuda putih. Sebaliknya, ketika Italia melakukan pertandingan tandang, dia menginstruksikan atlet melakukan hormat ala fasis meski sikap ini selalu diprotes di negara yang dikunjungi.
Di Jerman, Adolf Hitler juga menjadikan sepak bola untuk menguatkan kekuasaan. Tahun 1935, Hitler memberi subsidi kepada 10.000 fans agar bisa melakukan perjalanan ke Inggris guna mendukung tim nasional Jerman, untuk tujuan propaganda.
Meski sangat mendukung tim nasional negaranya, Hitler sangat jarang menyaksikan langsung pertandingan di lapangan. Satu-satunya partai Jerman yang disaksikan langsung oleh Hitler adalah ketika tim Panser bermain melawan Norwegia saat Olimpiade Berlin 1936. Saat itu Jerman kalah 0-2.
Ketika terjadi gol kedua, Hitler tengah bersiap-siap meninggalkan stadion. Menurut orang kepercayaan Hitler, Joseph Goebbels, bosnya itu sangat gelisah ketika Jerman tertinggal.
Pandangan sepak bola bisa menjadi alat mempertahankan kekuasaan, bahkan membuat Jenderal Francisco Franco ikut mengurusi masalah teknik tim Spanyol. Namun, diktator yang berkuasa tahun 1939 hingga meninggal pada tahun 1975 ini dibuat frustrasi oleh penampilan buruk tim Spanyol.
Surat kabar yang terbit pada masa itu, Marca, menyebutkan, pemain-pemain Spanyol tidak punya komitmen terhadap tim. Mereka juga dinilai tidak bermain dengan gaya Spanyol yang penuh hasrat, menyerang, dan dipenuhi kemarahan.
Di Argentina, olahraga dipakai untuk menebar kekuasaan oleh junta militer. Hal ini terutama sangat terlihat saat Argentina menjadi tuan rumah Piala Dunia tahun 1978.
Junta militer Argentina menarik perhatian rakyat, di antaranya dengan menguasai sekolah dan rumah sakit hingga menghapuskan kredit yang berjumlah hingga jutaan dollar. Usaha-usaha itu membuahkan hasil. Saat Argentina juara, jalanan dibanjiri orang yang mengelu-elukan para jenderal yang berdiri di balkon istana presiden.
Saddam Hussein
Di kawasan Timur Tengah, Saddam Hussein sebenarnya bukan penggemar berat sepak bola. Namun, tokoh yang memimpin Irak tahun 1979-2003 ini tahu betul bagaimana berstrategi memperkuat kekuasaan melalui olahraga.
Melalui putranya, Uday Hussein, yang menjadi Ketua Komite Olimpiade Nasional Irak, pemerintah tak segan-segan menerapkan kekuasaan tangan besi kepada para atlet. Di dalam kantor komite olimpiade tersebut bahkan terdapat 30 sel penjara untuk menghukum atlet yang berpenampilan buruk.
Tak hanya itu, siksaan fisik juga diterima para atlet jika tampil tak sesuai dengan harapan. ”Anda bisa melihat kebrutalan di sana. Uday menganggap semuanya ini sesuai aturan,” kata mantan pemain voli Issam Thamer al-Diwan saat diwawancara ESPN tahun 2002.
Dalam perhelatan Piala Dunia, Irak pernah lolos ke putaran final 1986 di Meksiko saat Saddam berkuasa. Namun, ketika gagal lolos ke Amerika Serikat tahun 1994, semua anggota tim dihukum menendang bola hingga tulang kaki mereka remuk.
Di negara lain, rezim yang menjalankan pemerintahan juga memperlakukan olahraga, khususnya sepak bola, seperti Mussolini atau Hitler. Penguasa Romania, Nicolae Ceausescu, memberangkatkan putranya, Valentin, ke Sevilla, Spanyol, untuk memberi semangat kepada Steaua Bucharest saat di final Liga Champions 1986. Bucharest pun juara setelah mengalahkan Barcelona.
Kepala polisi di bawah kekuasaan Stalin, Lavrenti Beria, sangat fanatik terhadap klub sepak bola Dinamo Moskwa. Ia bahkan sempat membuat rival Dinamo Moskwa dikirim ke Siberia.
Sepak bola, dengan sihirnya yang bisa menarik perhatian massa, memang menjadi alat efektif untuk berkuasa.
0 komentar:
Post a Comment